Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke-71, Menuju Kemenangan Hakiki

 0
Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke-71, Menuju Kemenangan Hakikiby Yacong B Halikeon.Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke-71, Menuju Kemenangan HakikiOleh Ustadz Lalu Mabrul* TUJUH puluh satu tahun sudah Allah Ta’aala mengkaruniakan bangsa Indonesia yang kita cintai ini terbebas dari belenggu penjajahan yang berlangsung berabad-abad lamanya. Waktu yang sangat panjang melampai lima generasi. Sekarang, penjajahan itu sudah berlalu. Indonesia sudah merasakan indah dan manisnya kebebasan. Indonesia merasakan kebebasan dari ketergantungan. Dan, bebas menemukan arah negerinya […]

Ustadz Lalu Mabrul, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok 2016-2020Oleh Ustadz Lalu Mabrul*

TUJUH puluh satu tahun sudah Allah Ta’aala mengkaruniakan bangsa Indonesia yang kita cintai ini terbebas dari belenggu penjajahan yang berlangsung berabad-abad lamanya. Waktu yang sangat panjang melampai lima generasi.

Sekarang, penjajahan itu sudah berlalu. Indonesia sudah merasakan indah dan manisnya kebebasan. Indonesia merasakan kebebasan dari ketergantungan. Dan, bebas menemukan arah negerinya sendiri dari campur tangan dan gangguan negara-negara adikuasa.

Bahkan, euforia kemerdekaan selalu dirayakan oleh seluruh anak negeri di nusantra ini dari mulai perkampungan terpencil sampai ramainya perkotaan metropolitan.

Euforia itu terus berlangsung dari tahun ketahun dengan mengadakan kegiatan yang mengekspresikan betapa indahnya alam kebebasan.

Memaknai Kemerdekaan

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah makna dan hakikat kemerdekaan itu? Lalu bagaimana seharusnya seorang generasi menyikapi kemerdekaan?

Ketika manusia dilahirkan, sesungguhnya manusia sudah diberikan kebebasan atau kemerdekaan untuk memilih dengan dua pilihan yaitu antara iman atau kafir.

Manusia juga diberikan kebebasan menjadi orang baik atau buruk. Menjadi perubah atau pecundang. Begitulah Allah mengisyaratkan dalam Al-Quran.

Lalu, bagaimana hakikat kemerdekaan seorang generasi muslim (rijaalul muslimin). Hakikat kemerdekaan bagi kita adalah ketika kita terbebas dalam dua hal, yaitu:

Pertama: Iman terbebas dari belenggu kekufuran. Rijaalul muslim yang merdeka adalah mereka yang tidak terbelenggu dan tersandra oleh nafsunya.

Rijalul muslim yang merdeka adalah mereka yang membebaskan dan membersihkan keimanan dan nafsunya dari tipu daya syaitan.

Rijalul muslim yang merdeka adalah mereka yang selalu menyucikan jiwanya dari segala kotoran yang menyelimutinya.

قد افلح من زكاها وقد خاب من دساها
Sungguh beruntungglah orang-orang yang senantiasa mensucikan jiwanya dan merugi mereka yang mengotorinya.

Kedua: Manusia merdeka/bebas dari kebodohan. Kebodohan merupakan musuh yang harus bebas dari setiap genersi ini.

Orang yang memelihara kebodohan dalam dirinya sesungguhnya ia adalah orang yang terjajah, orang yang terbelenggu. Bilamana ia bercokol dalam diri manusia maka hakekatnya “keberadaannya adalah ketiadaannya”.

Ia tidak akan bisa memberikan manfaat terhadap diri apalagi yang lain. Ia tidak akan bisa memberi Karena ketiadaan.

فاقد الشيء لا يؤتي
Seseorang yang tidak memiliki sesuatu maka Ia tidak akan bisa memberi.

Adapun sifat orang yang bodoh, Al Qur’an menyebut mereka dengan dua sebutan yaitu al-jahlu dan as-syufaha.

Al-jahlu adalah mereka yang mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya. Sementara assyufaha adalah orang yang tidak tahu/ bodoh juga melakukan perlawanan terhadap kebenaran.

Kemerdekaan Membawa Kemuliaan

Jika kedua hal dari hakikat kemerdekaan ini belum didapatkan maka sesungguhnya kita belum berada pada kemerdekaan dan kebebasan hakiki. Tapi jika ia dapat diraih maka cukuplah ia akan menjadi kemuliaan di dunia dan akhirat.

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتو العلم درجات

Oleh karenanya hiasilah kemerdekaan ini dengan terus meningkatkan kualitas dan kapasitas diri kita masing.

Jika kita seorang pendidik, maka lakukanlah itu dengan penuh dedikasi yang di gugu dan ditiru.

Jika kita seorang murid jadilah murid yang sabar yang tidak akan pernah menyerah untuk membebaskan diri dari kebodohan. Itu penting.

Karena di tangan kalianlah negeri ini dititipkan. Karena pada pundak kalianlah masa depan negeri ini akan letakkan.

اجهد ولا تكسل ولا تكن غافلا فندامة العقبي لمن يتكاسل
Bersungguh-sungguhlah, jangan jadi pemalas maka kelak penyesalanlah yang akan didapatkan bagi orang-orang pemalas.

شبان اليوم رجال الغد
Pemuda hari ini adalah pemimpin pada masa yang akan datang.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 71!

_________
*) USTADZ LALU MABRUL, penulis adalah Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Naskah ini juga disampaikan pada kegiatan Upacara Peringatan HUT RI ke-71 di Kampus Hidayatullah Depok, Rabu (17/08/2016).

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply