Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Gelar Shalat Gerhana Matahari

 0
Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Gelar Shalat Gerhana Matahariby Yacong B Halikeon.Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Gelar Shalat Gerhana MatahariYayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, menyelenggarakan shalat berjamaah gerhana matahari (shalatul kusufain) yang berlangsung di Masjid Ummul Quro, komplek Pesantren Hidayatullah Depok, pada hari Rabu (09/03/2016) lalu. Shalat gerhana ini diikuti oleh ratusan jamaah mulai dari warga pesantren hingga masyarakat sekitar. Imam shalat dipimpin oleh Ustadz Aminullah Bonggo Al Hafidz dan khutbah oleh […]

Shalat Gerhana di Hidyatullah DepokYayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, menyelenggarakan shalat berjamaah gerhana matahari (shalatul kusufain) yang berlangsung di Masjid Ummul Quro, komplek Pesantren Hidayatullah Depok, pada hari Rabu (09/03/2016) lalu.

Shalat gerhana ini diikuti oleh ratusan jamaah mulai dari warga pesantren hingga masyarakat sekitar. Imam shalat dipimpin oleh Ustadz Aminullah Bonggo Al Hafidz dan khutbah oleh Ustadz Hafid Bahar yang juga selaku Ketua DKM Ummul Quro.

Shalat gerhana ini berlangsung selama kurang lebih 40 menit dengan kesyahduan bacaan imam yang sangat menyentuh.

Sekedar diketahui, shalat dua gerhana atau salatul kusufain berarti salat dua gerhana atau salat yang dilakukan saat terjadi gerhana bulan maupun matahari. Salat yang dilakukan saat gerhana bulan disebut dengan salat khusuf; sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan salat kusuf.

Adapun dalil-dalil yang mendasari dilakukannya salat gerhana diantarabta ialah:

“Telah terjadi gerhana Matahari pada hari wafatnya Ibrahim putra Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Berkatalah manusia: Telah terjadi gerhana Matahari karana wafatnya Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam “Bahwasanya Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan hamba-hambaNya dengan keduanya. Matahari gerhana, bukanlah kerana matinya seseorang atau lahirnya. Maka apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu salat dan berdoa sehingga selesai gerhana.” (HR. Bukhari & Muslim)

Sunnah fi’liyyah
(عن عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ على عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلاَةَ جَامِعَةً فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ (رواه البخاري واللفظ له، ومسلم، وأحمد

Dari Aisyah (diriwayatkan) bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka ia lalu menyuruh orang menyerukan “ash-salatu jami‘ah”. KemudiaShalat Gerhana di Hidyatullah Depok6n dia maju, lalu mengerjakan salat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud. (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Sunnah qauliyah
(عن أبي مَسْعُودٍ قال قال النبي صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ من الناس وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا (رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Mas’ud r.a., ia berkata: Nabi saw telah bersabda: Sesungguhnya matahari dan Bulan tidak gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda kebesaran Allah. Maka apabila kamu melihat gerhana keduanya, maka berdirilah dan kerjakan salat.

Salat gerhana dilakukan dua rakaat dengan 4 kali rukuk yaitu pada rakaat pertama, setelah rukuk dan Iktidal membaca Al Fatihah lagi kemudian rukuk dan iktidal kembali setelah ituShalat Gerhana di Hidyatullah Depok3 sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.

Bacaan Al-Fatihah pada salat gerhana bulan dinyaringkan sedangkan pada gerhana Matahari tidak. Dalam membaca surat yang sunnat pada tiap rakaat, disunnatkan membaca yang panjang.

Hukum salat gerhana adalah sunnah muakkad berdasarkan hadis Aisyah. Nabi S.A.W dan para sahabat melakukan di masjid dengan tanpa adzan dan ikamah.

Menyaksikan Kebesaran Allah

Usai shalat, jamaah sempat menyaksikan detik-detik terjadinya gerhana matahari total ini. Umumnya dilakukan dengan peralatan seadanya.

Namun, perlu diketahui, menatap matahari secara langsung baik saat terjadinya Gerhana Matahari maupun matahari bersinar biasa dinilai sangat berbahaya bagi kesehatan mata.

Karena itu, kalangan ahli mengimbau masyarakat untuk menggunakan alat bantu berupa kacamata khusus atau alat bantu lainnya sehingga tidak melihat secara proses terjadinya Gerhana Matahari.

Namun hari ini, Rabu (09/03/2016) kemarin, wwarga Pondok Pesantren Shalat Gerhana di Hidyatullah Depok4 Hidayatyllah Depok, Cilodong, Kota Depok melakukan hal yang berbeda.

Setelah melaksanakan shalat Gerhana Matahari, beberapa warga sangat antusias melihat gerhana tersebut secara langsung. Ada yang menggunakan alat bantu, dan ada juga yangg melihat tanpa alat.

Dua orang santri Hidayatullah Depok dalam foto ini, sangt antusias ingin melihat kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala ini. Untuk melihat gerhana, Ia rela mencabut kaca jendela kamarnya.

“Jarang-jarang nih yang beginian. Daripada nyesal, mending lihat pakai kaca aja,” ujar salah seorang dari mereka.

Shalat Gerhana di Hidyatullah Depok5
Eh… ternyata banyak bocah-bocah lain pun tak mau ketinggalan. Namanya Musafir dan Ahmadi. Mereka mengumpulkan pecahan kaca hitam agar bisa melihat gerhana tersebut dengan jelas.

“Nahh.. ini baru jelas,” ujarnya sambil memanggil teman lainnya. (dbs/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply