Orangtua Murid PAUD dan SD Hidayatullah Depok Ikuti Kajian Parenting Pentingnya “Golden Age” Anak

 0
Orangtua Murid PAUD dan SD Hidayatullah Depok Ikuti Kajian Parenting Pentingnya “Golden Age” Anakby Yacong B Halikeon.Orangtua Murid PAUD dan SD Hidayatullah Depok Ikuti Kajian Parenting Pentingnya “Golden Age” AnakSEDIKITNYA seratus orangtua dan wali murid tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PG dan Toodler) dan SD Hidayatullah Depok mengikuti acara talkshow parenting bertema “Pentingnya Memahami Golden Age untuk Mensukseskan Pola Asuh Anak di Rumah dan Skeolah”, yang diisi oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, pakar Islamic Parenting dan konselor pernikahan, Ahad (30/11/2015) . Acara yang dipandu oleh Kepala […]

Bendri JaisyurrahmanSEDIKITNYA seratus orangtua dan wali murid tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PG dan Toodler) dan SD Hidayatullah Depok mengikuti acara talkshow parenting bertema “Pentingnya Memahami Golden Age untuk Mensukseskan Pola Asuh Anak di Rumah dan Skeolah”, yang diisi oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, pakar Islamic Parenting dan konselor pernikahan, Ahad (30/11/2015) .

Acara yang dipandu oleh Kepala Sekolah SD Integral Hidayatullah, Ustadz Iwan Ruswanda, ini berlangsung semarak dengan pembagian hadiah bagi yang menang doorprize dan bingkisan untuk peserta yang dinilai antusias.

Kegiatan yang digelar di Gedung Hidayatullah Training Center (HiTC) Komplek Pesantren Hidayatullah Depok ini diawali dengan curah gagasan dan tuang pengalaman disampaikan oleh salah satu orangtua murid yang sangat menginspirasi peserta.

Giliran Ustadz Bendri menyampaikan materinya, peserta semakin antusias apalagi ditopang oleh pembawaan ustadz yang tampak enerjik dengan penyampaian-penyampaiannya yang serius tetapi tetap santai dengan diselingi kelakar menggelitik.

Ustadz Bendri dalam pemaparannya menekankan pentingnya perang orangtua dalam pendidikan anak. Karena itu, beliau mengingatkan orangtua harus dapat memahami perannya sebagai figur kepala rumah tangga. Sebab, orangtua yang tak memiliki kecakapan berumah tangga dan membina keluarga, maka akan melahirkan malapetaka.

Orangtua atau lingkungan yang tak peduli pada pembinaan mental anak, maka akan melahirkan anak-anak yang kerdil jiwanya seperti sosok jiwa anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.

Kondisi ini juga akan memunculkan gejala degradasi psikis, y
akni dimana anak-anak lemah jiwa, tak memiliki sandaran yang kuat, serta tak memiliki kualitas personalia. Ustadz Bendri bahkan menilai adanya fenomena Father Hunger yang kini merebak. Indonesia saat ini disebutnya sebagai Fatherless Country, banyak anak yang berayah namun serasa yatim karena kurangnya ikatan antara ayah dengan anak. Sehingga terjadi kerusakan psikologis yang diderita anak-anak karena kehilangan sosok ayah.

“Anak yang dekat dengan ayahnya cenderung menjadi pribadi yang percaya diri dan mudah beradaptasi dengan lingkungan luar. Karena bagi anak-anak, ayah adalah sosok misterius karena jarang pulang. Namun ketika seorang ayah bisa menjalankan perannya, maka anak akan menyimpulkan bahwa dunia luar aman baginya,” kata Ustadz Bendir mengingatkan sebagaimana sering beliau ungkapkan dalam banyak kesempatan.

Adapun kemudian efek dari fenomena dari father hunger, anak akhirnya kurang dapat beradaptasi dengan lingkungan luar. Sekolah nempel terus ke ibunya minta ditungguin.

Dia pelan-pelan bisa saja terhantar menjadi sosok anak yang memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Beliau menyebutkan hasil riset mangatakan bahwa 100%Bendri Jaisyurrahman2 gay adalah karena kehilangan sosok ayah.

Ustadz Bendri menekankan bahwa peran kolektif antara ayah dan bunda sangat penting dalam menuntun anak menjadi pribadi yang shaleh, mandiri, dan empatik sebagaimana diharapkan. Bahkan lebih jauh sesungguhnya, kata beliau, ayahlah yang memiliki peran sentral dalam membentuk frame anak tentang bagaimana mereka memiliki jatidiri yang kuat serta memiliki kematangan prinsipi dan kesadaran intelektual.

“Karena dalam Islam, seorang anak akan ikut nasab ayahnya. Nasab adalah berarti pertanggungjawaban akan di minta dari seorang ayah. Berhasil dan gagalnya seorang ayah yang akan dimintai pertanggungjawaban sesuai nasabnya,” tegasnya memungkasi.

Sekedar informasi, sebagai bentuk kepedulian sekaligus dalam rangka penyelenggaraan pendidikan yang integral dan holistik, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok secara rutin menggelar kegiatan-kegiatan kebersamaan seperti training parenting ini.

Kegiatan-kegiatan edukatif dan menggugah empati kerumahtanggan seperti ini dilakukan berangkat dari kesadaran bahwa mendidik dan menuntun anak dalam menapaki perjalan hidupnya agar selamat tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau dimana anak itu didik, tetapi menjadi responsibilitas kolektif antara lembaga pendidikan, lingkungan, dan orangtua murid itu sendiri. (ybh/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply