Hidayatullah Depok Jadikan Al Qur’an Sebagai Mainstream

 0
Hidayatullah Depok Jadikan Al Qur’an Sebagai Mainstreamby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Hidayatullah Depok Jadikan Al Qur’an Sebagai MainstreamDALAM rangka berupaya membangun kultur peradaban Islam dengan menegakkan budaya ilmu yang diantaranya melalui penguasaan multi bahasa, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, juga sangat menekankan kepada segenap warganya untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pusat kreatifitas dan mainstream berprilaku. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, KH. Wahyu Rahman. Dalam suatu kesempatan belum […]
Tampak suasana pembelajaran Al Qur'an melalui kegiatan halaqah rutin di masjid Kampus Pesantren Hidayatullah Depok

Tampak suasana pembelajaran Al Qur’an melalui kegiatan halaqah rutin di masjid Kampus Pesantren Hidayatullah Depok

KH. Wahyu Rahman dalam sebuah kesempatan

KH. Wahyu Rahman dalam sebuah kesempatan

DALAM rangka berupaya membangun kultur peradaban Islam dengan menegakkan budaya ilmu yang diantaranya melalui penguasaan multi bahasa, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, juga sangat menekankan kepada segenap warganya untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pusat kreatifitas dan mainstream berprilaku.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, KH. Wahyu Rahman. Dalam suatu kesempatan belum lama ini beliau menerangkan bahwa Hidayatullah Depok adalah miniatur peradaban Islam yang di dalamnya terbangun kultur Islami. Kultur tersebut dibingkai oleh konsepsi dasar Islam yakni Al Qur’an.

“Sehingga pengembangan kemampuan bilingual dengan terbentuknya komunitas bahasa yang tersistematis, hendaknya juga beriringan dengan upaya kulturisasi Al Qur’an dan adab Islami di kampus,” ujarnya.

Alhamdulillah, sejak beberapa tahun lalu, Pesantren Hidayatullah Depok telah menyelenggarakan program pembelajaran dan pendalaman makna Al Qur’an secara terpadu dengan melibatkan unsur-unsur terkait seperti instruktur dari Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) dan metode UMMI.

Adapun klasifikasinya metode Grand MBA lebih banyak diterapkan untuk tingkat SMP, SMA, dan sekolah tinggi STIE HIdayatullah. Metode disajikan dalam sesi pelajaran Diniyah di masjid usai shalat rawatib Magrib dan Shubuh.

Grand MBA sendiri adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis. Metode Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan support dan menemani masyarakat belajar Al Qur’an secara tuntas sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

Secara sederhana, tahapan belajar Qur’an ini adalah memulai dengan terbata-bata atau mutata’ti’, mempelajari makhraj dan shifat, mengetahui kaidah tajwid, memahami tata bahasa, memahami dan merasakan balaghah, dan terakhir hakikat tartil.

Setelah sampai pada tahapan terakhir yaitu tartil, peserta akan dibina dalam halaqah atau majelis-majelis taklim yang dibangun Grand MBA bekerjasama dengan masjid-masjid yang intinya mempelajari 5 T yaitu tilawah atau membaca dengan tartil, tahfidz (menghafal sebanyak mungkin), tafaqquh (memahami dengan benar), tathbiq (mempraktikkan dalam kehidupan), dan tabligh (menyampaikan kepada orang lain).

Dalam tahapan belajar metode Grand MBA, untuk tahap pertama yaitu mengenal makhrajul huruf dan shifat sampai kaidah tajwid menggunakan buku Grand MBA Jilid I dan II dalam paket Bimbingan Tajwid dan Tahsin Al Qur’an. Sementara untuk pelajaran tata bahasa dan maknanya di buku paket Terampil Menerjemah Al Qur’an dengan isi 6 jilid.

Sementara metode yang kedua yakni UMMI lebih fokus diterapkan kepada anak usia dini yakni untuk SD, meskipun tetap memungkinkan untuk dapat diterapkan di tingkat SMP khususnya kepada peserta didik yang benar-benar masih memulai belajar Al Qur’an.

Komitmen Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dalam rangka mengembangkan kemampuan baca Al Qur’an dan mantransformasikannya tak sekedar pada tataran konsep. Sejak beberapa tahun lalu Hidayatullah Depok telah menerapkan seleksi ketat kepada segenap santri yang akan dimasukkan ke jenjang program Sekolah Pemimpin (SP) yang berfokus pada kemampuan leadership, kultur, dan hafalan Al Qur’an.

Sedangkan untuk tingkat mahasiswa di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID), calon mahasiswa yang mendaftar harus bisa membaca Al Qur’an. Jika ada calon mahasiswa yang ketika dites tidak bisa membaca Al Qur’an maka otomatis akan ditolak, atau setidaknya harus mengikuti program penyetaraan dengan waktu tertentu. (ybh/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply