Menimbang Kembali Karya Penulis Cilik

 0
Menimbang Kembali Karya Penulis Cilikby Abu Ilmiaon.Menimbang Kembali Karya Penulis CilikOleh: M. Fauzil Adhim* Banyak karya penulis cilik justru mengajarkan berpikir licik dan meruntuhkan adab terhadap guru. Ini buruk bagi kepribadian anak. Memeriksa beberapa karya anak-anak, sedih mendapati banyak berbangga-bangga dengan snobisme, konsumtif dan tana’um. Snobisme secara sederhana adalah sok luar negeri; hebat itu jika barang dibeli dari luar negeri, bisa jalan keluar negeri, dan […]

Oleh: M. Fauzil Adhim*

faBanyak karya penulis cilik justru mengajarkan berpikir licik dan meruntuhkan adab terhadap guru. Ini buruk bagi kepribadian anak. Memeriksa beberapa karya anak-anak, sedih mendapati banyak berbangga-bangga dengan snobisme, konsumtif dan tana’um. Snobisme secara sederhana adalah sok luar negeri; hebat itu jika barang dibeli dari luar negeri, bisa jalan keluar negeri, dan seterusnya. Tana’um merupakan lawan kata dari zuhud. Tana’um merupakan sikap yang berorientasi bernikmat-nikmat, bermewah-mewah, foya-foya, konsumtif, hedon dan yang semakna dengan itu.

Mempelajari beberapa karya penulis cilik, jadi sedih betapa banyak penulis yang justru menularkan inferiority complex (kompleks rendah diri) yang serius… Diam-diam bertanya, apakah anak-anak memang sudah saatnya produktif lahirkan karya untuk diindustrialisasikan? Ataukah masa menata pribadi? Betapa banyak karya yang pesan sesungguhnya sangat buruk, meskipun akhir cerita menyesal. Model cerita semacam ini tidak menginspirasi orang untuk menyesali, tapi sebaliknya, mendorong untuk melakukan. Jika dalam hidup ini yang paling penting adalah akhirnya, maka dalam cerita justru alur dan proses jalinan cerita itu secara keseluruhan. Akhir cerita tidak menggambarkan taubatan nashuhah; penyesalan yang total dan nyata.

Semoga Allah Ta’ala ampuni saya yang telah lalai membiarkan di antara anak saya membaca banyak buku karya penulis cilik tanpa check isinya. Ada beberapa sikap yang menurut saya tidak patut, tapi susah dirunut darimana anak menyerap. Setelah periksa karya para penulis cilik itu baru nyambung bahwa memang tidak sepantasnya menjadikan anak-anak yang masih belum matang sebagai murabbi/syaikh/guru bagi anak, meski hanya lewat tulisan. Apalagi ketika anak-anak itu pun telah rusak parah orientasinya. Hanya uang impiannya, plus dipacu orangtua.

Ternyata karya penulis cilik pun (apalagi remaja) harus kita periksa dengan seksama, bahkan harus lebih seksama, sebelum dibaca anak. Kita perlu baca ekstra cermat agar kalau memutuskan buku itu boleh dibaca anak, kita dapat siapkan diri untuk berdialog terarah dengan anak.

Sebagai ikhtiar, di antara anak saya ada yang saya jauhkan dari buku karya para penulis cilik, kecuali amat sedikit. Dan ini lebih positif. Salah satunya, ketahanan mental dia lebih tangguh dibanding saudaranya yang banyak baca buku karya penulis cilik. Idealisme lebih tertanam.

Semoga Allah Ta’ala baguskan imannya hingga matinya nanti. Anak yang saya jauhkan dari buku-buku semacam itu, justru lebih tahan baca. Anak juga lebih mudah memegangi prinsip. Menjadi berbeda bukan persoalan besar meski ia harus diejek oleh teman sebaya. Siap baca serius.

Semoga kita dapat berbenah. Semoga ada pelajaran yang dapat kita petik. Betapa sering kita tergesa memacu anak, termasuk dalam melahirkan karya, sementara saat remaja mereka sudah kehilangan antusiasme berkarya. Tetapi yang lebih mendasar lagi, anak-anak itu tak sempat membangun idealisme dalam dirinya…

*Penulis adalah kolumnis meminang surga di www.hidayatullah.com

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply