Teladan Kisah Tukang Masak Santri Hidayatullah Depok Beraktifitas Mulai Pukul 02.00 Dini Hari

 0
Teladan Kisah Tukang Masak Santri Hidayatullah Depok Beraktifitas Mulai Pukul 02.00 Dini Hariby Yacong B Halikeon.Teladan Kisah Tukang Masak Santri Hidayatullah Depok Beraktifitas Mulai Pukul 02.00 Dini HariPERNAHKAH membayangkan pekerjaan Anda dimulai sejak pukul 02:00 WIB dini hari dan baru mulai bisa beristirahat secara penuh pada pukul 20:00 WIB. Dan itu berlangsung selama 7 hari selama sepekan. Kedengarannya seperti mustahil, tapi demikianlah aktifitas keseharian yang dijalani secara rutin oleh Bapak Sofyan sebagai penanggungjawab yang juga tukang masak untuk ratusan santri di lingkungan […]

PERNAHKAH membayangkan pekerjaan Anda dimulai sejak pukul 02:00 WIB dini hari dan baru mulai bisa beristirahat secara penuh pada pukul 20:00 WIB. Dan itu berlangsung selama 7 hari selama sepekan.

Kedengarannya seperti mustahil, tapi demikianlah aktifitas keseharian yang dijalani secara rutin oleh Bapak Sofyan sebagai penanggungjawab yang juga tukang masak untuk ratusan santri di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

Kendatipun merupakan rutinitas yang berat dan tampak membosankan, namun bagi Bapak Sofyan, hal tersebut dianggap sebagai ladang amal baginya.

Setiap pukul 02.00 dini hari, Sofyan harus sudah berada di pasar Cikema yang berlokasi di Kampung Kranji, Jln Raya Bogor, Cibinong. Hal itu untuk memastikan agar bahan-bahan konsumsi untuk santri benar-benar masih segar, bersih, dan higienis.

Pasar Cibinong Kesohor Market atau Cikema merupakan salah satu pasar induk yang menjadi tujuan belanja masyarakat Depok dan Bogor. Namun untuk mendapatkan bahan-bahan yang segar, Sofyan sudah berada di sana sejak dini hari.

“Jadi kalau masaknya pun kita sajikan ke santri dalam kondisi sehat dan higienis. Saya selalu berusaha memasak dan menyajikan yang benar-benar segar,” kata Sofyan dalam obrolan dengan redaksi beberapa waktu lalu.

Seperti ikan misalnya, Sofyan selalu berupaya memastikan ikan yang dikonsumsi oleh santri adalah ikan-ikan segar. Untuk itu, dia sudah harus berada di Pasar Cikema sejak dini hari untuk mendapatkan ikan segar dari pelelangan ikan Tanjung Priok.

Selain itu, sayur-sayuran pun tak luput dari perhatian Sofyan. Dia mengatakan, sebenarnya untuk mendapatkan bahan sayur sangat mudah karena banyak dijual di pasar tradisional atau kelontong di sekitar pesantren. Namun Sofyan inging bahan sayuran yang nomor wahid, sehingga dia pun rela setiap dini hari ke Pasar Cikema untuk mendapatkan kualitas sayuran terbaik.

Adapun soal menu, Sofyan pun sangat teliti. Dalam sepekan, dia memastikan santri harus mendapatkan asupan sayuran yang berbeda. Dalam sehari pun menunya berbeda antara pagi, siang, dan makan malam.

“Biar santri tidak bosan. Jadi menunnya kita variasikan. Makanya saya pun tidak pernah mau menyajikan mie instan sebagai lauk karena tidak sehat. Masih banyak bahan sehat yang lain,” imbuhnya.

Sofyan menceritakan, mengurus makanan untuk ratusan orang bukanlah perkara mudah. Apalagi budget harian untuk kebutuhan belanja tersebut sudah diplot sehingga dirinya harus pintar-pintar mengelola.

Dan, Sofyan benar-benar sosok yang luar biasa. Dengan budget yang relatif minimum itu, dia bisa mengolahnya menjadi sajian makanan dengan citarasa yang maksimum.

Salah seorang mahasiswa STIE Hidayatullah, Abdul Ghofur, yang rutin menikmati sajian dari dapur olahannya, mengakui kelezatan dan kenikmatan masakan Sofyan.

“Rasa dan kelezatannya masakan Pak Sofyan tidak kalah dengan warung-warung makan yang ada. Menunya pun variatif,” kata Ghafur yang juga salah satu pengasuh santri ini.

Santri lainnya, Abdur Rohim, pun menyatakan hal serupa. Menu masakan dari Pak Sofyan membuatnya tak mau ketinggalan melahapnya.

Rohim kebetulan bertugas mengantar jemput rantang makanan untuk pengasuh. Menu-menu sajiannya pun selalu menggoda.

Apa rahasia Bapak Sofyan dalam menjalani amanah yang jelas tidak sederhana ini? Sofyan mengatakan kuncinya adalah kesabaran dan keikhlasan.

“Menghadapi santri itu harus sabar. Termasuk dalam menyajikan menu masakan pun harus sabar dan ikhlas,” katanya.

Rutinitas Sofyan yang setiap malam dini hari ke pasar bukan tanpa risiko. Namun dia jalani pekerjaan ini dengan jiwa yang lapang. Menurutnya, inilah bentuk kontribusinya untuk dakwah dan perjuangan Islam yang diharapkan kelak melahirkan generasi yang bermanfaat untuk agama dan bangsa.

Barokallaahu alaikum Pak Sofyan. Semoga kebaikan Bapak ini tercatat di sisi Allah Ta’ala sebagai catatan pahala yang berlipat ganda dan kelak mendapatkan balasan terbaik dari Allah Subhanahu Wataa’ala, Aamiiin. (ybh/hio)

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply