Khalifatullah Bagi Semesta, Memilih Terdepan untuk Sesama

 0
Khalifatullah Bagi Semesta, Memilih Terdepan untuk Sesamaby Redaksi Hidayatullahdepok.orgon.Khalifatullah Bagi Semesta, Memilih Terdepan untuk SesamaSEJATINYA aneka ragam ciptaan Allah Ta’ala di alam ini antara satu dengan lainnya saling membutuhkan. Tercipta saling berpasangan baik bentuknya maupun jenisnya. Ada manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Dalam sistem ekologi, komponen terpenting adalah mahluk hidup. Ekosistem yang seimbang selalu ditandai dengan interaksi antara makhluk hidup dan juga lingkungan. Interaksi diantara makhluk yang saling berbeda […]
Oleh Ustadz Drs Wahyu Rahman

Oleh Ustadz Drs Wahyu Rahman

SEJATINYA aneka ragam ciptaan Allah Ta’ala di alam ini antara satu dengan lainnya saling membutuhkan. Tercipta saling berpasangan baik bentuknya maupun jenisnya. Ada manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya.

Dalam sistem ekologi, komponen terpenting adalah mahluk hidup. Ekosistem yang seimbang selalu ditandai dengan interaksi antara makhluk hidup dan juga lingkungan. Interaksi diantara makhluk yang saling berbeda pun dapat memberi manfaat antara satu dengan lainnya yang  dikenal dengan istilah simbiosis mutualisme.

Dalam usaha menciptakan keseimbanagan hidup di alam, maka Allah Ta’ala menetapkan hukum-Nya baik yang sifatnya qauniyah maupun tanziliyah. Jika ada diantara keduanya yang tidak diindahkan maka akan terjadi ketidaksesuaian yang akan menimbulkan kerusakan dan malapetaka.

Sehingga peran manusia sebagai khalifah harus mampu menjaga keseimbangan kehidupan di muka bumi sebagai amanah terbesar yang melekat pada diri manusia, seperti yang tertuang dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan  gunung-gunung tetapi semuanya enggan menerima amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh (QS: Al-Ahzab:72).

Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyimpulkan dari beberapa pengertian tentang amanah yakni pembebanan dan atau penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan syarat-syaratnya. Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya, maka ia akan diberi pahala.

“Namun, jika ia menyia-nyiakannya, maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima amanah ini, padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zalim. Kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan,” demikian dijelaskan Ibnu Katsir.

Adapun sikap manusia terhadap amanah dari Allah Ta’ala atau manusia untuk menyeimbangkan alam ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Tuhfatul ‘Iraqiyah fi A’malil Qalbiyyah, menyodorkan 3 tipe sikap manusia dalam menyikapinya.

Pertama, zhalimun linafsihi. Yaitu tipe orang yang menzhalimi dirinya yakni orang yang berbuat maksiat. Mereka meninggalkan apa-apa yang diperintahkan dan melakukan apa-apa yang dilarang.

Kedua, muqtashid. Yaitu kelompok manusia yang berada di tengah-tengah atau sedang. Yakni mereka menunaikan perkara-perkara yang diwajibkan dan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang.

Ketiga, sabiqun bil khairaat. Yaitu orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka ini adalah orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan mengerjakan perkara-perkara yang diwajibkan dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan dan yang dimakruhkan.

Bagi orang yang tercerahkan spiritualnya, memaknai sebuah perintah dan amanat adalah sesuatu yang mutlak ditunaikan. Sebab,  jika ditunaikan dengan sempurna, maka manfaat dan kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Begitu juga sebaliknya. Bahkan bukan sekedar ditunaikan tetapi justru menjadi terdepan dalam menunaikannya.

Memilih Terdepan
Seyogyanya jika tak bisa menjadi yang terbaik maka marilah kita berusaha menjadi yang terdepan dalam melakukan kebaikan. Terdepan melakukan kebaikan akan mendapat pahala kebaikan yang terus bertambah.

Kebaikan itu kemudian akan berlipat ganda seiring dengan bertambahnya orang yang melakukan kebaikan yang sama tersebab mengikuti kebaikan yang telah kita lakukan. Namun, kadang kala kita, terperdaya dengan rayuan serta bisikan syaitan sebagai ranjau kebaikan dan motivator kejahatan.

Disinilah letak strategisnya syariat Allah Ta’ala berupa ibadah sebagai media untuk mengundang ma’unah dan pertolongan-Nya. Sebab, bagaimanapun, posisi dan maqom seseorang tidak akan dapat lolos dari bisik rayu syaitan, kecuali hanya  dengan perlindungan-Nya.

Hal ini dapat dilihat dari kisah Nabi Yusuf AS ketika Zulekha isteri salah seorang pembesar  Mesir (Al-Azis) melancarkan rayuan kepadanya agar mau memenuhi keinginan nafsunya namun ditolak oleh Nabi Yusuf AS:

“Sesungguhnya wanita itu bermaksud (melakukan perbuatan keji) dengan Yusuf. Dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari Tuhannya). Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (QS. Yusuf: 24).

Ibadah yang dimaksudkan di atas adalah terjalinnya komunikasi intensif antara hamba dengan Tuhannya. Dimana hamba mampu merasakan kehadiran Allah Ta’ala disetiap aktivitas dan terlebih khusus pada setiap gerakan sholatnya sehingga terpancar di wajahnya bekas-bekas sujudnya.

Orang seperti inilah yang akan mendapat jaminan kemenangan atas mujahadanya untuk selalu khusyu’ dalam shalatnya. Karena Allah Ta’ala pun telah menjanjikan kemenangan dan tentu juga kebahagiaan bagi orang-orang  beriman yakni yang khuysu’ dalam sholatnya. (Lihat QS. Al-Mukminun:1-2).

Janji Allah Ta’ala tentang ganjaran kemenangan bagi orang beriman yang shalatnya khusyu’ tentu tidak saja dirasakan di akhirat. Di dunia Allah juga memberi kemenangan berupa perlindungan-Nya terhadap tipu daya syaitan.

Sehingga kemudian hidupnya orang beriman selalu berada di atas shirothol musataqim sebagaimana yang telah Allah berikan kepada para orang sholeh baik di masa Rasulullah SAW maupun setelahnya. Wallahu a’lam.*
__________
USTADZ WAHYU RAHMAN, penulis adalah Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply