Kampus Hidayatullah Depok Mantapkan Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Islam

 0
Kampus Hidayatullah Depok Mantapkan Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Islamby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Kampus Hidayatullah Depok Mantapkan Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban IslamMasjid rumah utama tempat ibadah umat Muslim. Masjid simbol peradaban Islam yang merupakan pusat kehidupan umat Islam. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran. Mengingat mendasarnya fungsi masjid tersebut, Ketua Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, MPd.I d, mendorong dilakukan pola pengelolaan masjid yang […]
View Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok dari samping kanan saat malam hari / AIN

View Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok dari samping kanan saat malam hari / AIN

Masjid rumah utama tempat ibadah umat Muslim. Masjid simbol peradaban Islam yang merupakan pusat kehidupan umat Islam. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Mengingat mendasarnya fungsi masjid tersebut, Ketua Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, MPd.I d, mendorong dilakukan pola pengelolaan masjid yang profesional, terpadu, dan terkulturisasi dengan spirit tegaknya peradaban Islam.

“Untuk saat ini, menjadi sangat penting dan mendesak setiap masjid memiliki kantor yang terintegrasi dengan masjid dan memiliki perpustakaan,” tegas Tasyrfi Amin dalam acara sarasehan penguatan fungsi masjid digelar DKM Ummul Quro di Komplek Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Ahad pekan lalu.

Sebagai tempat ibadah, jelas Tasyrif, masjid memiliki fungsi yang sangat istimewa yang membedakannya dengan tempat-tempat peribadatan agama lain. Selain itu, masjid juga sebagai sekolah, tempat belajar, tempat berkumpul ulama dalam mengajarkan ilmu. Dimana disampaikan tentang hukum-hukum syariat atau arahan-arahan keagamaan kepada masyarakat.

“Sehingga pengadaan perpusatakaan masjid seharusnya menjadi perhatian utama selain aspek-aspek penting lainnya,” ujarnya.

Dikatakan dia, masjid sangat berperan sebagai basis perubahan masyarakat yang memicu kebangkitan dan kemajuan umat. Sebagai pusat aktifitas dan kegiatan umat, ia memiliki peran dan fungsi yang sangat penting.

Karenanya, jelas beliau, masjid juga harus direvitalisasi perannya untuk penguatab kegiatan ilmiah, sosial, pengadilan, pemerintahan, pembinaan masyarakat, militer, mencetak sumber daya manusia yang beriman dan profesional.

“Masjid juga hendaknya mengambil peran dalam mengentaskan masalah sosial dan keagamaan, edukasi masyarakat, bahkan menjadi mitra dalam membangun negara sebab masjid dengan dukungan masyarakat mampu memberikan pelayanan ekstra yang tidak bisa diberikan oleh pemerintah,” ujarnya.

Tasyrif menekankan pentingnya peran Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dalam mengembangkan kebali peran vital masjid sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam yang mencakup semua aspek kehidupan. Dalam hal ini dia mendorong terus pengadaan kantor masjid yang representatif yang nanti berfungsi sebagai ruang kantor pengurus, ruang rapat, pertemuan, dan penginapan untuk bagi tamu-tamu masjid.

“Makanya seharusnya setiap masjid lingkungan Pesantren Hidayatullah harus ada kantornya, ada perpustakaan,” pungkasnya.

KAJIAN KITAB TASAWUF
Guna mendukung fungsi masjid sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam, DKM Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok terus menguatkan kegiatan-kegiatan kemasjidan di luar shalat berjamaah seperti halaqah taklim, forum diskusi, pengaran Diniyah, dan lain sebagainya.

Selain itu, DKM Ummul Quro Hidayatullah Depok juga menggelar kajian rutin setiap Sabtu malam Ahad selepas shalat Maghrib hingga Isya. Kitab yang dikaji pada tahap awal ini adalah kitab Al Minahus Saniyah ‘Alaa Al Washiyyati Al Mabtuuliyah As Syaik Al-Aarif Billaahi Ta’aalaa Abi Ishaaq Ibrohim Al Mabtuuliy, karya Syaikh Abdul Wahab Asy Sya’rani. Kajian kitab ini dibawakan oleh Al Ustadz Hafidz Bahar, SE, yang juga Ketua DKM Ummul Quro.

Mengenal lebih jauh penulis kitab tasawuf asal Mesir tersebut. Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali quthub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat). Beliau dilahirkan di desa Qalqasandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M.

Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yg diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir.

Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali.

Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani.

Selain itu, dia seorang Syaikhul Islam, faqih, Ushuli, Muhaddits (pakar hadits), dan Shufi. Dia dikenal sebagai ulama yang arif dalam khazanah keilmuan Islam. la menulis lebih dari 60 buah kitab, kebanyakan bercorak tasawuf.

Di antara karyanya yang paling menarik adalah yang berupa otobiografi, al-Lathaiful Minan. Dalam kitab al-Lathaiful Minan itu diterangkan tentang perjalanan hidup seorang sufi yang penuh dengan keteladanan. Dan yang patut menjadi contoh suri tauladan dalam awal kehidupannya adalah, ia hafal Al-Qur’an pada usia delapan tahun.

Karamahnya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Dia tidak pernah takut dengan makhlauk apapun, seperti ular, kalajengking, buaya, pencuri, jin dan sebagainya (lihat di kitab “Jami’u Karamatil Aulia jilid 2 halaman 277, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon). Pada suatu hari ketika dia tenggelam di Sungai Nil, dengan sangat menakjubkan, dia diselamatkan oleh seekor buaya, yang disangkanya sebongkah batu.

Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari (w. 916 H/1511 M) memberi izin kepadanya untuk mengajarkan fiqih. Sejak kecil ia sudah bergaul dengan para ‘arifin. Semua gurunya mengajarkan syariat dan tasawuf, dan meninggal dalam keadaan ridha terhadap dirinya. Dia dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik buta dalam menganut kepercayaan tertentu. Akhlaqnya sangat mulia, baik sebagai sufi, maupun sebagai orang shalih.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia dapat melihat jauh ke depan, dalam arti waktu. Dan dari sinilah ia memberikan keteladanan-keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain. Meskipun begitu, orang sering mengenali karamahnya. Seperti ketika dia menjamu tamu-tamunya, sering makanannya tiba­tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah swt.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal alim dan wara’. Dia tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia selalu menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya maupun di masjid lain. Dia selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan istrinya sebagaimana kala bersembahyang.

Terhadap para muridnya, dia senantiasa berbuat adil. Dia juga merasa enggan dicium tangannya. Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan bertanya kepada mereka tentang keadaan di alam kubur. Dia dapat melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka. Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani meninggal di Mesir pada bulan Jumadil Awal 973 H./ November 1565 M. (ybh/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply