Jadwal Kajian Kegiatan di Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depok

 0
Jadwal Kajian Kegiatan di Masjid Ummul Quro Hidayatullah Depokby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Jadwal Kajian Kegiatan di Masjid Ummul Quro Hidayatullah DepokDALAM rangka memantapkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan dan peradaban Islam, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok terus menggiatkan kegiatan dengan masjid sebagai pusatnya. Salah satu yang terus dimaksimalkan adalah kegiatan kajian keislaman dan pendidikan Islam. Bagi kaum muslimin di Depok dan sekitarnya yang ingin mengikuti kajian Islam yang digelar di Masjid Ummul Quro Pesantren […]

IMG_20140910_182839DALAM rangka memantapkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan dan peradaban Islam, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok terus menggiatkan kegiatan dengan masjid sebagai pusatnya. Salah satu yang terus dimaksimalkan adalah kegiatan kajian keislaman dan pendidikan Islam.

Bagi kaum muslimin di Depok dan sekitarnya yang ingin mengikuti kajian Islam yang digelar di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah Depok, dapat menghadiri acara rutin yang digelar Pesantren Hidayatullah Depok berikut ini. Adapun cara menentukan waktunya adalah mengikuti kaidah bulan Hijriyah yakni awal hari dimulai dari waktu Maghrib:

MALAM AHAD (BA’DA MAGHRIB S/D ISYA)
Kajian Kitab Al Minahus Saniyah oleh Al Ustadz Hafidz Bahar
(Untuk Bapak-bapak)

Muhadharah Mahssiswa (ba’da Isya s/d selesai)

PAGI AHAD (BA’DA SHUBUH S/D SELESAI)
Coffe Morning with INISIASI
(Untuk bapak-bapak dan mahasiswa)

MALAM SENIN
Halaqah Diniyah
(Khusus santri dan mahasiswa)

MALAM SELASA
Halaqah Diniyah
(Khusus santri dan mahasiswa)

MALAM RABU
Halaqah Diniyah
(Khusus santri dan mahasiswa)

HARI RABU
Tahsin Al Qur’an (Jam 09:00 s/d Dzuhur)
Tahsin Al Qur’an (Jam 16:00 s/d Maghrib)

MALAM KAMIS
Kajian Epistemologi Islam
Oleh KH. Dr. Abdul Mannan, MM

MALAM JUM’AT
Pengajian Al Qur’an

MALAM SABTU
Bincang Santai Seputar Problematika Umat (BISA SERU) yang dipandu oleh alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok.

********

SEKILAS KAJIAN
DKM Ummul Quro Hidayatullah Depok menggelar kajian rutin setiap Sabtu malam Ahad selepas shalat Maghrib hingga Isya. Kitab yang dikaji pada tahap awal ini adalah kitab Al Minahus Saniyah ‘Alaa Al Washiyyati Al Mabtuuliyah As Syaik Al-Aarif Billaahi Ta’aalaa Abi Ishaaq Ibrohim Al Mabtuuliy, karya Syaikh Abdul Wahab Asy Sya’rani. Kajian kitab ini dibawakan oleh Al Ustadz Hafidz Bahar, SE, yang juga Ketua DKM Ummul Quro.

Mengenal lebih jauh penulis kitab tasawuf asal Mesir tersebut. Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali quthub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat). Beliau dilahirkan di desa Qalqasandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M.

Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yg diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir.

Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali.

Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani.

Selain itu, dia seorang Syaikhul Islam, faqih, Ushuli, Muhaddits (pakar hadits), dan Shufi. Dia dikenal sebagai ulama yang arif dalam khazanah keilmuan Islam. la menulis lebih dari 60 buah kitab, kebanyakan bercorak tasawuf.

Di antara karyanya yang paling menarik adalah yang berupa otobiografi, al-Lathaiful Minan. Dalam kitab al-Lathaiful Minan itu diterangkan tentang perjalanan hidup seorang sufi yang penuh dengan keteladanan. Dan yang patut menjadi contoh suri tauladan dalam awal kehidupannya adalah, ia hafal Al-Qur’an pada usia delapan tahun.

Karamahnya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Dia tidak pernah takut dengan makhlauk apapun, seperti ular, kalajengking, buaya, pencuri, jin dan sebagainya (lihat di kitab “Jami’u Karamatil Aulia jilid 2 halaman 277, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon). Pada suatu hari ketika dia tenggelam di Sungai Nil, dengan sangat menakjubkan, dia diselamatkan oleh seekor buaya, yang disangkanya sebongkah batu.

Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari (w. 916 H/1511 M) memberi izin kepadanya untuk mengajarkan fiqih. Sejak kecil ia sudah bergaul dengan para ‘arifin. Semua gurunya mengajarkan syariat dan tasawuf, dan meninggal dalam keadaan ridha terhadap dirinya. Dia dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik buta dalam menganut kepercayaan tertentu. Akhlaqnya sangat mulia, baik sebagai sufi, maupun sebagai orang shalih.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia dapat melihat jauh ke depan, dalam arti waktu. Dan dari sinilah ia memberikan keteladanan-keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain. Meskipun begitu, orang sering mengenali karamahnya. Seperti ketika dia menjamu tamu-tamunya, sering makanannya tiba­tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah swt.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal alim dan wara’. Dia tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia selalu menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya maupun di masjid lain. Dia selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan istrinya sebagaimana kala bersembahyang.

Terhadap para muridnya, dia senantiasa berbuat adil. Dia juga merasa enggan dicium tangannya. Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan bertanya kepada mereka tentang keadaan di alam kubur. Dia dapat melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka. Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani meninggal di Mesir pada bulan Jumadil Awal 973 H./ November 1565 M.

EPISTEMOLOGI ISLAM
Selain itu, DKM Ummul Quro Hidayatullah Depok juga mengadakan kajian intensif tema epistemologi Islam yang dibawakan langsung oleh KH. Abdul Mannan yang juga Ketua Umum PP Hidayatullah.

Dalam kajian ini, Kyai Abdul Mannan membahas pentingnya memahami epistemologi Islam dalam ilmu pengetahuan. Sebab pada dasarnya ilmu memiliki tempat yang sangat istimewa dalam khazanah dan peradaban Islam.

Oleh karenanya urgensi perombakan epistemologi ilmu yang digunakan menjadi sangat mendesak. Sebab dengan menerapkan epistemologi yang keliru akan pula menciptakan pendidikan yang keliru. Dan pendidikan yang keliru akan menciptakan ilmu yang keliru, ilmu yang keliru akan menciptakan pemikiran yang keliru, pemikiran yang keliru akan menciptakan perilaku yang keliru pula dan akhirnya perilaku yang keliru akan menciptakan manusia yang dhalim.

Untuk mengatasi kerancuan ilmu yang disebabkan oleh epistemologi Barat sekiranya pemerintah berani untuk melakukan gebrakan “Islamisasi ilmu”, konsep ini telah disampaikan oleh Prof Naquib Al-Attas. Al Attas menguraikan konsep-konsep pokok dalam epistemologi dan metafisika Islam, seperti konsep “religion” dalam Islam (ad-Din), yang sumber tertingginya diambil dari al-Qur’an. Juga diuraikan tentang konsep “the truth” yang tidak mengenal dikotomi “subjektif” dan “objektif”, sebagaimana dalam tradisi Filsafat Yunani. (ybh/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply