Pencegahan Luka Kepengasuhan: Ikhtiar Orang Tua Membesarkan Anak dengan Bahagia dan Bermakna
Materi utama dalam kegiatan Rihlah Muslimah Ahibbati Fillah yang digelar pada Selasa, 1 Sya’ban 1447 H (20 Januari 2026). Salah pematerinya disampaikan oleh Dr. Reni Susilowati Latip, M.Pd., seorang praktisi dan akademisi pendidikan yang telah lama mengabdikan diri di dunia pendidikan Islam, khususnya di lingkungan Hidayatullah. Beliau memaparkan materi dengan pendekatan edukatif dan reflektif, mengajak para peserta untuk memahami pentingnya memutus rantai trauma dalam pengasuhan serta membangun pola asuh yang bahagia tanpa terbebani masa lalu.
Dengan pengalaman panjang sebagai kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan, pemaparan Dr. Reni Susilowati Latip, M.Pd. disampaikan secara sistematis, menyentuh aspek psikologis, emosional, dan spiritual, sehingga mudah dipahami dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Setiap orang tua tentu mendambakan anak tumbuh bahagia, sehat secara mental, dan kuat secara spiritual. Namun sering kali, tanpa disadari, pola asuh yang diterapkan justru mewariskan luka emosional yang terbawa hingga dewasa. Inilah yang dikenal dengan luka kepengasuhan, sebuah kondisi psikologis yang berawal dari pengalaman pengasuhan yang kurang tepat di masa kecil.
Melalui kegiatan Rihlah Muslimah Ahibbati Fillah , para orang tua diajak untuk memahami, mencegah, sekaligus memutus rantai luka kepengasuhan agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Mengapa Pencegahan Luka Kepengasuhan Penting bagi Orang Tua?
Materi ini menekankan bahwa pengalaman masa lalu orang tua sering kali dianggap sebagai kebenaran mutlak, lalu tanpa disadari ditransfer ke dalam pola asuh anak. Padahal, belum tentu semua pengalaman tersebut sehat dan layak diwariskan.
Ada empat alasan utama mengapa orang tua perlu memahami isu luka kepengasuhan:
Membangun kesadaran pola asuh, agar orang tua tidak mengulang kesalahan yang sama.
Meningkatkan kemampuan parenting, sehingga anak mendapatkan pengasuhan yang lebih baik.
Mencegah perulangan luka, baik secara emosional maupun psikologis.
Menjaga kesehatan mental orang tua dan anak, dengan menciptakan ekosistem keluarga yang aman dan stabil.
Apa Itu Luka Kepengasuhan?
Luka kepengasuhan adalah trauma emosional atau psikologis yang dialami anak akibat pengalaman buruk dalam proses pengasuhan. Luka ini tidak selalu berbentuk kekerasan fisik, namun bisa muncul dari sikap, ucapan, atau lingkungan yang tidak sehat.
Beberapa penyebab utama luka kepengasuhan antara lain:
Kurangnya batasan dan perhatian
Pengabaian oleh orang tua atau pengasuh
Kekerasan emosional seperti penolakan, intimidasi, dan penghinaan
Kekerasan fisik atau verbal
Pelecehan seksual, baik internal maupun eksternal
Ketidakstabilan keluarga (perceraian, KDRT, sering berpindah tempat)
Lingkungan yang tidak aman dan penuh penyimpangan
Tanda-Tanda Luka Kepengasuhan
Luka kepengasuhan dapat dikenali melalui berbagai gejala, di antaranya:
Kesulitan mengatur emosi
Sulit mempercayai orang lain
Perilaku berisiko dan merusak diri
Kesulitan menghadapi stres
Perasaan tidak berharga dan tidak layak dicintai
Kesulitan menjalin hubungan sosial
Munculnya gejala PTSD, baik fisik maupun mental
Jika tidak ditangani, luka ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kehidupan rumah tangga serta pola asuh generasi berikutnya.
Bisakah Trauma Disembuhkan?
Islam memberikan harapan besar bagi proses penyembuhan. Allah menegaskan bahwa Dia tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan mereka (QS. Al-Baqarah: 286). Al-Qur’an hadir sebagai pelajaran, penyembuh penyakit hati, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman (QS. Yunus: 57).
Artinya, luka kepengasuhan bukanlah akhir segalanya. Ia bisa disadari, diolah, dan disembuhkan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan tawakal kepada Allah.
Cara Memutus Rantai Luka Kepengasuhan
Beberapa langkah penting untuk memutus luka yang sudah terlanjur terjadi antara lain:
Menerima dan mengakui adanya luka
Memaafkan, meminta maaf, dan mengikhlaskan
Membangun hubungan yang sehat
Melakukan self-care
Mengubah sudut pandang (reframing perspektif)
Menguatkan dukungan sosial
Berprasangka baik kepada takdir Allah
Mengembalikan makna hidup sebagai amanah untuk sukses dunia dan akhirat
Mencegah Luka Kepengasuhan dengan Pola Asuh Islami
Islam telah memberikan panduan lengkap dalam mendidik anak. Pencegahan luka kepengasuhan dapat dimulai sejak anak lahir, di antaranya dengan:
Mengumandangkan azan dan iqamah
Mendoakan dan bersyukur atas kelahiran anak
Memberikan nama yang baik
Aqiqah dan khitan
Menanamkan tauhid dan kecintaan kepada Al-Qur’an
Selain itu, konsep positive parenting ala Nabi ﷺ menekankan keteladanan, kelembutan, keadilan, dialog sesuai usia anak, serta menjauhi toxic parenting.
Membangun Akal, Jiwa, dan Ruh Anak
Pendidikan anak dalam Islam tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup:
Pendidikan akal, melalui dialog, kisah inspiratif, dan stimulasi berpikir kritis
Pendidikan jiwa, dengan menumbuhkan rasa percaya diri, kegembiraan, dan motivasi
Pencegahan luka kepengasuhan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak dan peradaban. Dengan kesadaran, ilmu, dan bimbingan Islam, orang tua dapat menjadi wasilah lahirnya generasi yang sehat jiwanya, kuat imannya, dan kokoh kepribadiannya. Rep. Makhfudz