Komitmen Pendidikan Hidayatullah Depok Mencetak Generasi Qurani Berbakti untuk Negeri

 0
Komitmen Pendidikan Hidayatullah Depok Mencetak Generasi Qurani Berbakti untuk Negeriby Yacong B Halikeon.Komitmen Pendidikan Hidayatullah Depok Mencetak Generasi Qurani Berbakti untuk NegeriKENDATIPUN hanya dipersoalkan oleh segelintir orang saja yang memang tidak cukup paham, argumentasi menolak isi Al Qur’an terkait perintah tidak memilih pemimpin non-muslim yang termuat dalam Al Qur’an Surah Al-Maidah ayat 51 sampai dengan 57 tetap membuat kita prihatin. Keprihatinan kita adalah munculnya segelintir orang yang mengklaim sebagai ahli mencoba memberikan tafsir sangat rancu terhadap kandungan […]

smp-integral-hidayatullah-depok-profileKENDATIPUN hanya dipersoalkan oleh segelintir orang saja yang memang tidak cukup paham, argumentasi menolak isi Al Qur’an terkait perintah tidak memilih pemimpin non-muslim yang termuat dalam Al Qur’an Surah Al-Maidah ayat 51 sampai dengan 57 tetap membuat kita prihatin.

Keprihatinan kita adalah munculnya segelintir orang yang mengklaim sebagai ahli mencoba memberikan tafsir sangat rancu terhadap kandungan Al Qur’an dengan melabrak otoritas dan syarat-syaratnya.

Padahal, tidak ada lagi yang perlu ditafsirkan dari rangkaian surah Al-Maidah tersebut sebab ayat itu sudah jelas untuk tidak menjadikan non muslim sebagai pemimpin.

Bukan hanya muamalah (urusan kepemimpinan) saja, rangkaian ayat tersebut termasuk juga menerangkan larangan dalam ahwa yanshuruunahum (mendukung), wa yastanshoruunahum (meminta dukungan). Sehingga tidak perlu lagi memperdebatkan yang sudah pasti.

Karenanya, berangkat dari realia tersebut dimana umat Islam diperhadapkan problem kebangsaan dan keummatan yang cukup serius semacam itu, maka lingkup jejaring pendidikan di Hidayatullah Depok memanndang penting gerakan internalisasi nilai-nilai Al Qur’an kepada segenap peserta didik.

Aplikasi nilai-nilai kependidikan Islam yang fundamental tidaklah berlawanan dengan prinsip Islam moderat yang mengedepankan nilai-nilai kejuangan dan kebangsaan. Sehingga dengan demikian, Al Qur’an harus menjadi asas mula terselenggaranya pendidikan yang multidisiplin ilmu.

Islam dan Al Qur’an sudah sepantasnya harus ditinggikan selain tentu menjadi pedoman hidup kita dalam relasi sosial. Termasuk Ketika Islam disepelekan, dinista, dan diinjak-injak di luar, maka adalah wajar mencecam dan melawan sebab sejatinya membela Islam adalah bagian pembelaan terhadap bangsa.

Penegasan bahwa membela Islam adalah bagian pembelaan terhadap bangsa, tidaklah berlebihan. Sebab, negeri ini bisa terlepas dari penjajahan berkat perjuangan jihad kaum muslimin tanpa menafikkan peran pihak-pihak lainnya. Namun peran umat Islam dalam membela dan memperjuangkan NKRI sungguh tak terbantahkan.

Paham Kebangsaan

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, berkomitmen untuk senantiasa merawat rajutan kecintaan terhadap Al Qur’an serta nilai sosial kebangsaan yang diiringinya.

Hal itu sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita yang memiliki keterikatan kepada tanah tumpah darah, adat istiadat leluhur, serta penguasa setempat telah menghiasi jiwa umat manusia sejak dahulu kala, tetapi paham kebangsaan (nasionalisme) dengan pengertiannya yang lumrah dewasa ini
baru dikenal pada akhir abad ke-18.

Sebab itu, untuk memahami wawasan Al-Quran tentang paham kebangsaan, salah satu pertanyaan yang dapat muncul adalah, “Kata apakah yang sebenarnya dipergunakan oleh kitab suci itu untuk menunjukkan konsep bangsa atau kebangsaan? Apakah sya’b, qaum, atau ummah?”

Kata qaum dan qaumiyah sering dipahami dengan arti bangsa dan kebangsaan. Kebangsaan Arab dinyatakan oleh orang-orang Arab dewasa ini dengan istilah Al-Qaumiyah Al-‘Arabiyah. Sebelumnya, Pusat Bahasa Arab Mesir pada 1960, dalam buku Mu’jam Al-Wasith menerjemahkan “bangsa” dengan kata ummah.

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya, Wawasan Al-Qur’an, kata sya’b juga diterjemahkan sebagai “bangsa” seperti ditemukan dalam terjemahan Al-Quran yang disusun oleh Departemen Agama RI, yaitu ketika menafsirkan surat Al-Hujurat (49): 13.

Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dari ayat tersebut tersirat langgam yang sangat jelas bahwa Islam mendukung paham kebangsaan karena Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.

Sungguh tidak dapat disangkal bahwa Al-Quran memerintahkan persatuan dan kesatuan. Sebagaimana secara jelas pula Kitab suci ini menyatakan bahwa “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu” (QS Al-Anbiya’ [2l]: 92, dan Al-Mu’minun [23]: 52).

Dengan demikian, kiranya kita terus bersama selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi kita dan pedoman hidup kita dan mengiringinya dengan komitmen persatuan yang tak tergoyahkan untuk membangun peradaban mulia di negeri tercinta ini. Insya Allah. (ybh/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply