TERMASUK MANUSIA YANG MANAKAH KITA?

 0
TERMASUK MANUSIA YANG MANAKAH KITA?by Abu Ilmiaon.TERMASUK MANUSIA YANG MANAKAH KITA?James H. West, seorang pakar kesehatan mengatakan, “Kesehatan adalah kata yang besar. Ini mencakup tidak hanya tubuh, tetapi juga pikiran dan jiwa. Bukan sekedar tidak sakit hari ini atau kesenangan saja, tetapi seluruh keberadaan dan pandangan manusia”. Maka tidak salah, jika fitrah setiap orang pasti mengharapkan hidup dalam umur yang panjang dan selalu dalam keadaan […]
Bahagia atau sedih adalah wujud cara pandang seseorang menyikapi kehidupan

Bahagia atau sedih adalah wujud cara pandang seseorang menyikapi kehidupan. Semua kembali pada kualitas iman masing-masing

James H. West, seorang pakar kesehatan mengatakan, “Kesehatan adalah kata yang besar. Ini mencakup tidak hanya tubuh, tetapi juga pikiran dan jiwa. Bukan sekedar tidak sakit hari ini atau kesenangan saja, tetapi seluruh keberadaan dan pandangan manusia”.

Maka tidak salah, jika fitrah setiap orang pasti mengharapkan hidup dalam umur yang panjang dan selalu dalam keadaan sehat. Tetapi, seiring berjalannya waktu, pasti setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti merasakan sakit.

Tidak satu pun makhluk hidup di dunia ini yang tidak pernah merasakan sakit baik itu hewan, tumbuhan maupun manusia. Minimal sekali seumur hidup di saat ia menjelang merasakan kematian.

Rambut sama hitam, tapi hati lain-lain! Begitulah peribahasa yang dapat menggambarkan beragam cara orang dalam berfikir dan menyikapi setiap kesakitan yang ia rasakan. Ada yang sangat pasrah dan menyerah, ada yang sangat bersemangat untuk kembali sehat, dan tidak jarang pula yang mengeluarkan sumpah serapah ketika sakit menggerogoti tubuhnya yang sebelumnya sehat-sehat saja.

Nah, kali ini penulis akan mencoba menggambarkan karakter manusia dalam menyikapi sakit yang dialaminya. Secara umum, ada tiga tipe manusia dalam menyikapi sakitnya, yaitu sebagai berikut :

Si Pemaki

Tipe manusia pertama yang dimaksud penulis adalah orang yang selalu tidak menerima sakit yang menimpa kepada dirinya. Sakit merupakan hal yang paling menyebalkan dalam hidup yang tidak semestinya ia rasakan.

Orang yang seperti ini akan terus mencari kambing hitam yang menyebabkan tubuh sehat kesayangannya menjadi sakit dan tidak nyaman sebagaimana seharusnya. Semua pihak masuk dalam black list-nya dan harus bertanggung jawab di atas rasa kehilangan nikmat terbesar dalam hidup, sehat.

Mulai dari isteri yang memasak makanan, pembantu yang bertanggung jawab atas kebersihan rumah dan lingkungan, tekanan dari tempat kerja atau sekolah, sampai Tuhan pun kadang tidak lepas dari makiannya karena baginya Tuhan merupakan salah satu “oknum” yang masuk dalam pihak yang salah. Alasannya menyalahkan Tuhan juga sangat sederhana, “Tuhan tidak adil”. Ironinya, dirinya berada di urutan paling bawah dalam black list tersebut bahkan adakalanya namanya tidak tercantum sama sekali.

Sikap seperti ini terjadi dalam diri manusia karena dia lupa diri bahwa memang manusia adalah makhluk yang lemah. Sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Swt dalam Al Qur’an bahwa manusia memiliki sifat lemah (QS. An Nisa : 28). Di samping itu, ia juga lupa bahwa Allah Swt memang telah menciptakan sakit sebagai bagian dari takdir buruk yang harus diterima oleh manusia.

Kesombongan dan keegoannya yang melihat sakit sebagai suatu aib menyebabkan dirinya selalu merasa benar dan sebaliknya menyalahkan orang lain di atas musibah yang menimpa dirinya. Karena semua sebab di atas, orang yang biasanya merasa menyerah dan putus asa terhadap sakit yang ia alami adalah orang-orang yang tergolong dalam tipe Si Pemaki ini.

Si Ridho

“Si Ridho” yang dimaksud di sini bukanlah penyanyi dangdut muda Ridho Rhoma. Melainkan orang yang ridho terhadap sakit yang sedang ia alami. Ia sadar secara sepenuhnya bahwa sakit adalah bahagian dari takdir buruk yang harus ia terima.

Menurut orang yang masuk dalam tipe kedua ini, sakit merupakan bagian dari ujian Allah Swt terhadap hamba-Nya. Maka, ia akan selalu berusaha untuk menerima keadaan perih itu dengan lapang dada dan terus berusaha untuk menghadapi ujian Dari Allah Swt dengan sikap optimisme yang tinggi.

Sikap ini dapat diambil oleh manusia (khususnya umat Islam) yang benar-benar mengimani rukun iman yang kelima, beriman kepada qada dan qadar dari Allah Swt. Hanya orang-orang terpilihlah yang mampu melakukan hal demikian.

Mereka adalah orang-orang yang tergolong dalam kelompok orang-orang-orang yang beriman sebagaimana kisah dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, “Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu.

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka.” (Shohih. Lihat Silsilah Ash Shohihah no. 2439).

Mereka juga adalah orang-orang yang sangat yakin terhadap firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 286 :

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah : 286)

Atas dasar keimanan itu pulalah, Si Ridho sangat mengerti bahwa rasa sakit yang dialami merupakan ujian dari Allah Swt yang harus ia jalani dan sebisa mungkin untuk “lulus” darinya. Predikat “lulus” itu pun dinilai dari sebesar apa usahanya dalam mencari solusi untuk sembuh penyakit yang ia alami.

Si Abdan Syakuron

Kalau kita membaca penjelasan tentang tipe Si Ridho di atas, pasti kita merasa kagum akan keteguhannya dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah Swt berupa sakit. Akan tetapi, ternyata masih ada satu tipe manusia yang lebih tinggi tingkat keimanannya dibandingkan tipe kedua itu. Siapakah dia?

Dia adalah Si Abdan Syakuran. Si abdan Syakuran atau dalam Bahasa Indonesianya, Si Hamba yang Bersyukur. Sakit kok bersyukur? Bukankah yang patut disyukuri itu adalah nikmat? Kalau begitu sakit itu tergolong nikmat versi tipe manusia ketiga ini?

Padahal kita sama-sama mengetahui, nikmat adalah sesuatu yang menyenangkan yang dianugerahkan oleh Allah Azza Wa Jalla kepada hambanya. Sedangkan sakit adalah sebuah keadaan yang sangat tidak menyenangkan, tidak menyamankan dan sangat memerihkan baik secara fisik maupun batin.

Justru itulah yang menjadi keunikan sekaligus keunggulan Si Abdan Syakuran terhadap Si Ridho. Sikap ini ia ambil berdasarkan sebuah hadits Rasulullah Saw  yang artinya:

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

Dia bersyukur karena sangat meyakini tidak satu pun kepedihan yang ia rasakan melainkan adalah penghapus atas dosa-dosa yang telah ia kerjakan. Bukankah sebuah nikmat yang tidak terhitung nilainya ketika Allah Swt menghapus dosa-dosa yang pernah kita kerjakan?

Selain itu, ia juga semakin merasakan betapa besar kasih sayang Allah selama ini terhadapnya. Rasa sakit yang dialami ketika ini, tidak sebesar dan selama keadaan sehat yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya. Dan, sudah seharusnya ia wajib mensyukurinya.

Jika dibuatkan rasio masa sehat terhadap masa sakit yang ia hadapi, pasti lebih banyak masa sehat yang telah dilaluinya. Sebagaimana contoh yang pernah ditunjukkan oleh Nabiyullah Ayyub AS ketika mengahadapi rasa pesimis isterinya dalam mengahadapi rasa sakit dan kesusahan yang diujikan oleh Allah kepada keluarganya. Nabi Ayyub AS dengan tenang hanya menjawab dengan berkata, “Aku malu jika aku meminta kepada Allah SWT agar menghapuskan penderitaanku ketika aku melihat masa kebahagiaanku yang lebih lama”.

Alasan lain yang membuat Si Abdan Syakuran bersyukur di atas rasa sakit yang dialaminya adalah ia masih sangat beruntung karena rasa sakit itu biasanya bersifat tentatif (sewaktu-waktu); tidak permanen. Sehingga ada waktu di mana ia tetap bisa merasakan kenyamanan hidup.

Tetapi bagaimana dengan nasib yang dialami mereka yang mengalami rasa sakit yang permanen. Katakanlah orang terlahir buta yang tidak bisa melihat sejak ia masih bayi sehingga merenggang nyawa? Sungguh renungan ini membuat rasa kesyukurannya semakin mantap.

Allah Swt tidak akan pernah menciptakan sesuatu di dunia ini sia-sia (QS. Ali Imron (3) : 191) melainkan ia pasti ada tujuan dan manfaatnya.

Ketiga tipe di atas sudah menunjukkan bagaimana manusia menunjukkan sikap mereka dalam menananggapi salah satu ciptaan Allah, yaitu sehat yang tidak mungkin wujud secara kebetulan melainkan di atas sekenario (by design) Allah Swt.

Pertanyaannya adalah di posisi manakah kita berada? Apakah kita adalah Si Pemaki, Si Ridho atau Si Abdan Syakuran? Tepuk dada, tanya selera!* Mazlis B Mustafa Mahasiswa semester akhir STIE Hidayatullah Depok.

(Catatan: * peribahasa Melayu yang maknanya intropeksi dirilah!)

Related Posts

Leave a Reply