Dalam Kondisi Apa Engkau Ingin Dijemput?

 0
Dalam Kondisi Apa Engkau Ingin Dijemput?by Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Dalam Kondisi Apa Engkau Ingin Dijemput?TIDAK ada yang terjadi secara kebetulan dalam setiap waktu dan peristiwa. Kata-kata tersebut teramat singkat tapi membutuhkan perenungan mendalam untuk memahami dan meyakini maknanya. Tidaklah Allah menciptakan makhluknya dan menggilirkan semua peristiwa yang terjadi di muka bumi melainkan atas ketetapan dan izin-Nya. Atas itu semua kita dituntut mengambil ibrah bagi siapa saja yang memiliki akal. […]
Oleh Ustadz Lalu Mabrul

Oleh Ustadz Lalu Mabrul

TIDAK ada yang terjadi secara kebetulan dalam setiap waktu dan peristiwa. Kata-kata tersebut teramat singkat tapi membutuhkan perenungan mendalam untuk memahami dan meyakini maknanya.

Tidaklah Allah menciptakan makhluknya dan menggilirkan semua peristiwa yang terjadi di muka bumi melainkan atas ketetapan dan izin-Nya. Atas itu semua kita dituntut mengambil ibrah bagi siapa saja yang memiliki akal. Bahwa, tidak ada peristiwa yang sia-sia atas semua kehendak-Nya.

Hari ini, saya mencoba merenungi 3 buah berita yang berbeda dari sumber yang berbeda pula namun menceritakan peristiwa yang sama, yaitu tentang kematian.

Berita ini saya dapatkan dari media sosial, media online, dan dari balik suara telpon yg berada nun jauh di seberang sana. Subhanallah.

Pertama, berita kematian yang dikirim oleh teman melalui media sosial Facebook yang mengutip berita dari MetroTVNews. Tautan itu memberitakan ada seorang anak muda mati mendadak dengan mulut berbusa ketika sedang asyik menonton film porno di warnet (warung internet) di bilangan Jakarta. Wal iyazu billah.

Berita kedua, saya dapatkan via telpon, bahwa kakak ipar istriku, di Kuaro, Kalimantan Timur, pingsan mendadak dan akhirnya tidak sadarkan diri untuk selamanya. Peristiwa tersebut terjadi ketika beliau sedang memberikan arahan/ tausiah selepas sholat asar.

Berita ketiga, saya dapatkan juga dari media sosial yang disebarkan oleh teman-teman yang ada dalam jaringan pertemanan akun saya. Berita ini saya baca sekembaliku mengantar istri dan mertua ke bandara Soekarno-Hatta untuk selanjutnya ke Balikpapan lalu lanjut ke Kuaro untuk bertakziah.

Berita dari media sosial yang ditulis di Kompasiana itu menuturkan bahwa ada seorang wanita di Kalimantan Timur meninggal ketika ia berjuang melahirkan puteranya yang kedelapan. Membuat terharu sebab mengisahkan perjuangan seorang ibu yang berjuang tanpa kenal lelah melahirkan anaknya hingga kemudian Allah Ta’ala menakdirkan lain bagi keduanya.

Ketiga peristiwa nyata di atas sama-sama menceritakan tentang kematian. Yang membedakannya adalah proses dalam menjemput ajalnya. Inilah yang kemudian menjadi renungan saya hingga akhrinya tertuang dalam bentuk tulisan ini.

Ada sebuah pesan hikmah atau entah adalah perkataan ulama yang mengatakan begini; bahwa proses penjemputan ajal seorang anak manusia tergantung atas kebiasaannya dan seberapa serius dan yakin meminta untuk ditutup kehidupan dunianya dengan husnul khatimah (akhir yang baik).

Dari ketiga makhluk Allah yang wafat ini, secara pribadi saya tidak pernah bergaul dan berteman bersama mereka. Tapi, aktivitas dan statusnya bisa memberikan isyarat akan hal itu.

Untuk kasus yang pertama, pemuda meninggal saat menonton film porno di warnet. Kemungkinan kebiasaanya adalah menonton film tersebut atau setidaknya suka membuka hal seperti itu di perangkat elektroniknya. Boleh jadi waktunya banyak dihabiskan untuk nonton sehingga sekelilingnyapun dia tidak peduli. Sekalipun ia berlama-lama, ternyata ia sudah tewas.

Untuk kasus yang kedua, meninggal di saat sedang menyampaikan dakwah Islam. Setidaknya dari aktifitas beliau bisa dipahami bahwa itulah rutinitasnya. Dari informasi yang disampaikan istri beliau kepada saya, bahwa beliau adalah seorang dai aktifs dan pembina pesantren. Insyaallah, beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

Adapun untuk kasus yang ketiga, saya tidak tahu persis siapa beliau. Pasalnya saya memang tidak pernah bertemu apalagi berteman. Tapi setidaknya dari cerita suami dan para sahabatnya -melalui artikel yang saya baca- mereka memberikan persaksian, bahwa beliau adalah orang yang sangat taat menjaga hubungan dengan penciptan-Nya dan hubungan baik antar sesama. Proses kematiannya mengindikasikan amal dan cita-citanya.

“Beliau begitu menikmati dari setiap sholat yang ia lakukan. Sesibuk apapun, ia selalu menyempatkan membaca Al Qur’an 1 Juz setiap hari. Aku juga baru menyadari setiap doa yang ia panjatkan, sering aku lihat istriku menangis ketika membaca doa, wa amitna ‘ala syahaadatik… (matikanlah kami syahid dijalan-Mu). Akhirnya benar-benar Allah menjemputnya ketika beliau dalam jihad melahirkan”, demikianlah penggalan kisah dari suami beliau.

Dari semua peristiwa ini, sesungguhnya Allah mengajarkan dan mengingatkan hambanya, kepada kita semua kaum Muslimin, dalam hal dan kondisi apa engkau ingin “dijemput”.

Ya Allah, jadikan peristiwa kematian ini menjadi nasehat bagi kami yang sangat berharga. Ya Allah, tidaklah Engkau menciptan ini semua dengan sia-sia. Peliharalah kami dari siksa api neraka. Ya Allah akhirilah hidup kami dengan sebaik-baik kematian. Aamiin*

________________
LALU MABRUL, penulis adalah Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply