Rahasia dan Hikmah Mengapa Nabi Muhammad Biasa Bangun Malam

 0
Rahasia dan Hikmah Mengapa Nabi Muhammad Biasa Bangun Malamby Administratoron.Rahasia dan Hikmah Mengapa Nabi Muhammad Biasa Bangun MalamHari kedua Ramadhan 1441 H (25/4), Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar kajian Ramadhan bersama Ketua Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah Depok Dr. Abdul Mannan, MM. Dalam uraiannya, ia menerangkan bahwa dipilihnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah paripurna hingga akhir zaman memiliki banyak sekali hikmah sekaligus pelajaran. “Mengapa Allah tidak memilih Abu Jahal, Abu Lahab […]

Hari kedua Ramadhan 1441 H (25/4), Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar kajian Ramadhan bersama Ketua Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah Depok Dr. Abdul Mannan, MM.

Dalam uraiannya, ia menerangkan bahwa dipilihnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah paripurna hingga akhir zaman memiliki banyak sekali hikmah sekaligus pelajaran.

“Mengapa Allah tidak memilih Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sofyan sebagai Nabi-Nya. Padahal keduanya pembesar Quraisy. Kemudian kenapa Nabi Muhammad menerima wahyu di dalam Gua Hira, bukan di Makkah,” ungkapnya mengawali paparannya.

Semua itu, dalam pandangan Ibn Ishaq adalah karena Nabi Muhammad SAW sosok yang jujur, tulus, dan benar-benar terpanggil dengan problematika umat manusia.

“Itulah kenapa kala Nabi menerima wahyu pertama, beliau menjawab “Ma Ana bi Qori’.” Saya tidak bisa membaca, sehingga di sinilah wahyu bisa masuk ke dalam dada pribadi yang sejak kecil jujur, gigih, dan sangat penyayang kepada sesama,” jelas beliau.

Para ulama, kata penulis buku Era Peradaban Baru, menilai bahwa Nabi Muhammad benar-benar tidak bisa membaca, menganalisa, karena masalah yang ingin dipecahkan bukan masalah biasa, tapi masalah peradaban.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa hikmah Nabi Muhammad menerima wahyu di Gua, dalam kesunyian dan keterasingan, ada masa dimana umat Islam harus mengikuti sunnahnya yang luar biasa, yakni membiasakan diri bangun di tengah malam.

“Setelah turun agama Islam, ada perintah bangun di tengah malam, inilah yang harus kita lakukan sekarang, menyendiri, dalam kesunyian, berdiri mengahap kepada Allah, meminta, memohon, pertolongan-Nya untuk bisa menjadi problem solver kehidupan umat manusia,” urainya.

Oleh karena itu, DR. Abdul Mannan mendorong segenap kaum Muslimin untuk melatih diri terbiasa bangun malam.

“Kalau dahulu memang ada tradisi khalwat, tapi sekarang sudah ada qiyamul lail. Latih dan biasakan diir untuk melakukan itu, insya Allah akan ada pertolongan Allah datang dalam hidup kita. Karena memang begitulah Nabi mengisi malam-malamnya, terutama di bulan Ramadhan,” tutupnya.

Hari kedua Ramadhan 1441 H (25/4), Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar kajian Ramadhan bersama Ketua Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah Depok Dr. Abdul Mannan, MM.

Dalam uraiannya, ia menerangkan bahwa dipilihnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah paripurna hingga akhir zaman memiliki banyak sekali hikmah sekaligus pelajaran.

“Mengapa Allah tidak memilih Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sofyan sebagai Nabi-Nya. Padahal keduanya pembesar Quraisy. Kemudian kenapa Nabi Muhammad menerima wahyu di dalam Gua Hira, bukan di Makkah,” ungkapnya mengawali paparannya.

Semua itu, dalam pandangan Ibn Ishaq adalah karena Nabi Muhammad SAW sosok yang jujur, tulus, dan benar-benar terpanggil dengan problematika umat manusia.

“Itulah kenapa kala Nabi menerima wahyu pertama, beliau menjawab “Ma Ana bi Qori’.” Saya tidak bisa membaca, sehingga di sinilah wahyu bisa masuk ke dalam dada pribadi yang sejak kecil jujur, gigih, dan sangat penyayang kepada sesama,” jelas beliau.

Para ulama, kata penulis buku Era Peradaban Baru, menilai bahwa Nabi Muhammad benar-benar tidak bisa membaca, menganalisa, karena masalah yang ingin dipecahkan bukan masalah biasa, tapi masalah peradaban.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa hikmah Nabi Muhammad menerima wahyu di Gua, dalam kesunyian dan keterasingan, ada masa dimana umat Islam harus mengikuti sunnahnya yang luar biasa, yakni membiasakan diri bangun di tengah malam.

“Setelah turun agama Islam, ada perintah bangun di tengah malam, inilah yang harus kita lakukan sekarang, menyendiri, dalam kesunyian, berdiri mengahap kepada Allah, meminta, memohon, pertolongan-Nya untuk bisa menjadi problem solver kehidupan umat manusia,” urainya.

Oleh karena itu, DR. Abdul Mannan mendorong segenap kaum Muslimin untuk melatih diri terbiasa bangun malam.

“Kalau dahulu memang ada tradisi khalwat, tapi sekarang sudah ada qiyamul lail. Latih dan biasakan diir untuk melakukan itu, insya Allah akan ada pertolongan Allah datang dalam hidup kita. Karena memang begitulah Nabi mengisi malam-malamnya, terutama di bulan Ramadhan,” tutupnya.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply