Benarkah Kemenangan Mulia itu Telah Kita Raih?

 0
Benarkah Kemenangan Mulia itu Telah Kita Raih?by Abu Ilmiaon.Benarkah Kemenangan Mulia itu Telah Kita Raih?Tidak terasa Syawal telah memasuki pertengahan bulan. Setelah merayakan hari kemenangan, hari-hari kita kembali disibukkan dengan aktivitas rutin -bekerja, mengajar, belajar dan sebagainya-. Lalu, pertanyaannya adalah hari kemenangan yang telah kita rayakan kemarin adalah benar-benar milik kita? Dengan kata lain apakah benar kita ini pemenang Ramadhan atau hanya sekedar menumpang bahagia di atas kemenangan orang […]

id 1Tidak terasa Syawal telah memasuki pertengahan bulan. Setelah merayakan hari kemenangan, hari-hari kita kembali disibukkan dengan aktivitas rutin -bekerja, mengajar, belajar dan sebagainya-. Lalu, pertanyaannya adalah hari kemenangan yang telah kita rayakan kemarin adalah benar-benar milik kita? Dengan kata lain apakah benar kita ini pemenang Ramadhan atau hanya sekedar menumpang bahagia di atas kemenangan orang lain?

Tentu pelbagai rasa yang kita rasakan setelah merayakan hari kemenangan. Pasti rasa bahagia telah menyelimuti diri setiap muslim yang merayakan Hari Raya Idul Fitri apalagi ditambah suasana ramah silutarrahmi sesama sanak saudara dan handai taulan. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada kesedihan yang mengikuti rasa kebahagiaan itu. Mengapa demikian?

Ya, karena semakin sirna pula indahnya suasana Ramadhan di tengah kehidupan kita yang gegap gempita. Kesedihan ini semata-mata bukan karena tidak ada lagi sahur bersama, buka puasa bersama secara gratis atau suasana sholat tarawih yang memang adanya hanya di Bulan Ramadhan. Tetapi, dikarenakan berakhirnya bulan Ramadhan berakhir pula ibadah kebanyakan saudara-saudara kita.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar umat Islam masih ada yang ibadahnya berawal dan berakhir seiring bulan Ramadhan. Di saat bulan Ramadhan ia ikut berpuasa, mendirikan sholat bahkan mendatangi masjid-masjid terdekat hanya untuk menghidupkan sholat berjamaah di rumah Allah. Kemudian tidak habis di situ, masih ada ibadah lain yang ia lakukan di samping kedua ibadah tersebut katakan saja bersedekah dan  membaca Al Qur’an. Bahkan, khusus untuk ibadah yang terakhir disebutkan ia mampu mengkhatamkannya selama bulan puasa. Namun, sayang seribu sayang semua itu berakhir sampai di tanggal 29 atau 30 Ramadhan. Selebihnya? Wallahu ‘allam bi ash showab.

Seorang pemenang Ramadhan adalah orang yang mampu menghidupkan amal ibadah ramadhannya di bulan-bulan yang lain. Lebih hebat lagi, kalau ia mampu meningkatkan ibadahnya daripada kebiasaannya sebelum Ramadhan. Pemenang Ramadhan sangat mampu melakukannya karena esensi dari ibadah Ramadhan mampu ia rengkuh yakni ketakwaan kepada Allah Swt dengan sebenar-benar takwa.

Ibadah seperti puasa sebulan penuh, sholat tarawih dan berzakat fitrah tentulah tidak dapat dilakukan di luar bulan Ramadhan bahkan melakukannya di luar bulan Ramadhan merupakan bid’ah (perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw). Tetapi, dari tiga ibadah itu ada ibadah lain yang dapat kita lakukan selama 11 bulan di luar bulan Ramadhan sebagai implementasi ketakwaan dan kemenangan yang didapatkan dari ibadah Ramadhan.

Semangat ibadah puasa Ramadhan dapat kita lanjutkan di luar bulan Ramadhan dengan melaksanakan puasa sunah seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw, seperti puasa 6 hari di bulan syawal. Sungguh puasa Syawal ini mengandung fadilah yang sangat besar sebagaimana sabda Rasulullah Saw dari Abu Ayyub Al Anshary bahwa Rasulullah Saw bersabda : “barangsiapa yang telah berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian diikutinya dengan berpuasa enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa setahun lamanya” (hadits riwayat Muslim). Selain itu ada juga puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan (Hijriyah), atau puasa Daud dan puasa sunnah lainnya.

Kalau pada bulan Ramadhan semangat melaksanakan Tarawih berjamaah di masjid sangat menggebu-gebu, maka semangat itu masih tetap bisa dilanjutkan dengan sholat fardhu berjamaah di masjid. Terkhusus bagi laki-laki Muslim, melaksanakan sholat berjamaah di masjid merupakan fardhu ‘ain (menurut mazhab Syafi’i). Saking pentingnya sholat berjamaah di masjid, sampai-sampai suatu saat Rasulullah Saw ingin membakar rumah seorang muslim yang tidak ikut sholat berjamaah di masjid (Muttafaq alaihi). Pertanyaannya kemudian, apakah rumah kita sudah termasuk rumah yang aman dari kayu bakar Rasulullah tadi?

Di bulan Ramadhan pula, tidak asing kita mendapatkan fenomena orang yang menjadi dermawan dadakan. Tanpa berburuk sangka bahwa mereka bukanlah orang yang tidak mau dan tidak pernah bersedekah/berinfaq di luar bulan Ramadhan, tetapi mungkin karena porsi dan frekuensi sedekahnya yang bertambah besar. Sayang sekali jika ibadah yang satu ini juga berakhir di ujung bulan Ramadhan. Masih banyak orang atau lembaga yang dapat dibantu dengan kemurahan hati kita seperti orang yang kehidupannya kurang mampu, masjid, panti asuhan, panti jompo atau yayasan sosial lainnya. Begitu pula dengan ibadah lainnya yang tidak dapat penulis uraikan satu per satu, seperti membaca Al Qur’an secara berulang-ulang, menghadiri kajian keilmuan/keagamaan dan sebagainya.

Akhir kata marilah bersama-sama kita terus memperkuat dan meningkatkan ibadah kita sebagai wujud nilai keimanan dan ketakwaan yang didapatkan selama berada dalam pendidikan Ramadhan. Buah dari Ramadhan adalah lahirnya sosok seorang muslim yang bertakwa dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Semoga semua amal ibadah Ramadhan yang telah kita lakukan benar-benar karena keimanan dan ketakwaan sehingga diterima oleh Allah Swt. Dan bukan ibadah yang hanya berlaku setahun sekali karena mengikuti semaraknya suasana bulan Ramadhan semata. Mari kita bermuhasabah, apakah kita adalah pemenang Ramadhan? Tepuk dada, tanya selera! Wallahu ‘allam bi ash showab.

Camera 360

Mazlis Mustafa/ Presiden BEM STIE Hidayatullah 2012

Related Posts

Leave a Reply