Pentingnya Kompetensi Guru Memetakan dan Mensolusikan Masalah Anak di Era Digital

 0
Pentingnya Kompetensi Guru Memetakan dan Mensolusikan Masalah Anak di Era Digitalby Yacong B Halikeon.Pentingnya Kompetensi Guru Memetakan dan Mensolusikan Masalah Anak di Era DigitalSEGENAP guru di lingkungan pendidikan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok mengikuti acara Pelatihan Guru Hidayatullah Depok ke-II 2019 yang mengangkat tema “Kompetensi Guru Memetakan dan Mensolusikan Masalah Anak di Era Digital” digelar di Aula Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok, Jum’at (20/9/2019). Acara yang diikuti oleh jajaran inti PAUD dan SD Integral Hidayatullah Depok ini menghadirkan psikolog […]

SEGENAP guru di lingkungan pendidikan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok mengikuti acara Pelatihan Guru Hidayatullah Depok ke-II 2019 yang mengangkat tema “Kompetensi Guru Memetakan dan Mensolusikan Masalah Anak di Era Digital” digelar di Aula Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok, Jum’at (20/9/2019).

Acara yang diikuti oleh jajaran inti PAUD dan SD Integral Hidayatullah Depok ini menghadirkan psikolog yang juga Direktur Yayasan Lentera Insan, Hj. Fitriani F. Syahrul, M.Si. Psi.

Selaras dengan tema, narasumber yang juga peraih “Inclusive Education Award” dari Kemdikbud RI ini menekankan pentingnya menguatkan kapasitas dan kompetensi guru sebagai pendidik dalam memetakan serta mensolusikan masalah anak di era digital seperti saat ini.

Menurut beliau, era digital mengharuskan orangtua punya “jurus tega” dalam mengatur penggunaan smartphone pada anak-anaknya. Orangtua dituntut harus mampu mendisiplinkan diri dalam setiap kesepakatan yang telah dibuat dengan si buah hati.

“Peran ayah sebagai peletak misi “man of vision and mission” dan bunda sebagai “person of love and sincerity” harus dilakukan. Jika hilang salah satunya, maka di era digital ini, anak tidak memiliki pegangan,” kata Fitriani.

Selain itu, orangtua pun perlu untuk terus belajar terutama dalam memantau dan mendampingi anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Termasuk dalam pada itu adalah pengetahuan tentan masa baligh dan akil baligh anak. Hal ini menurutnya tak boleh dipandang sederhana.

“Anak-anak sekarang sudah baligh tapi belum aqil. Dikatakan anak bukan, dibilang dewasa belum. Keadaan yang sulit ditentukan,” imbuhnya menekankan.
Maka, dalam rangka mengentaskan ketidakcakapan dalam mengadapi situasi yang banyak menjadi masalah bagi orangtua tersebut, muncullah istilah apa yang disebut dengan adolesen. Adolesen adalah masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan social emosional. Sedangkan dalam Islam, tidak mengenal istilah itu.

Malah dalam praktiknya, adolesen atau masa remaja ini seringkali terbaikan dan dianggap sebagai masa puberitas biasa sehingga tak dianggap penting dilakukan pendampingan sesuai dengan tuntunan agama.

“Ketika anak baligh, maka dia harus sudah aqil. Orangtua dan guru lah yang menyiapkan mereka agar siap menjadi aqil, mukallaf,” imbuhnya.

Pelatihan yang berlangsung intensif sehari ini diakhiri dengan workshop tentang bagaimana cara penanganan berbagai kasus yang berkaitan dengan media digital.*/Sarah Zakiyah

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts

Leave a Reply