Mencetak Generasi Beriman Unggul dan Kompetitif

 0
Mencetak Generasi Beriman Unggul dan Kompetitifby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Mencetak Generasi Beriman Unggul dan KompetitifPADA saat sel telur atau ovum terbuai yang kemudian menjadi zygote dan seterusnya menjadi embrio. Dari bakal janin tersebut lalu terus berkembang hingga menjelma menjadi janin. Dari siklus perkembangan manusia ini dapat kita pahami bahwa pada dasarnya kita harus selalu berjuang dan sudah barang tentu melalui proses persaingan dan kompetisi yang kuat untuk survive. Fakta […]
Oleh Ustadz Drs Wahyu Rahman

Oleh Ustadz Drs Wahyu Rahman, MM

PADA saat sel telur atau ovum terbuai yang kemudian menjadi zygote dan seterusnya menjadi embrio. Dari bakal janin tersebut lalu terus berkembang hingga menjelma menjadi janin.

Dari siklus perkembangan manusia ini dapat kita pahami bahwa pada dasarnya kita harus selalu berjuang dan sudah barang tentu melalui proses persaingan dan kompetisi yang kuat untuk survive.

Fakta bahwa manusia itu adalah mahluk kompetitor juga tergambar secara faktual dari riset ilmiah bahwa dari ratusan juta sel sperma yang berusaha membuahi satu sel telur, hanya satu yang berhasil menjadi pemenang. Dan, itulah kita.

Begitu juga dalam kehidupan nyata, kompetisi dan persaingan tidak dapat dihindari baik antar individu, kelompok, antar suku hingga bangsa-bangsa di dunia. Mereka ingin mengungguli dan dominan antara satu dengan yang lainnya.

Sehingga tak jarang kemudian, karena dominannya nafsul lawwamah dalam diri manusia yang tidak lagi malu berbuat jahat dan maksiat, maka berbagai macam cara dilakukan dalam menjalani kompetisi dunia hingga yang paling kasar. Bahkan dengan pertumpahan darah dengan saling membunuh dan saling berperang.

Disaat Nabiullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) membawakan risalah kebenaran yang menawarkan kemerdekaan dan kebahagiaan hakiki bagi manusia, ternyata juga mendapat penentangan dari kaumnya. Bahkan perlakuan kasar, intimidasi hingga ancaman nyawa diterima beliau. Kehadiran agama Islam dianggap sebagai ancaman bagi tradisi, budaya, serta kekuasaan yang sudah mengakar pada saat itu.

Bila kita cermati secara mendalam ayat-ayat Allah tentang keberadaan manusia di muka bumi yang tertuang dalam Al-Qur’an, maka kita akan menemukan bahwa kehadirannya adalah dalam rangka memakmurkan alam dengan menjaga hukum-hukum Allah yang melekat pada seluruh ciptaan-Nya (lihat QS Al-Imron: 83).

Maka, sewajarnyalah manusia di muka bumi bersatu padu dan bersinergi untuk tujuan yang sama. Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa disisi lain Allah hendak menguji manusia, sehingga nampaklah siapa diantara mereka yang terbaik amalnya (lihat QS Al-Mulk: 2)

Dialog antara Allah dan para malaikat disaat Allah hendak menciptakan seorang khalifah menunjukkan prediksi malaikat benar bahwa kehadiran manusia hanya akan melakukan kerusakan di muka bumi dan pertumpahan darah.

Sementara kami para malaikat adalah makhluk yang senatiasa bertasbih dengan memuji-Nya dan mensucikan-Nya. Namun Allah punya rencana dan misi tertentu disaat mengatakan bahwa “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS; Al-Baqaroh: 30).

Itulah sebabnya kemudian ada kelompok malaikat yang membangkang tak mau sujud kepada Adam yang kemudian dicap sebagai Iblis.

Beriman Unggul

Secara global manusia terbelah menjadi dua bagian. Pertama, golongan malaikat beriman yang sujud kepada Adam atas perintah Allah. Kedua, kelompok Iblis yang membangkang atas perintah Allah. Kelompok pertama inilah yang akan unggul dan yang kedua akan binasa.

Manusia akan menjadi unggul manakala mampu menggerakkan dan mengorientasikan seluruh potensi dirinya baik emosinya (nafsu), intelektualnya, maupun spritualnya menuju pada eksistensinya sebagai khalifah dan sebagai Abdullah (hamba Allah).

Peran kekhalifahan tercermin dalam kesungguhannya (mujahadah) mewujudkan nilai-nilai imannya dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka menjadikan seluruh sumber daya yang ada di alam sebagai alat untuk mewujudkan visi hidupnya.

Surah Al-Fatihah yang menggambarkan visi hidup begitu tegas dan lugas menyatakan bahwa tatanan masyarakat yang benar dan diridhoi oleh-Nya hanyalah yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya serta menempatkan Allah di atas segalanya; yang disembah, ditaati, sebagai tempat berlindung dan bermohon.

Interaksi sosialnya dipenuhi dengan cinta kasih diantara mereka sebagai perwujudan sifat Rahman dan Rahim-Nya Allah. Mereka itulah yang berjalan di atas jalan lurus, sebagaimana jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang sholeh yang telah mendapat nikmat di sisi-Nya (QS; Al-Fatihah: 1-5).

Manusia yang dilahirkan dari hasil dakwah dan tarbiyah Nabiullah Muhammad SAW adalah manusia-manusia unggul yang tak tertandingi hingga saat ini. Mereka rela menderita, disiksa, rela hidup melarat dengan mengorbankan seluruh harta yang dimilikinya bahkan nyawa sekalipun demi tegak dan terwujudnya cita-citanya yang mulia nan agung.

Sebutlah diantaranya ada Abdullah bin Hudzafa. Tentang sosok mulia Abdullah bin Hudzafah ini, Abu Rafi’ mengisahkannya dalam kitab Usudul Ghabah berikut:

“Umar -Radhiallaahu Anhu- mengirim pasukan tentara ke Romawi. Kemudian musuh menangkap Abdullah bin Hudzafah sebagai tawanan perang, lalu dihadapkan kepada raja. Mereka berkata, ‘Orang ini termasuk sahabat dekat Muhammad SAW. Raja bertanya, maukah kamu masuk agama Nasrani dengan imbalan setengah kekuasaanku aku berikan kepadamu?

Abdullah bin Hudzafah menjawab, sekiranya engkau berikan seluruh kekuasaanmu kepadaku, dan seluruh yang dimiliki bangsa Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad SAW sekejap mata pun.

Raja lalu berkata, jika demikian berarti kamu mesti dihukum mati! Abdullah menjawab, ‘Terserah kamu!. Kemudian diperintahkan agar dilaksanakan hukuman mati atasnya. Ia diletakkan dalam tiang salib. Namun dia dibebaskan karena dia mencium kepala raja atas persyaratan sang raja dengan imbalan seluruh tawanan dari kaum muslimin juga ikut bebas (Usudul Ghabah, 3/212).

Begitulah dahsyatnya kemantapakan keyakinan Islam seorang Abdullah bin Hudzafa. Dapat kita lihat betapa gigih dan teguhnya dalam memegang prinsip meskipun resiko begitu dahsyat menghadangnya. Demikianlah manusia didikan Rasulullah SAW sebagai celupan Al-Quran. Wallahu ‘alam.

______________

USTADZ WAHYU RAHMAN, penulis adalah Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply