Kisah Islamnya Martinus di Ponpes Hidayatullah Cilodong

 0
Kisah Islamnya Martinus di Ponpes Hidayatullah Cilodongby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Kisah Islamnya Martinus di Ponpes Hidayatullah CilodongKEMARIN sore, di rumah kedatangan Yahya. Dia bisa dikatakan anak angkat, bisa adik angkat. Atau apapun istilahnya. Dia adalah seorang yang saya kenal 18 tahun yang lalu di usianya sekitar usia 12 tahun. Waktu terasa singkat karena mungkin saya tidak berjumpa dengannya sejak 7-8 tahun yang lalu. Tahu-tahu dia sudah menikah, memiliki anak, punya rumah […]
Tampak suasana pembelajaran Al Qur'an melalui kegiatan halaqah rutin di masjid Kampus Pesantren Hidayatullah Depok

Tampak suasana pembelajaran Al Qur’an melalui kegiatan halaqah rutin di masjid Kampus Pesantren Hidayatullah Depok / ist

KEMARIN sore, di rumah kedatangan Yahya. Dia bisa dikatakan anak angkat, bisa adik angkat. Atau apapun istilahnya. Dia adalah seorang yang saya kenal 18 tahun yang lalu di usianya sekitar usia 12 tahun.

Waktu terasa singkat karena mungkin saya tidak berjumpa dengannya sejak 7-8 tahun yang lalu. Tahu-tahu dia sudah menikah, memiliki anak, punya rumah punya kendaraan. Luar biasa perjalanan hidupnya sewaktu dia menceritakan kehidupannya 8 tahun terakhir ini.

Sekarang dia memiliki usaha keluraga, satu di Depok, satu lagi di Tangerang. Ruko yang dibeli dengan menyicil kayaknya dalam waktu dekat sudah bisa dilunasinya. Itu semua didapatinya dari bisnis kelurga.

Kebiasaanya sebagai muazin, sebagai marbot masjid kami membuat suaranya terlatih indah. Sehingga katanya, pada saat di karaoke dulu banyak keluarga-keluarga langganannya minta dilayani dan di temani bernyanyi.

Wajahnya yang ganteng, bersih dan luar biasa santunnya merupaka bekal suksesnya diawal. Hingga Yahya bertemu denga sebuah keluarga yang suka dan jatuh cinta pada dirinya. Sehingga sejak 5 tahun yang lalu dia dimodali dan mendapatkan bagi hasil usaha karaoke keluarga yang mereka bangun di daerah Depok.

Sejak 3 tahun yang lalu dengan hasil tabungannya dia memberanikan diri membeli ruko secara menyicil dan membangun usaha karaoke. Kebetulan yang memberi kredit adalah seorang kepala cabang bank dekat depot yang menjadi langganannya.

Keluarga pejabat bank itu setiap minggu pasti menyempatkan berkaraoke baik dengan teman, atau mitra bisnisnya. Bisnis karaoke dia bangun sendiri di daerah Tangerang. Ruko inilah yang sebntar lagi lunas dimiliki penuh oleh Yahya. Sebuah cerita perjuangan hidup yang manis sekali didengar pada saat dia bercerita sambil memangku putri pertamanya.

Buka puasa di rumah saya menjadi meriah dengan datangnya Yahya ini berserta istri dan putrinya. Ketika pamit pulang istri saya, Dhita bertanya, siapa dan apa sejarah Yahya. Dan, saya pun mulai mengingat kembali sejarah awal kenalan dengan Yahya.

Ingat Mirah Swalayan, kan? Dulu kita punya salah satu cabang di daerah Cibubur perumahan Harapan Indah, dekat pipa gas alam.

Toko Mirah posisinya sangat terbuka dari 4 arah jalan masuk komplek terlihat jelas. Suatu hari ada anak 12 tahun minta tinggal di toko Mirah. Sama Ade (adik saya) diizinin.

Besoknya saya ke toko Mirah saya ngobrol dengan anak itu.Anak itu menceritakan dirinya. Namanya Martinus, asal Pulau Nias. Karena ekonomi keluarga, saya 2 tahun yang lalu dibawa paman jauh saya untuk tinggal di Depok.

Martinus melanjutkan kisahnya, katanya dia mau disekolahkan. Tetapi hanya jadi pembantu. Martinus juga mengaku sering dikasari baik dengan kata-kata ataupun dengan tindakan.

“Jadi saya ngabur. Saya untuk hidup cari cara yaitu jadi kenek mikrolet. Sudah 3 bulan namun makan dan tempat tinggal semua serba kurang. Saya sering sakit, menjadi kenek resiko besar. Bisa celaka kalau tidak hati hati,” katanya.

Dengan detail Martinus juga menceritakan asal muasalnya. Karena angkotnya katanya sering lewat sini (toko Mirah). Akhirnya dia sering istirahat dan belanja di sini. “Saya entah kenapa suka sekali, pak. Karena itu saya jadi pengen tinggal dan membantu disini,” kata Martinus bertutur.

Saya bilang ke Martinus, Ok, tapi kamu masih kecil. Mau jadi penjaga toko di sini? Saya bilang kamu harus rajin, mau belajar dan disiplin. Itu saja syaratnya. Kamu dapat makan, tinggal di toko ini dan kamu akan kami sekolahkan melanjutkan pendidikan kamu. Tapi kamu tidak di gaji, ya?! Faham kamu.

Martinus mengangguk.
Oia, iya. Apa agama kamu?
Kristen, pak..

“Ok, baik.. Tuh 1 KM dari toko ini ada gereja HKBP, kamu harus rajin ibadah ya,” sambil saya tunjuk lokasi gereja tersebut.

Lusanya saya mencari sekolah buat Martinus. SD negeri menolaknya karena dokumen tidak lengkap. Lalu saya bawa sekolah Kristen sekitar Cibubur. Ada 3 sekolah Kristen, semua juga menolak dengan alasan tidak ada dokumen.

Saya bilang bahwa anak ini dokumen sekolahnya hilang di kampungnya di Nias karena bencana banjir 2 tahun lalu. Kalau harus pulang Nias, dan foti kopi terdekat di Medan sana. Saya benar-benar senewen.

Bahkan saya berargumen ini anak terima saja atas nama agama anda, Kristen, atas nama kemanusiaan, toh semua biaya saya yang tanggung. Saya berargumen. Turun kelas juga ngak apa-apa. Anda sekolah swasta bisa lakukan itu.

Waduuhh nggak goyang tuh mereka. Yo wis..cikar kanan, vaya con dios beta cari laen…iya toh. Saya ambil gampangnya aja. Yang penting saya sudang mengungkapkan isi hati saya, isi hati Martinus. Saya lihat anak ini tertunduk lesu. Seharian 3 sekolah jawaban sama. Saya bilang pada Martinus. Itulah kehidupan, Martinus. Kau kecewa? Kau sakit?.

Ya, penderitaan itu kalau dirasakan ya pasti sakit, tapi kalau dinikmati dan disyukuri pasti nikmat dan berbuah hikmah. Sabar ya, nak. Ok, kamu saya bawa ke Pesantren Hidayatullah Cilodong, mau?

Martinus mengangguk dan berkata, “yang penting bisa sekolah pak”. Nah gitu dong, itu namanya semangat.

Saya lalu bawa Martinus ke Ustadz Usman Palese. Beliau adalah Sahabat dan guru saya sudah lama. Salah satu pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Saya ceritakan asal muasal Martinus dan pak ustadz Usman menjawab, “Tangan kami terbuka buat siapapun. Ada ilmu umun di sini yang kamu bisa ikuti, ada ilmu diniyah agama yang kamu boleh ikut boleh juga tidak,”.

Alhamdulillah, Ustadz Usman Palese mau terima.

Sejak saat itu Martinus sekolah pagi. Siang kerja dan tinggal di toko Mirah.
5 tahun kemudian, Ustadz Usman Palese telpon saya. Mas wowiek bisa ke Cilodong? Begitu kata beliau via telpon. Segera saya merapat ke sana.

Di depan rumah Ustadz Usman ada Martinus duduk dengan wajah serius. Lalu dia menyalami saya dan berkata, “Pak, saya sudah berfikir masak-masak. Saya sudah merenung, saya sudah berdoa tiap malam hampir 2 tahun ini. Dalam 5 tahun ini Saya melihat keindahan teman-teman melakukan gerakan shalat, keceriaan ramadhan, merdunya suara adzan di pagi subuh. Saya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Boleh pak?!”.

Saya menatap wajah Martinus dalam-dalam. Saya lihat wajah Ustadz Usaman Palese datar saja. Saya balik menatap Martinus. Agama bukan buat mainan, saya menggeleng kepala. Tidak bisa kamu lakukan itu, Martinus. Agama bukan untuk kamu punya-punyaan, untuk di banding-bandingkan, lebih baik, lebih bagus.

Agama adalah hal yang spiritual, agama adalah keindahan qolbu. Sehingga memancar keluar. Yang kamu lihat baru luarnya. Kalau kamu sudah menemukan dalamnya kamu baru mengerti dan boleh mengatakan apa yang kamu katakan barusan.

Ustadz Usman Palese meneruskan, kamu sudah dengar tadi, kan? Apa bedanya dengan perkataan saya. Sama saja.

Martinus menunduk. Berkata lirih, “Pak, boleh saya jadi muadzin, tukang adzan.”
Memang kamu bisa? Saya bertanya..
Bisa pak, sudah sering saya latihan.

Ustadz Usman Palese tanpa banyak tanya membawa Martinus dan saya ke masjid. Lima menit lagi masuk waktu magrib. “Kamu adzan, Martinus!,” perintah Ustadz Usman.
Wuih, saya hanya bisa terhenyak mendengar perintah Ustadz Usman kepada Martinus.

Tak lama Martinus ambil mic dan diam konsentrasi sejenak. Takk lama dia menarik nafas dalam dan mengangkat tangan kanannya keteling kanan dia kemudian meneriakkan gema takbir adzan. Allaahu akbar, Allaahu akbar!.

Saya tersentak dan Ustadz Usman pun tersentak. Suaranya indah sekali, agem, merdu, lekukannya fasih, cengkok murottal adzan dimainkan dengan indah.
Mendadak mesjid penuh dengan anak-anak, tetangga, jamaah, tua muda. Semua memuji suara Martinus.

Saya sampai nangis mendengar adzan indah dari anak muada 17 tahun Martinus asal Nias ini dan banyak ibu-ibu yang tau siapa Martinus menyeka wajah mereka karena tetesan air mata.

Lalu saya bilang ke Ustadz Usman Palese, “Saya rasa dia sudah mendapat hidayah, pak”. Pak Usman mengangguk setuju. Dipanggilnya Martinus sebelum shalat magrib dimulai. Dihadapan jamaah dan anak pesantren dan tetangga Cilodong, ditanya lagi Martinus apakah ksudah mantap ingin memeluk islam. Martinus mengangguk dan tertunduk.

Martinus diperintahkan mengambil Al Qur’an dan memegangnya di dada kiri. Martinus melakukan gerakan sesuai perintah, tangan kananya salaman dengan ustad Usman. Tangan kirinya memeluk Al Qur’an dan dia berkata, Asyhadualla illa ha illaulah wa as hadu ana Muhammaddarasulullah.

Suaranya yang merdu memenuhi suara masjid yang menjadi hening. Kalimat syahadat yang dibacanya syahdu sekali. Semua anak-anak teman-temannya menyalami dan memeluk Martinus. Ibu ibu menyeka air mata haru.

Ustadz Lsman Palese berkata pada saya, Pak wowiek, kasih nama baru dia.

Lalu saya berkata, mulai saat ini nama kamu (Martinus) menjadi Muhammad Yahya. Kamu di panggil Yahya. Selamat datang di dunia keberserahdirian. Yahya adalah nabi yang tertulis di Al quran sebanyak 4 kali. Hidup bersama jaman nabi Isa, anak nabi Zakariah.

Namanya sebagai penentang Herodes banyak di sebut di kitab lain lain hikmah seperti Ihya ulumuddin. Sehingga kedepan kamu bisa mencerminkan diri sebagai pewujudan pejuang kebenaran.#PeaceBeUponUs

______________
Mardigu Wowiek Prasantyo, penulis adalah pengamat terorisme dan analis perilaku. Pria yang juga founder PT Titis Sampurna ini pernah menjadi murid KH. Usman Palese yang kini menjadi pembina di Pesantren Hidayatullah Cilodong. Catatan ini telah disadur dari laman sosmed Mardigu pada 3 Agustus 2012.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply