Virus Kebohongan

 0
Virus Kebohonganby Administratoron.Virus Kebohonganhidayatullah.com IMAM  Al-Ghazali dalam kitab “ Ihyā ‘Ulūm al-Dīn ” (III / 133) mencatat beberapa penyakit atau virus yang jelas bagi lisan. Di antara yang beliau sebut -virus adalah – kebohongan dalam ucapan dan sumpah. Kebohongan, kata beliau, merupakan bagian dari dosa-dosa yang sangat buruk dan aib yang keji. Isma’il bin Wasith pernah mendengar Abu […]
hidayatullah.com IMAM  Al-Ghazali dalam kitab “ Ihyā ‘Ulūm al-Dīn ” (III / 133) mencatat beberapa penyakit atau virus yang jelas bagi lisan. Di antara yang beliau sebut -virus adalah – kebohongan dalam ucapan dan sumpah.

Kebohongan, kata beliau, merupakan bagian dari dosa-dosa yang sangat buruk dan aib yang keji. Isma’il bin Wasith pernah mendengar Abu Bakar berkhutbah pasca meninggalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,  “Aku pernah dinasihati Rasulullah di tempat ini:’ Jauhilah olehmu kebohongan karena keburukan, dan keduanya di dalam Neraka .” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang terbiasa bermain, maka akan dianggap sebagai tukang bohong. Sabda Nabi, ” Persatuan senantiasa berdusta dan penemuan untuk selalu berdusta” ia menulis disisi Allah sebagai seorang pendusta . “(HR. Muslim)

Bayangkan! Dicap sebagai pembohong oleh menusia saja begitu menyesakkan, bahkan yang mengecapnya adalah Allah Subhanahu wata’ala. Hadits ini menunjukkan dengan sangat tegas bahaya kebohongan.

Selain itu, bahaya kebohongan yang lain adalah membuat orang masuk dalam kat

Virus Kebohongan

egori munafik. Sabda Nabi, ada tiga ciri orang munafik: Jika memenuhi dia menyalahinya, jika klip amanah, ia berkhianat dan jika berkata, dia berbohong. Hadits itu bisa dilihat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Dalam sejarah, bisa dibaca, musuh terbesar dari Islam adalah orang-orang munafik. Mereka sudah terbiasa menggunakan apa yang ada dibenak mereka. Secara lahiriah melihat tampilan Islam, namun pengk membingungkan, mereka sangat mendongkrak Islam. Kebohongan dalam bergaul sosial, adalah ciri khas mereka. Maka tidak berdarah jika kelak, neraka yang ditempati mereka –sebagaimana surat An-Nisa ayat 145 – adalah yang paling bawah.

Tak hanya itu, kebohongan juga menyulut murka Allah. Orang yang memiliki perangai seperti ini, kelak di akhirat tidak akan diajak berbicara dengan Allah Subhanhahu wata’ala. Dalam hadits riwayat Muslim ada yang tiga orang yang tidak akan diajak oleh Allah, salah satunya adalah yang bersumpah dengan kebohongan.

Menurut riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi kebohongan itu terlarang, walau hanya dilepas untuk membuat orang lain tertawa. Nabi sendiri juga pernah bercanda dan menciptakan sahabatnya tertawa, tapi dia ingin dagelan dusta yang dilupakan untuk membuat orang lain tertawa.

Menukil riwayat Tirmidzi, Imam Ghazali juga mengemukakan sabda nabi bahwa orang yang bohong yang bohong sejatinya bau busuk. Begitu busuknya oto, malaikat pun menjauh dalam jarak satu mil.

Meskipun pada dasarnya hukum berbohong itu haram, namun ada tiga kondisi yang menjadi pengecualian. Imam Tirmidzi Rahimahullah dalam Sunan-nya, meriwayatkan sabda nabi, “Tidak boleh berdusta (berbohong), kecuali dalam tiga hal: seorang suami yang berbicara terhadap isterinya agar ia rida sampai; kedustaan ​​pada peperangan; dan kedustaan ​​yang dilakukan dalam rangka untuk mendamaikan (sesama) manusia.

Pada kasus yang lebih mirip dengan virus yang berinisial RS, ketiga kebohongan itu sama sekali tidak cermin. Secara otomatis dengan blak-blakan melalui siaran pers pengakuan kebohongannya. Sebuah tindakan yang bukan saja diri sendiri tetapi juga orang lain yang di sekitarnya.

Kebohongan sejak masa lalu memang senantiasa ada. Namun, jika kebohongan sudah dilakukan oleh tokoh masyarakat atau tokoh politik, maka akan berdampak buruk bagi kehidupan sosial. Risiko yang paling tepat adalah krisis kepercayaan di ranah sosial.

Kita jadi merindukan politisi-politisi yang jujur ​​dan tak suka untuk berbicara politisi-politisi di masa lalu. Sebut saja misalnya, Mohammad Natsir. Di samping kesantunan, kesederhanaan dan karakter luhur lainnya, beliau dikenal sebagai orang yang sangat baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Jakoeb Oetama, dalam buku “ 100 tahun  Mohammad Natsir : Berdamai dengan Sejarah ” (2008: 40) menyatakan kejujuran beliau, “Mohammad Natsir juga memiliki kekuatan lain yang mengesankan. la sebagai politikus dan pemimpin partai, ia jujur. Dan masa itu, kejujuran termasuk tidak menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang merupakan ciri yang menonjol.

Bahkan kejujuran itu sudah mejadi karakter luhurnya sejak kecil. Kata Hamdi, yang mendapat cerita dari Siti Zahara (neneknya), “Semasa kanak-kanak Natsir orangnya lugu, jujur, dan sudah kelihatan akan jadi pemimpin,” (Tempo,  Natsir Politik Santun di Antara dua Rezim , 10).

Kita berharap, ke depan kejujuran yang menjadi punggawa bagi perpolitikan dan interaksi kita sebagai bangsa; bukan kebohongan. Sekelumit cerita dari Natsir paling tidak memberi inspirasi, yaitu menjadi politisi sukses tak harus diraih dengan kebohongan.

Sabda Nabi ﷺ suka hal ini senantiasa relevan untuk direnungi:

عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا, وإياكم والكذب فإن الكذب يهدى إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا

Kalian wajib berlaku jujut, karena itu berarti jujur ​​(pelakunya) terhadap kebaikan, dan memberikan itu kepada Surga. Sungguh senantiasa jujur ​​dan berusaha untuk selalu menjadi sisi terbaik Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan jauhilah oleh kamu sifat bohong, karena sesungguhnya bohong itu menunjukkan pelakunya untuk keburukan, dan keburukan itu ke Neraka api. [Sunting] [sunting] Persatuan senantiasa berdusta dan mencoba untuk selalu berdusta (disebut Muslim). * / Mahmud Budi Setiawan.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply