Kesan Mengharukan dari Wali Murid SDI Hidayatullah Depok

 0
Kesan Mengharukan dari Wali Murid SDI Hidayatullah Depokby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Kesan Mengharukan dari Wali Murid SDI Hidayatullah DepokTIDAK ada yang lebih menggembirakan bagi setiap guru atau pendidik selain melihat anak muridnya menjadi manusia yang hebat yang bermanfaat bagi orang sekitarnya. Kebahagian guru sungguh sangatlah tak terbahasakan ketika dapat melihat sang murid berakhlak mulia, taat beribadah, dan berkarakter Islami dalam semua lingkup hidupnya sehari-hari. Demikian pulalah yang dirasakan oleh segenap pengurus di Sekolah […]
ist

ist

TIDAK ada yang lebih menggembirakan bagi setiap guru atau pendidik selain melihat anak muridnya menjadi manusia yang hebat yang bermanfaat bagi orang sekitarnya. Kebahagian guru sungguh sangatlah tak terbahasakan ketika dapat melihat sang murid berakhlak mulia, taat beribadah, dan berkarakter Islami dalam semua lingkup hidupnya sehari-hari.

Demikian pulalah yang dirasakan oleh segenap pengurus di Sekolah Dasar Islam Integral Hidayatullah (SDI Hidayatullah) Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia. Kebanggaan dan kebahagiaan yang tentu saja dibingkai dalam lafaz syukur pada Allah Ta’ala itu mencuat saat salah seorang wali murid SDI Hidayatullah menceritakan kesannya terhadap sekolah ini.

Rasa haru dan bahagia itu pun semakin menajamkan komitmen guru di lingkungan Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok untuk terus mengabdikan diri mendidik murid menjadi manusia-manusia yang shaleh/shalihah dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.

Ibunda Vanda, demikianlah ibu wali siswa ini disapa. Beliau bercerita kepada guru di lingkungan SD Hidayatullah Depok tentang perkembangan anaknya selama bersekolah di SDI Hidayatullah dan mengenai pengalaman dia beberapa waktu sebelumnya di sebuah rumah sakit di Kota Depok. Ananda Vanda saat ini duduk di kelas V SDI Hidayatullah Depok

Berikut ini cerita dan kesan beliau yang juga disampaikannya dalam bentuk pesan singkat ke guru SDI Hidayatullah yang juga diterima redaksi portal HidayatullahDepok.org ini. Berikut ini kami sajikan dengan penyesuaian frase sebagaimana kaidah bahasa Indonesia:

“Terima kasih Ustadz-ustadzah SDIT HIdayatullah yang selama ini membimbing vanda belajar Al-Qur’an. Sehingga Vanda bisa dengan lancar membaca Al-Qur’an.

Saya sangat terharu sekali pada saat mbahnya Vanda sedang kritis. Vanda membacakan Surah Al-Baqarah sampai selesai di samping mbahnya. Pada saat tingal 1 halaman lagi selesai, Vanda disuruh suster Rumah Sakit untuk keluar karena di sebelah mbahnya ada pasien yang sedang anpal.

Ternyata di luar kamar ICU (Intensive Care Unit) rumah sakit tersebut, Vanda tetap mengaji dan menyelesaikan satu halaman yang belum selesai tadi. Setelah selesai membaca Al-Qur’an, Vanda balik ke rung tunggu. Baru juga duduk, dokter datang datang kepada kami dan mengatakan mbahnya telah meninggal.

Sekali lagi, saya sangat berterimakasih telah membimbing anak-anak kami di sekolah dan mengerti agama lebih jauh.”

Demikianlah cerita bunda Vanda yang membuat kami berbangga seraya bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa upaya serta pengabdian para ustadz-ustadzah di lingkungan sekolah Hidayatullah Depok dalam membimbing anak-anak menjadi anak-anak yang memahami agama Islam lebih baik terus mengalami peningkatan.

Tentu saja, sekian banyak prestasi yang menggembirakan yang telah dicapai SDI Hidayatullah dan unit pendidikan level lainnya, menuntut para guru untuk terus mengembangkan skil dan loyalitas. Terutama aspek pribadi masing-masing guru untuk benar-benar menjadikan profesinya sebagai wadah untuk beramal jariyah guna melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Dibanding di lembaga pendidikan lainnya, kompensasi yang diterima ustadz-ustadzah selaku guru di sekolah di Pesantren Hidayatullah mungkin tidaklah seberapa. Bahkan boleh jadi berada di bawah ketentuan Upah Minimum Kota (UMK). Tetapi semangat dan dedikasi mereka demi lahirnya generasi Rabbani yang bertauhid bisa mengalahkan motif pragmatisme yang ada.

Hidayatullah memang lahir dengan semangat untuk melayani. Filosinya berangkat dari paradigma Ilahiyah bahwa siapa yang berbuat baik dan melayani dengan sebaik mungkin, maka pasti akan mendapatkan kebaikan pula.

Kebaikan didapatkan yang orang berdedikasi tinggi yang hanya mengharap ridha Allah Ta’ala tidak saja mendapatkan kebaikan secara duniawi, tetap kebaikan itu berdimensi holistik. Yakni kebaikan dunia dan akhirat.

Dalam perspektif subjektif saya, para pendidik ini boleh jadi masuk dalam maqam tajrid dalam kajian ilmu tasawuf. Hal ini dapat kita lihat dalam dua gambaran yang cukup lekat dengan profesi mereka sebagai pendidik dan guru sekaligus.

Pertama, para guru di lingkungan Hidayatullah, Insya Allah, meskipun dia bekerja dan berusaha tetapi seolah-olah dia bekerja sebagai sesuatu yang iseng saja. Mereka loyal dan berdedikasi meskipun secara materi tidak seberapa mereka dapatkan. Sebab, hatinya hanya tertuju kepada Allah, ia selalu bertaqwa kepada Allah. Bekerja karena Allah.

Manusia seperti ini meski bekerja sekeras apa pun, tetapi sama sekali tidak memberatkan otaknya dan tidak dianggap sebagai beban. Bahkan, di waktu yang sama, Allah memudahkan rizqinya melalui jalan yang tidak terkira samasekali.

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar (dari kesulitan-kesulitan) untuk orang itu. Dan Allah akan memberikan rizqi kepadanya dari (sumber-sumber) yang tiada pernah difikirkannya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah telah mengqadarkan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq (65): 2-3).

Kedua, ada manusia yang sama sekali tidak bekerja dan berusaha, selain ibadah. Kegiatannya hanya berdakwah atau mengajar dan menuntun umat kepada ajaran-ajaran agama saja tanpa memungut upah. Meski harta tak punya, rizqinya didatangkan Allah kepadanya.

Dalam kajian beberapa ulama Islam, hamba Allah yang telah sampai pada tingkatan ini berarti ia telah sampai atau telah diangkat oleh Allah ke maqam tajrid.

Penilaian saya di atas mungkin dianggap berlebihan. Tetapi kita berkeyakinan bahwasanya Pesantren Hidayatullah, Hidayatullah Depok khususnya, terus berkomitmen menjadi juru dakwah dan pelayan umat demi untuk kemaslahatan dan tegaknya peradaban Islam yang mulia.

Gaji boleh kecil, tetapi keikhlasan kita kepada Allah Ta’ala dalam setiap usaha dan amal kita jangan sampai sirna hanya karena ketidaksabaran kita dalam mengarungi hidup yang tampak mewah nan megah ini. Mari kita terus melayani degan hati, karena kita memang tak sekedar mendidik. Tapi juga mencerdaskan jiwa.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan (QS. Ar Rahman: 60-61)

_______________________
ABU MUHAMMAD SYAMAIDZAR, penulis adalah warga di Pesantren Hidayatullah Depok yang saat ini aktif sebagai freelance analyst di bidang teknologi internet, media monitoring, dan opini publik.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply