Kampus Hidayatullah Depok Bangun Karakter Mulia Santri dengan Bekerja Bakti

 0
Kampus Hidayatullah Depok Bangun Karakter Mulia Santri dengan Bekerja Baktiby Yacong B Halikeon.Kampus Hidayatullah Depok Bangun Karakter Mulia Santri dengan Bekerja BaktiSALAH satu kultur yang melekat dalam jatidiri Hidayatullah adalah gotong royong. Tak ayal hal selalu menjadi kebiasaan yang dibangun di setiap kampus-kampus Hidayatullah tak terkecuali di lingkungan Kampus Pendidikan Islam Hidayatullah Depok, Jawa Barat. Untuk terus mendorong para santri dan warga untuk menhidupkan budaya kerja dan tradisi kemandirian adalah dengan mentradisikan kegiatan kerja bakti di setiap […]

IMG-20160522-WA009 IMG-20160522-WA011 IMG-20160522-WA012 IMG-20160522-WA013 IMG-20160522-WA014 IMG-20160522-WA016 IMG-20160522-WA018 IMG-20160522-WA019SALAH satu kultur yang melekat dalam jatidiri Hidayatullah adalah gotong royong. Tak ayal hal selalu menjadi kebiasaan yang dibangun di setiap kampus-kampus Hidayatullah tak terkecuali di lingkungan Kampus Pendidikan Islam Hidayatullah Depok, Jawa Barat.

Untuk terus mendorong para santri dan warga untuk menhidupkan budaya kerja dan tradisi kemandirian adalah dengan mentradisikan kegiatan kerja bakti di setiap waktu khususnya pada hari Ahad dimana semua santri libur dari aktifitas belajar formal.

Beragam medium yang bisa menjadi alternasi dalam kegiatan ekstrakurikuler ini. Bisa berupa kerja bakti membersihkan halaman asrama, dapur umum, kamar mandi, dan lain sebagainya. Namun, tak jarang pula melakukan kegiatan kerja bakti yang lebih sedikit berat seperti mengecor bangunan atau setali tiga uang dengannya.

Seperti yang terpantau pada Ahad pekan lalu. Tampak warga dan santri berbaur bersama untuk mengangkat batu bata ke lantai dua bangunan Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok yang dibangun atas donas muhsinin melalui lembaga amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Para guru, pembina, dan warga juga santri, bersama-sama membereskan batu bata yang diangkut ke atas lantai dua.

Kegiatan ini berlangsung beberapa waktu dan kemudian dilanjutkan dengan santap pagi bersama. Tidak ada perbedaan dan perlakukan yang berbeda antara santri dengan para guru. Semua sama. Menu sarapa yang dikonsumsi pagi yang cerah itu sama. Lauknya sama. Wadahnya sama. Dan, merumput bersama.

Inilah tradisi kebersamaan yang memberikan pembelajaran tentang pentingnya saling mendukung dan berempati. Juga mengajarkan pentingnya kebersamaan dan keswadayaan sehingga dengannya setiap masalah setiap masalah selalu dapat diselesaikan dengan baik penuh lapang dada.

Soal kultur Hidayatullah, anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, Ust Naspi Arsyad, pernah menegaskan pentingnya terus meneguhkan budaya organisasi dan kultur berlembaga Hidayatullah. Kata beliau, setiap lembaga atau gerakan tanpa penegakan kultur maka sama saja mati.

“Menegakkan kultur berlembaga berarti terbangunnya sensitifitas yang didorong oleh etika dan kesadaran. Kultur lembaga itu tegak bukan karena ketentuan dan peraturan-peraturan,” kata Naspi dalam taushiah Ahad shubuh pekanan di Kota Depok, seperti dikutip Buletin Hidayatullah edisi Mei 2015 lalu.

Beliau menegaskan, kita tidak bisa hanya mengharap tegaknya budaya lembaga kepada kader yang memegang amanah struktural semata. Sehingga, secara kultural, apa yang telah menjadi garis ketentuan dan budaya organisasi Hidayatullah hendaknya menjadi kewajiban kita semua sebagai anggota.

Kultur berlembaga Hidayatullah seperti memungut sampah, Naspi mencontohkan, mungkin terlihat sederhana tapi ini adalah kultur kampus-kampus Hidayatullah se-nusantara sejak dulu yang hari ini sepertinya sudah mulai mengendur.

“Bayangkan, misalnya, kalau ada 50 orang santri yang setiap pulang dari masjid memungut sampah di jalan yang dilalui. Maka, setiap pagi ada 50 serakan sampah yang dibersihkan,” katanya. Apalagi kalau ada 100-200 santri, imbuhnya.

“Memungut sampah segitu saja kan tidak bikin terlambat tiba di asrama. Tidak mungkin-lah misalnya santri karena pungut sampah pagi-pagi sambil jalan pulang lalu tiba di asrama masuk waktu dzuhur. Nggak mungkin,” selorohnya disambut tawa jamaah.

Sekedar diketahui, jarak asrama santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dengan masjid hanya sepelemparan batu.

Selain itu, budaya memberi salam juga harus dikuatkan. Ditegaskan Naspi, kampus-kampus Hidayatullah hendaknya terus membangun tradisi memberi salam. Setiap santri mesti membudayakan tradisi memberi dan menjawab salam ini.

“Jangan sampai ketemu di jalan tidak saling mengucapkan salam, bahkan menyapa pun tidak,” ingatnya.

“Kultur-kultur Hidayatullah dalam kehidupan kampus dan interaksi sosial secara luas jangan sampai luntur. Sensitifitas berlembaga harus ditumbuhkan yang lahir dari etika dan kesadaran penuh,” tegas beliau.

Naspi mengungkapkan, orang yang tidak memiliki kepekaan atau sensitifitas pada umumnya tidak beretika dan cenderung manusia seperti ini berperangai kasar. (ain/ybh)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply