Tanamkan Nilai

 0
Tanamkan Nilaiby Hanif Seon.Tanamkan Nilai “Abdullah bin Abbas berkata, suatu ketika saya berada dibelakang Rasulullah Saw lalu beliau berkata kepadaku: wahai anakku, aku akan mengajarimu beberapa pelajaran; jagalah Allah maka Allah juga akan menjagamu, jagalah Allah maka kamu akan mendapati-Nya disisimu, apabila engkau memohon maka mohonlah kepada Alla… (HR. Tirmidzi) Mukaddimah Abdullah bin Abbas adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah […]

 “Abdullah bin Abbas berkata, suatu ketika saya berada dibelakang Rasulullah Saw lalu beliau berkata kepadaku: wahai anakku, aku akan mengajarimu beberapa pelajaran; jagalah Allah maka Allah juga akan menjagamu, jagalah Allah maka kamu akan mendapati-Nya disisimu, apabila engkau memohon maka mohonlah kepada Alla… (HR. Tirmidzi)
Mukaddimah
Abdullah bin Abbas adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah Saw. Ketika beliau memasuki usia tamyiz, sekitar 6 hingga 7 tahun, dia tinggal di rumah Rasulullah. Hubungan antara keduanya seperti adik dan kakak yang saling mengasihi. Dia menyediakan air wudhu untuk Nabi SAW. Tak jarang, anak itu ikut sholat di belakang Rasulullah. Jika Rasul bepergian, dia berada di belakang.Ketika Rasulullah SAW wafat, dia baru berumur 13 tahun. Di usia ambang remaja, dia sudah menunjukkan kelebihan dengan kemampuan menghafal 1.660 hadist yang diterimanya langsung dari Nabi SAW.
Ibnu Abbas, demikian sapaan akrabnya, mengisahkan peristiwa yang selalu membekas dalam benaknya ketika bersama Nabi SAW. “Pada suatu ketika Rasulullah SAW hendak sholat, memberi isyarat kepadaku supaya berdiri di sampingnya, tapi, aku berdiri di belakang Beliau. Setelah selesai sholat, beliau menoleh kepadaku seraya bertanya, “Mengapa engkau tidak berdiri disampingku ?”. Ibnu Abbas menjawab, “Anda sangat tinggi dalam pandanganku dan sangat mulia untukku, bagaimana aku berdiri di samping Anda.” Maka Rasulullah menadahkan tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, berilah dia hikmah.” Allah memperkenankan doa Rasulullah tersebut. Dia memberi cucu Hasyim tersebut hikmah, melebihi hikmah para ahli hikmah yang besar.
Senantiasa memberi nilai
Rasulullah Saw adalah sosok guru yang selalu memanfaatkan waktu untuk memberi nilai (hikmah) kepada sahabat-sahabatnya. Bila ada yang harus beliau sampaikan maka beliau tidak akan menundanya walau ditengah malam. Salah satu kaidah fiqhiyah mengatakan ‘adamu ta’khiiril bayaan ‘indal haajah (nilai itu tidak boleh ditunda bila sudah harus disampaikan).
Hal inilah yang terlihat saat Ibnu Abbas bermalam dirumah beliau. Setelah melaksanakan sholat malam, Rasulullah Saw menggunakan waktu yang ada untuk memberi hikmah (nilai) kepada Ibnu Abbas. Ajaran inilah yang membekas dalam diri Ibnu Abbas dan dikenangnya sepanjang hayat.
Mengajarkan nilai kepada anak tidak harus dalam suasana serius sebagaimana asumsi orang-orang terdahulu. Sang anak duduk didepan orang tua, lalu terdengarlah untaian nasihat dari orang tua. Cara seperti ini bukan harus ditinggalkan, tapi orang tua harus kreatif dalam mengolah suasana agar nilai tetap tersampaikan meski hanya sedikit dan ringan. Makanya beberapa sahabat terdahulu tidak ingin berpanjang lebar dalam memberikan nasihat sebab khawatir akan muncul rasa bosan bagi pendengarnya.
Keteladanan
Salah satu sebab tajamnya loyalitas dan kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah Saw adalah akhlak beliau yang dipandang agung. Keteladanan moral yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad telah menjadi panduan hidup para sahabat yang pengaruhnya melebihi dari sekedar kata-kata.
Saat ini, banyak orang tua yang meremehkan peran keteladanan bagi anak-anak mereka. Dengan asumsi bahwa anak hanya membutuhkan buaian harta maka tidak sedikit orang tua yang royal memenuhi permintaan materi sang anak namun kikir dalam pendidikan moral.
Doa, doa dan doa
Salah satu kebiasaan para sahabat saat memiliki seorang bayi adalah membawanya kehadapan Rasulullah untuk didoakan. Mereka yakin bahwa doa orang yang memiliki keikhlasan dan iman yang tinggi akan berpengaruh terhadap karakter dan kehidupan sang bayi. 
 Doa orang tua –tidak diragukan lagi- sangatlah berperan dalam pembentukan karakter sang anak. Keikhlasan hati dan besarnya cinta orang tua, sanggup untuk mengundang ridha Allah untuk menuntun dan mencurahkan hidayah-Nya kedalam jiwa anak. olehnya itu, seyogyanya orang tua cerdas menangkap waktu dan tempat yang mustajabah agar doa untuk sang anak dapat dijawab secara cepat oleh Allah Swt. Allahu a’lam bis shawab.** Nasfi Arsyad, LC (Departemen Pendidikan yayasan pondok pesantren Hidayatullah Depok)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply