PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
PAUD-TK YAA BUNAYYA DEPOK
Islamic full day school
“Excellent with integral characterrrrrrrr”
Visit us
SMP-MA INTEGRAL HIDAYATULLAH PUTRA DEPOK
Islamic full day & Boarding school
“Excellent with integral character”
Visit us
SMP-MA INTEGRAL HIDAYATULLAH PUTRI DEPOK
Islamic full day school
“Excellent with integral character”
Visit us
APA
KATA MEREKA?
Doni Irawan
Sekolah di Hidayatullah Depok anak-anak di arahkan dan diedukasi menabung sejak dini
Direktur BTH Depok
Ulfi Saepudin
Selama kuliah dan mondok di Pesantren Hidayatullah Depok saya banyak mendapatkan bekal Ilmu yang banyak, pengalaman di lapangan, pengalaman KKN di Masyarakat dan diharapkan ilmu saya bermanfaat untuk diri saya, masyarakat, bangsa dan Agama. Salam Alumni 2025
Alumni STIE
Siti Rokhmah
"Mondok telah membawa perubahan luar biasa bagi anak kami. Akhlak dan perilakunya semakin baik, didukung dengan peningkatan kemampuan akademik dan spiritual yang signifikan. Ananda tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab, sekaligus membangun komunikasi yang lebih harmonis dengan kami sebagai orang tua. Melihat perkembangan ini, hati kami dipenuhi rasa lega dan bangga atas perjalanan yang ia tempuh."
Wali murid dari ananda Ahnaf kelas IX
Johan Seta Nugraha
"Alhamdulillah ponpes Hidayatullah telah mendidik Vano menjadi pribadi yang jauh lebih sholeh, lebih disiplin, lebih mandiri, dan lebih bertanggung jawab atas dirinya dan atas kewajibannya. Di usia yang kritis ini, saya sangat bersyukur bahwa ponpes Hidayatullah telah memberikan lingkungan yang terbaik, yang sehat, dan yang friendly bagi fisik dan jiwa Mercyvano. Terima kasih para Ustadz, terima kasih para Murabbi, terima kasih teman santri, dan terima kasih Hidayatullah."
Wali murid dari ananda : Mercyvano kelas IX
Saiful Anam
"Alhamdulillah anak saya 3 semuanya sekolah di SD Integral Hidayatullah Depok, disini tidak hanya mendidik anak-anaknya saja tapi kami juga ikut belajar melaui program-program sekolah yang sangat inspiratif baik dari ilmu parenting, akhlak, agama dan aplikatif dapat diterapkan di setiap kebiasaan sehari-hari”
Wali Murid SD Integral Hidayatullah
Ainuddin Challik
"Alhamdulillah anak 3 dan masih aktif saat ini di sini, saya sangat senang karena lingkungan disini yang cukup luas, nyaman dan asri, serta kurikulum dan metode pembelajarannya yang sangat bagus berbasis adab dan karakter, sehingga perubahannya sangat bias kita rasakan langsung di rumah”
Wali Murid SD Integral Hidayatullah Depok
Kabar Terbaru
-
Smapore Dance Santri SMP–MA Hidayatullah Depok Pukau Peserta Islamic Scout Camp Jawa Barat pada Hari Santri Nasional 2026
Depok – Santri SMP–MA Putra Hidayatullah Depok kembali menunjukkan kreativitas dan kekompakan melalui penampilan Smapore Dance dalam kegiatan Islamic Scout Camp of Hidayatullah Jawa Barat. Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang berlangsung pada 22 Oktober 2026 di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jawa Barat.Kegiatan Islamic Scout Camp yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 ini menjadi ajang bagi para santri untuk mempererat silaturahmi, mengasah ketangkasan, melatih jiwa kepemimpinan, serta memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan kepramukaan.Tampil Kompak Berkat Persiapan dan LatihanPenampilan Smapore Dance menjadi salah satu momen yang membanggakan bagi kontingen SMP–MA Putra Hidayatullah Depok. Dengan persiapan dan latihan selama lebih dari dua pekan, para santri berusaha menampilkan gerakan yang kompak, penuh semangat, dan menarik di hadapan peserta kegiatan.Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Penampilan berjalan lancar dan mendapatkan sambutan positif, sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi para santri untuk melatih keberanian, kedisiplinan, kerja sama, dan rasa percaya diri.Apresiasi dan Kebanggaan dari Mudir PesantrenMudir Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Amin Fawaid, M.M., menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas penampilan para santri. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan bagi santri untuk mengembangkan potensi diri, menunjukkan kreativitas, serta membawa nama baik sekolah dan pesantren.“Alhamdulillah, kami sangat bangga melihat semangat dan kekompakan anak-anak dalam menampilkan Smapore Dance. Persiapan yang dilakukan selama lebih dari dua pekan menunjukkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kemauan mereka untuk memberikan penampilan terbaik. Semoga pengalaman ini menjadi bekal untuk terus berkembang, berani tampil, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan kerja sama yang semakin kuat,” ungkapnya.Ia juga berharap para santri dapat terus menjaga semangat belajar dan berlatih, serta menjadikan setiap kegiatan sebagai sarana pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai keislaman.Latihan Terbayar dengan Penampilan yang MemuaskanSalah satu peserta dari MA Hidayatullah Depok mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya setelah mengikuti kegiatan tersebut.“Wah, ini enggak sia-sia, sih. Kami sudah berlatih lebih dari dua pekan untuk mempersiapkan penampilan ini. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Kegiatannya seru banget, dan penampilan kami juga bisa memberikan hasil yang memuaskan. Alhamdulillah, sukses buat Hida Depok!” tuturnya.Pengalaman ini menjadi bukti bahwa kerja keras, latihan yang konsisten, dan kekompakan tim dapat menghasilkan penampilan yang membanggakan. Lebih dari sekadar tampil di atas panggung, para santri juga belajar tentang arti tanggung jawab, perjuangan, dan pentingnya saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.Partisipasi dalam Islamic Scout Camp of Hidayatullah Jawa Barat diharapkan dapat memperluas pengalaman para santri, mempererat ukhuwah antarpeserta, serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang tangguh dan berakhlak mulia.Melalui kegiatan ini, SMP–MA Hidayatullah Depok terus berkomitmen menghadirkan pendidikan integral yang menyeimbangkan pembinaan keislaman, pengembangan karakter, dan keterampilan. Pendidikan Hidayatullah Depok, unggul dalam bidang Al-Qur’an, Bahasa, dan Sains.
34 menit yang lalu -
Kontingen Hidayatullah Depok Ikuti Islamic Scout Camp Jawa Barat, Asah Ketangkasan dan Kepemimpinan Santri
Depok — Kontingen SD, SMP-MA Putra dan SMP-MA Putri Hidayatullah Depok mengikuti Islamic Scout Camp of Hidayatullah Jawa Barat yang digelar di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Sumedang, Jawa Barat, pada 21–23 Oktober 2026.Kegiatan yang berlangsung pada 10–12 Jumadil Ula 1448 H./21–23 Oktober 2026 ini menjadi salah satu ajang bagi para peserta didik untuk memperluas pengalaman, menjalin silaturahmi dengan pelajar Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Barat, sekaligus mengasah ketangkasan dan kemampuan kepemimpinan.Kontingen Hidayatullah Depok terdiri dari peserta didik jenjang SD, SMP-MA Putra, dan SMP-MA Putri. Dari jenjang SD terdapat 5 kelompok/fiah, sementara jenjang SMP-MA Putra mengirimkan 2 fiah dan SMP-MA Putri 1 fiah.Kegiatan perkemahan tersebut menghadirkan suasana belajar yang berbeda dari lingkungan sekolah. Para peserta mengikuti berbagai aktivitas kepanduan, permainan, tantangan, serta kegiatan yang mendorong kerja sama dan kemandirian.Belajar di Alam, Bertumbuh BersamaIslamic Scout Camp menjadi ruang bagi para peserta untuk mendapatkan pengalaman belajar di luar kelas.Berada di lingkungan perkemahan, peserta dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, bekerja sama dengan anggota kelompok, serta menyelesaikan berbagai tantangan yang diberikan.Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan karakter. Peserta tidak hanya belajar tentang keterampilan kepanduan, tetapi juga dilatih untuk membangun komunikasi, mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap kelompok, dan berani menghadapi tantangan.Kegiatan bersama juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertemu dan berinteraksi dengan peserta didik Hidayatullah dari daerah lain.Dari pertemuan tersebut, terjalin silaturahmi dan persahabatan baru yang menjadi salah satu pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan.Melatih Ketangkasan dan KepemimpinanSalah satu tujuan keikutsertaan kontingen Hidayatullah Depok dalam kegiatan ini adalah memberikan pengalaman kepada peserta untuk melatih ketangkasan dan kepemimpinan.Dalam kegiatan kepanduan, peserta tidak hanya dituntut mampu mengikuti instruksi, tetapi juga belajar bagaimana bekerja sebagai sebuah tim.Setiap tantangan membutuhkan kekompakan, komunikasi dan keberanian untuk mencoba. Hal tersebut menjadi pengalaman langsung yang dapat membantu peserta memahami bahwa keberhasilan sebuah kelompok tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kemampuan bekerja sama.Bagi peserta didik yang lebih senior, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk belajar mengambil peran dan menjadi contoh bagi anggota kelompok lainnya.Seru, Banyak Teman dan Pengalaman BaruAntusiasme peserta terlihat dari pengalaman yang mereka rasakan selama mengikuti kegiatan.Alfath, salah satu murid MA Hidayatullah Depok, mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan selama mengikuti Islamic Scout Camp.“Kegiatannya seru banget, kita bisa punya banyak teman baru, pengalaman baru dan seru juga kegiatannya,” tutur Alfath.Menurutnya, kegiatan perkemahan memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak peserta lainnya sekaligus mendapatkan pengalaman yang berbeda dari aktivitas sehari-hari di sekolah.Hal serupa disampaikan Aryan, murid kelas 5 SD Integral Hidayatullah Depok. Ia mengaku senang mengikuti berbagai tantangan dan permainan yang ada selama kegiatan.“Kegiatannya seru, banyak tantangan dan games-gamesnya, banyak pengalaman baru juga sama teman-teman,” ujar Aryan.Bagi Aryan, berbagai permainan dan tantangan menjadi pengalaman tersendiri yang membuat kegiatan perkemahan terasa menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman baru bersama teman-temannya.Pendamping: Bukan Sekadar Bermain dan BerkemahPendamping kegiatan, Ust. Chandra, menilai bahwa Islamic Scout Camp memiliki nilai pendidikan yang penting bagi peserta didik.Menurutnya, kegiatan di alam terbuka memberikan ruang kepada anak-anak untuk belajar secara langsung melalui pengalaman. Mereka belajar bekerja sama, menghadapi tantangan, mengatur diri, sekaligus membangun keberanian.“Kegiatan ini bukan sekadar berkemah atau mengikuti permainan. Di dalamnya ada proses pembelajaran yang sangat baik bagi anak-anak. Mereka belajar bagaimana bekerja sama, menghadapi tantangan, mandiri, dan membangun kepemimpinan.”Ia berharap pengalaman selama mengikuti kegiatan dapat menjadi bekal bagi peserta ketika kembali ke lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.“Kami berharap anak-anak bisa membawa pulang bukan hanya cerita tentang keseruan kegiatan, tetapi juga nilai-nilai yang mereka dapatkan selama di sini. Semoga pengalaman ini membuat mereka semakin percaya diri, lebih bertanggung jawab dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya.”Kepala Sekolah: Pengalaman yang Membentuk KarakterSementara itu, Kepala SD Integral Hidayatullah Depok, Ust. Abdurrahman Hakim, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan kepanduan menjadi salah satu sarana penting dalam membangun karakter peserta didik.Menurutnya, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui proses pembelajaran di dalam kelas. Pengalaman di luar kelas juga memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menghadapi situasi nyata.“Kami berharap keikutsertaan anak-anak dalam Islamic Scout Camp ini menjadi pengalaman yang berharga. Mereka tidak hanya belajar tentang kepanduan, tetapi juga belajar tentang kemandirian, kedisiplinan, kerja sama dan kepemimpinan.”Ia juga menekankan pentingnya silaturahmi yang terbangun melalui kegiatan tersebut.“Bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah memberikan pengalaman sosial yang sangat baik bagi anak-anak. Mereka belajar mengenal perbedaan, membangun persahabatan dan bekerja bersama untuk menyelesaikan berbagai tantangan.”Menurutnya, pengalaman seperti ini diharapkan dapat melengkapi proses pendidikan yang diterima peserta didik di sekolah.Membawa Pulang Pengalaman dan Nilai KebaikanKeikutsertaan kontingen Hidayatullah Depok dalam Islamic Scout Camp of Hidayatullah Jawa Barat menjadi bagian dari proses pendidikan yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik.Selama tiga hari kegiatan, peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar di alam terbuka, berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah, mengikuti tantangan dan permainan, serta membangun kekompakan bersama kelompok.Lebih dari sekadar kegiatan perkemahan, pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan keberanian, kemandirian, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan jiwa kepemimpinan.Bagi para peserta, kegiatan ini mungkin akan dikenang sebagai pengalaman yang menyenangkan. Namun di balik keseruan tersebut, terdapat proses pembelajaran yang diharapkan menjadi bekal dalam perjalanan mereka sebagai generasi yang tangguh, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 jam yang lalu -
Menegakkan Empat Pilar Islam: Dari Mihrab Rumah Menuju Singgasana Peradaban
DEPOK — Predikat Mitra Juang bukanlah sebuah lencana hiasan, bukan pula sekadar label administratif tanpa makna. Gelar ini adalah sebuah sumpah; sebuah konsekuensi logis dari komitmen total untuk memeluk erat tali agama Allah tanpa celah, kapan pun dan di mana pun (wa’tashimu bihablillah jami’a wa la tafarraqu). Di tengah badai modernitas, perjuangan kita tidak dimulai dari medan perang yang bising, melainkan dari kedalaman jiwa, lalu merembes ke wilayah domestik, hingga akhirnya berakumulasi pada penguasaan instrumen global. Inilah cetak biru perjuangan kita yang berdiri kokoh di atas Empat Pilar Peradaban:Pilar I: Pesona Akhlak – Manifestasi Kesucian BatinPeradaban tidak dibangun oleh retorika, melainkan oleh kristalisasi teologi yang mewujud menjadi perilaku sehari-hari. Sebuah kaidah emas mengingatkan kita: "Adh-Dhahiru Yadullu ’alal Batin"—apa yang tersembunyi di kedalaman kalbu, segaris lurus dengan apa yang memantul di permukaan. Perilaku kasat mata kita adalah cermin jernih dari kualitas iman yang kita dekap.Allah Swt itu Jamil—Maha Indah dan mencintai keindahan. Namun, keindahan yang mengetuk pintu rida-Nya bukanlah kemilau materi atau pesona visual, melainkan keanggunan akhlak.Maka, sungguh sebuah ironi yang menyakitkan jika seseorang lantang mengaku sebagai "pejuang", namun memiliki perangai yang gersang di balik pintu rumahnya. Tampak santun di hadapan publik, tetapi beringas kepada suami atau otoriter terhadap istri. Ingatlah, pembuktian keluhuran manhaj Hidayatullah harus lulus di ekosistem terkecil: rumah tangga. Ketika nilai Islam diimplementasikan secara presisi di rumah, maka rumah-rumah Mitra Juang akan menjelma menjadi uswatun hasanah (mercusuar teladan) yang menerangi lingkungan sekitar.Pilar II: Disiplin Ketat – Jiwa Sumpah "Sam’an wa Tha’atan"Disiplin bukanlah sekadar deretan aturan kaku buatan manusia; bagi Mitra Juang, disiplin adalah bentuk ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta (sam’an wa tha’atan). Allah Swt telah menanamkan algoritma disiplin ini secara ketat melalui ritual shalat yang detak waktunya telah dikunci secara presisi.Seorang pejuang sejati pantang mengulur-ulur panggilan-Nya. Bagi laki-laki, harga diri mereka dipertaruhkan pada shalat berjamaah tepat waktu di masjid sesuai dengan sunnah. Bagi kaum ibu, kehormatan mereka ada pada ketegasan mendidik generasi agar tertib menghamba sejak dini.Karakter baja ini tidak boleh berhenti di atas hamparan sajadah. Ia harus dialirkan ke dalam urat nadi kehidupan domestik, bahkan pada detail sekecil apa pun. Memastikan anak menyikat gigi sebelum tidur, merapikan ranjang begitu terbangun, atau mencuci piring sendiri setelah makan—semua itu adalah investasi karakter dan tanggung jawab. Logikanya sederhana: jika urusan-urusan kecil mampu dikelola dengan disiplin langit, maka urusan dakwah dan peradaban yang besar akan jauh lebih ringan di pundak kita.Pilar III: Ketajaman Muhasabah – Membaca Hukum Kausalitas SemestaSeorang Mitra Juang dibekali mental kalkulatif yang tajam melalui mekanisme refleksi diri tanpa henti (hasibu anfusakum qabla an tuhasabu). Kita harus sadar bahwa semesta ini berjalan di atas hukum kausalitas yang sangat matematis (likulli syai'in sabab). Ada rumus mutlak yang tidak bisa ditawar: "Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri" (QS. Al-Isra: 7).Di hadapan Allah, tidak ada tindakan yang menguap sia-sia. Sekecil apa pun kezaliman seorang suami kepada istrinya, atau sebaliknya, pasti akan melahirkan daya rusak yang kembali pada dirinya sendiri. Walau balasan tidak jatuh seketika, hukum Allah menjamin bahwa setiap benih—baik atau buruk—pasti akan dipanen tanpa tertukar: "Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah, wa man ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah" (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Tajamkan mata batin untuk terus berhitung tentang amal, bukan menghitung kesalahan orang lain.Pilar IV: Penguasaan Instrumen Zaman – Akselerasi Teknologi DakwahDi era disrupsi digital yang bergerak secepat kilat, haram hukumnya bagi seorang Mitra Juang untuk gagap teknologi (gaptek). Ketertinggalan kita dalam mengadopsi instrumen zaman hanya akan membuat umat Islam tergilas, menjadi penonton, dan terasing di tanah mereka sendiri. Pesantren Hidayatullah Depok, sebagai benteng pendidikan dan dakwah, tidak boleh kalah kelas dalam arena profesionalitas ini.Teknologi adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi mesin penghancur massal jika jatuh ke tangan yang salah, namun ia akan menjadi senjata dakwah yang dahsyat jika dikendalikan oleh jemari Mitra Juang yang beriman. Penguasaan teknologi, manajemen modern, dan literasi digital bukanlah pilihan opsional, melainkan kewajiban kontemporer. Ini harus dituntaskan agar syiar Islam tetap relevan, memiliki daya tawar yang kuat, dan mampu memimpin narasi di mata dunia.Bergeraklah! Wahai Mitra Juang Hidayatullah sejati. Mari kita perindah perilaku, memperketat disiplin, menajamkan kalkulasi muhasabah, dan merebut instrumen zaman. Dari Depok, kita tegakkan kembali marwah dan kejayaan Islam!| Dirangkum oleh : Saihul, Sekretaris YPPH Depok Dari Taujih: KH. Drs. Hamim Thohari, M.Si. (Ketua Pembina YPPH Depok) Jumat, 9 Oktober 2026 (Agenda Pembinaan Rutin Bulanan)
1 minggu yang lalu -
Semarak Hari Batik Nasional 2026, Murid SD Integral Hidayatullah Depok Tampil dengan Beragam Motif Batik
Depok — Suasana berbeda terlihat di lingkungan SD Integral Hidayatullah Depok pada Jumat, 2 Oktober 2026. Bertepatan dengan Hari Batik Nasional, para murid mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan mengenakan pakaian batik dari berbagai motif dan daerah.Meski kegiatan sekolah tetap berlangsung secara normal karena bertepatan dengan pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS), para murid tetap antusias mengenakan batik yang mereka miliki.Menariknya, batik yang dikenakan para murid cukup beragam. Sebagian menggunakan batik yang dimiliki keluarga, sementara lainnya mengenakan batik yang menjadi oleh-oleh dari daerah yang pernah dikunjungi orang tua saat berlibur.Keberagaman tersebut membuat suasana sekolah menjadi lebih berwarna sekaligus memberikan pengalaman sederhana bagi murid untuk mengenal kekayaan motif batik yang ada di Indonesia.Batik Hadir di Tengah Aktivitas BelajarTidak ada kegiatan seremonial khusus dalam memperingati Hari Batik Nasional di SD Integral Hidayatullah Depok. Para murid tetap mengikuti kegiatan PTS dan aktivitas pembelajaran sebagaimana biasanya.Namun, penggunaan batik menjadi cara sederhana untuk memberikan ruang kepada murid agar semakin dekat dengan salah satu warisan budaya Indonesia.Di lingkungan sekolah, murid dapat melihat berbagai motif batik yang dikenakan teman-temannya. Perbedaan motif tersebut secara tidak langsung menjadi pengalaman belajar tersendiri.Ada batik dengan motif tumbuhan, bunga, maupun pola khas dari daerah tertentu. Bahkan, beberapa batik yang dikenakan murid berasal dari daerah yang pernah dikunjungi keluarganya.Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi pakaian yang dikenakan pada hari tertentu, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal keragaman budaya Indonesia.Mengenal Batik dari Cerita KeluargaSalah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah latar belakang batik yang dikenakan para murid.Batik yang digunakan tidak semuanya berasal dari tempat yang sama. Ada yang merupakan batik pilihan orang tua, ada pula yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari perjalanan keluarga.Hal tersebut membuat setiap motif memiliki cerita tersendiri.Bagi anak-anak, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui bahwa Indonesia memiliki beragam daerah dengan kekhasan budaya masing-masing.Kegiatan sederhana seperti mengenakan batik juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu. Anak mulai bertanya mengenai motif yang digunakan, dari mana batik tersebut berasal, dan mengapa setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda.“Seneng Banget Pakai Batik ke Sekolah”Antusiasme tersebut juga dirasakan oleh para murid.Khalid, salah satu murid SD Integral Hidayatullah Depok, mengaku senang bisa mengenakan batik ke sekolah. Ia bahkan dapat menceritakan asal batik yang dikenakannya.“Seneng banget pakai batik ke sekolah, jadi tau banyak motif batik. Lihatnya aku pakai batik dari Pekalongan, dengan motif bunga dan daun-daun warna biru,” tutur Khalid.Cerita sederhana Khalid menunjukkan bahwa pakaian yang dikenakan pada Hari Batik Nasional dapat menjadi pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak.Ia tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga mengetahui bahwa batik yang digunakan berasal dari Pekalongan dan memiliki motif bunga serta daun dengan warna biru.Menanamkan Apresiasi terhadap Budaya Sejak DiniKepala Sekolah SD Integral Hidayatullah Depok menyampaikan bahwa momentum Hari Batik Nasional dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pengenalan budaya kepada peserta didik.“Hari Batik Nasional menjadi momentum sederhana bagi anak-anak untuk mengenal dan menghargai kekayaan budaya Indonesia. Melalui batik yang mereka kenakan, anak-anak dapat belajar bahwa setiap daerah memiliki keunikan dan kekayaan budaya yang patut dihargai.”Menurutnya, pengenalan budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Lingkungan sekolah dan aktivitas sehari-hari juga dapat menjadi ruang pembelajaran yang bermakna bagi anak.“Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak memiliki rasa bangga terhadap budaya Indonesia dan tumbuh menjadi generasi yang mampu menghargai keberagaman. Hari ini mereka mengenakan batik dengan motif yang berbeda-beda, tetapi tetap belajar bersama dalam satu lingkungan sekolah,” lanjutnya.Belajar Menghargai PerbedaanBeragamnya batik yang dikenakan murid juga menjadi gambaran kecil tentang keberagaman.Setiap murid datang dengan motif dan cerita yang berbeda. Ada yang berasal dari pilihan keluarga, ada yang menjadi kenang-kenangan dari perjalanan, dan ada pula yang mungkin sudah lama menjadi bagian dari koleksi pakaian keluarga.Perbedaan tersebut justru menjadi sesuatu yang menarik untuk dikenali.Melalui pengalaman sederhana itu, anak-anak dapat belajar bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sesuatu yang membuat kehidupan menjadi lebih kaya.Nilai tersebut sejalan dengan pendidikan karakter yang terus dibangun di lingkungan sekolah, yaitu membiasakan peserta didik untuk mengenal, menghargai, dan menjaga hal-hal baik yang ada di lingkungan sekitarnya.Hari Batik di Tengah PTSPeringatan Hari Batik Nasional tahun ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan PTS. Karena itu, aktivitas sekolah tetap berjalan normal sesuai agenda akademik yang telah ditetapkan.Para murid tetap fokus mengikuti proses evaluasi pembelajaran. Namun, penggunaan batik membuat suasana sekolah terasa sedikit berbeda dibandingkan hari-hari biasanya.Tidak ada aktivitas yang mengganggu pelaksanaan PTS. Sebaliknya, momentum Hari Batik Nasional hadir secara sederhana melalui pakaian yang dikenakan para murid.Hal tersebut menunjukkan bahwa pengenalan budaya dapat dilakukan secara fleksibel dan terintegrasi dengan aktivitas sekolah tanpa harus mengurangi fokus utama peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.Dari Batik, Mengenal IndonesiaHari Batik Nasional di SD Integral Hidayatullah Depok menjadi pengingat bahwa pendidikan budaya dapat dimulai dari hal-hal sederhana.Satu pakaian batik dapat membawa cerita tentang sebuah daerah. Satu motif dapat menjadi bahan percakapan. Dan satu pengalaman mengenakan batik dapat menumbuhkan rasa ingin tahu seorang anak terhadap budaya bangsanya.Bagi para murid, mungkin hari itu hanya menjadi pengalaman mengenakan batik ke sekolah. Namun, dari pengalaman tersebut mereka dapat belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.Melalui pendidikan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, diharapkan tumbuh generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki rasa bangga terhadap identitas budaya dan mampu menghargai keberagaman yang ada di sekitarnya.Rep: Makhfudz/HD Media Editor: Tim Humas YPPH Depok
3 minggu yang lalu -
Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Keterampilan Hukum, Perkuat Bekal Calon Da’i dan Sarjana Ekonomi
Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Keterampilan Hukum, Perkuat Bekal Calon Da’i dan Sarjana EkonomiDepok — Memahami persoalan masyarakat tidak cukup hanya dengan bekal ilmu ekonomi dan kemampuan manajerial. Dalam kehidupan sosial dan dunia usaha, berbagai aktivitas juga memiliki keterkaitan erat dengan aspek hukum.Kesadaran inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam Pendidikan Paralegal bagi Mahasiswa STIE Hidayatullah Depok yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah pada 21–24 September 2026.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pemusatan Pengaderan (TC 40) Mahasiswa Calon Da’i dan Wisudawan STIE Hidayatullah Depok Tahun 2026. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual mengenai hukum, tetapi juga diperkenalkan dengan keterampilan dasar yang dapat menjadi bekal ketika berinteraksi dan mengabdi di tengah masyarakat.Membekali Mahasiswa dengan Literasi HukumPendidikan paralegal menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali berbagai persoalan hukum yang dapat muncul dalam kehidupan masyarakat.Direktur Utama LBH Hidayatullah, Syaefullah Hamid, S.H., M.H., menjadi salah satu pemateri utama pada hari pertama kegiatan. Materi yang diberikan mencakup sejumlah pembahasan dasar, di antaranya hukum pidana dan perdata, potensi kriminalisasi, bantuan hukum, serta peran lembaga bantuan hukum dalam membuka akses terhadap keadilan.Mahasiswa diperkenalkan pada karakteristik hukum pidana dan perdata serta cara awal mengidentifikasi persoalan berdasarkan jenis perkaranya. Pemahaman tersebut menjadi dasar penting sebelum seseorang mengambil langkah lebih jauh dalam menghadapi atau mendampingi persoalan hukum.Pembahasan juga diarahkan pada situasi ketika seseorang berhadapan dengan proses hukum, termasuk memahami potensi persoalan yang dapat muncul dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi.Memahami Hubungan Dunia Usaha dan Persoalan HukumSebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang ekonomi, peserta juga mendapatkan perspektif mengenai hubungan antara aktivitas usaha dengan aspek hukum.Materi “Pengusaha dan Ancaman Kriminalisasi” serta “Tindak Pidana dalam Bidang Ekonomi” memberikan gambaran mengenai irisan antara kegiatan usaha, transaksi ekonomi, dan risiko hukum yang menyertainya.Dalam praktiknya, aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri. Perjanjian kemitraan, perizinan usaha, pengelolaan aset, transaksi, hingga pembiayaan memiliki konsekuensi hukum yang perlu dipahami oleh pelaku usaha.Karena itu, literasi hukum menjadi salah satu bekal penting agar calon sarjana ekonomi tidak hanya mampu melihat peluang bisnis, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap kepatuhan dan mampu mengenali risiko yang mungkin muncul dalam kegiatan ekonomi.Pemahaman tersebut semakin penting ketika mahasiswa nantinya terjun langsung ke masyarakat. Mereka dapat berhadapan dengan berbagai persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial, administrasi, perjanjian, hingga persoalan hukum.Tidak Hanya Teori, Mahasiswa Belajar Keterampilan PraktisPendidikan Paralegal ini juga diarahkan pada keterampilan dasar yang bersifat praktis.Peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik wawancara klien, penyusunan kronologi kasus, pembuatan surat kuasa, hingga penyusunan somasi.Keterampilan tersebut memberikan pengalaman awal kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah persoalan dapat dikumpulkan informasinya secara sistematis.Kemampuan menyusun kronologi, misalnya, membantu mahasiswa memahami pentingnya informasi yang runtut ketika menghadapi suatu persoalan. Sementara keterampilan wawancara klien memberikan gambaran mengenai bagaimana menggali informasi dari seseorang yang sedang menghadapi masalah.Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada mengenal istilah-istilah hukum, tetapi mulai diarahkan pada kemampuan memahami persoalan secara lebih tertib dan sistematis.Paralegal sebagai Bekal Pengabdian kepada MasyarakatBagi mahasiswa calon da’i, pemahaman hukum memiliki relevansi yang lebih luas.Seorang da’i nantinya tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga dengan realitas kehidupan masyarakat yang beragam. Persoalan keluarga, ekonomi, usaha, hubungan sosial, maupun persoalan administrasi dapat hadir dalam kehidupan masyarakat.Karena itu, kemampuan mengenali persoalan dan memahami langkah awal yang tepat menjadi bagian dari kapasitas pengabdian.Pendidikan paralegal diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa agar ketika berada di tengah masyarakat, mereka mampu melihat persoalan secara lebih komprehensif dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.Bekal ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa membantu masyarakat membutuhkan pengetahuan, ketelitian, serta kemampuan mengarahkan persoalan kepada pihak yang memiliki kewenangan atau kompetensi yang sesuai.Mengintegrasikan Ilmu Ekonomi dan Literasi HukumKegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya integrasi antara kompetensi ekonomi dan literasi hukum.STIE Hidayatullah membekali mahasiswa dengan kompetensi di bidang ekonomi, namun dalam praktik kehidupan, seorang sarjana ekonomi juga akan berhadapan dengan berbagai aturan dan konsekuensi hukum.Pemahaman terhadap aspek hukum dapat membantu mahasiswa memiliki perspektif yang lebih utuh ketika membaca aktivitas bisnis dan persoalan ekonomi masyarakat.Dalam konteks yang lebih luas, integrasi antara keahlian manajerial dan literasi hukum diharapkan dapat melahirkan sumber daya manusia yang lebih adaptif, memiliki kesadaran terhadap kepatuhan, serta mampu melakukan mitigasi terhadap risiko yang muncul dalam aktivitas ekonomi.Mempersiapkan Calon Da’i yang Hadir Memberikan SolusiPendidikan Paralegal yang menjadi bagian dari TC 40 ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi tambahan pengetahuan bagi mahasiswa.Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas calon da’i dan calon lulusan STIE Hidayatullah agar memiliki bekal yang lebih luas sebelum terjun ke tengah masyarakat.Mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai pribadi yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu memahami realitas kehidupan masyarakat dan memberikan kontribusi sesuai kapasitas yang dimiliki.Dengan bekal ilmu ekonomi, kemampuan manajerial, literasi hukum, serta pembinaan sebagai calon da’i, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi bagian dari sumber daya manusia yang mampu memberikan manfaat di berbagai ruang kehidupan.Pendidikan seperti ini menjadi penting karena tantangan masyarakat terus berkembang. Persoalan ekonomi dapat bersinggungan dengan hukum, persoalan sosial dapat membutuhkan pemahaman yang tepat, dan aktivitas usaha membutuhkan kepatuhan agar dapat berjalan secara sehat.Melalui Pendidikan Paralegal, mahasiswa STIE Hidayatullah Depok mendapatkan tambahan bekal untuk memahami persinggungan tersebut secara lebih sistematis.Pada akhirnya, ilmu tidak hanya dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan akademik, tetapi juga menjadi bekal untuk hadir, memahami, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.Rep: Markom STIE, Makhfudz/HD Media
3 minggu yang lalu -
Hida Mineral Jalani Resertifikasi SNI, Perkuat Komitmen terhadap Mutu dan Kepercayaan Konsumen
Depok — Air Minum Hida Mineral kembali menjalani proses Resertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai bagian dari komitmen untuk menjaga mutu produk, memenuhi regulasi yang berlaku, sekaligus membangun kepercayaan konsumen.Proses resertifikasi tersebut dilaksanakan pada 25 September 2026 di Pabrik Hida Mineral, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, dengan melibatkan 12 peserta dari pihak terkait.Dalam prosesnya, penilaian dilakukan oleh LSPro AGS, lembaga sertifikasi produk yang melakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian produk dengan standar yang dipersyaratkan.Pemeriksaan Dilakukan Secara DetailProses resertifikasi SNI berlangsung secara ketat dengan pemeriksaan secara detail terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan pemenuhan standar.Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan Hida Mineral tetap menjalankan proses produksi sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku.Resertifikasi juga menjadi bentuk evaluasi sekaligus komitmen berkelanjutan agar kualitas dan pelayanan kepada konsumen tetap terjaga.Ikuti Regulasi PemerintahDirektur Ekonomi dan Bisnis, Ust. Gani Alfianto, M.M. menyampaikan bahwa pelaksanaan resertifikasi SNI merupakan bagian dari upaya Hida Mineral untuk terus mengikuti perkembangan regulasi pemerintah.“Alhamdulillah, Air Minum Hida telah melakukan kembali sertifikasi ulang SNI. Kita disertifikasi oleh LSPro AGS untuk mensertifikasi SNI ke yang terbaru. Air Mineral Hida mengikuti regulasi pemerintah, dalam hal ini perindustrian,” ungkapnya.Menurutnya, pemenuhan standar tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk Hida Mineral.“Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan dan pelayanan maksimal kepada konsumen. Makanya Air Minum Hida melakukan resertifikasi SNI,” imbuhnya.Menjaga Kepercayaan KonsumenResertifikasi SNI menjadi salah satu bentuk komitmen Hida Mineral dalam menjaga kepercayaan konsumen melalui pemenuhan standar dan regulasi yang berlaku.Bagi Hida Mineral, kualitas produk tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.Melalui proses resertifikasi ini, Hida Mineral terus berupaya menjaga standar produk sekaligus memastikan keberlangsungan pelayanan yang dapat memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi masyarakat.Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Hida Mineral Pondok Pesantren Hidayatullah Depok untuk terus berkembang, meningkatkan kualitas, dan menjalankan kegiatan usaha secara profesional dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
3 minggu yang lalu -
SD Integral Hidayatullah Depok Raih Juara 2 Depok Futsal League 2026
Depok — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SD Integral Hidayatullah Depok. Tim futsal sekolah tersebut berhasil meraih Juara 2 Depok Futsal League (DFL) 2026, setelah tampil hingga final dalam kompetisi futsal pelajar yang mempertemukan sekolah-sekolah dari Kota Depok dan sekitarnya.DFL 2026 berlangsung pada 21–27 September 2026 di GOR Kota Depok. Kompetisi ini diikuti 72 tim dari tiga jenjang pendidikan, yakni SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA sederajat. Khusus kategori SD/MI, terdapat 16 tim yang berkompetisi.SD Integral Hidayatullah Depok menjadi salah satu peserta kategori SD/MI dan tergabung di Grup C bersama SD IAS Al Jannah, SDN Lenteng Agung 03, dan SD Muhammadiyah Sawangan.Tampil Kompetitif hingga Partai FinalPerjalanan SD Integral Hidayatullah Depok dimulai dengan kemenangan 2–0 atas SD IAS Al Jannah pada laga pembuka Grup C, Senin (21/9/2026). Hasil tersebut menjadi modal positif bagi tim untuk melanjutkan persaingan di fase berikutnya.Kompetisi berlangsung dengan atmosfer yang meriah. Dukungan dari para pendamping dan penonton membuat pertandingan semakin hidup. Di lapangan, para pemain saling menyerang dan berusaha menciptakan peluang, sehingga pertandingan berjalan kompetitif, menegangkan, sekaligus tetap menjunjung sportivitas.DFL sendiri menggunakan sistem kompetisi yang mempertemukan tim dalam fase grup sebelum berlanjut ke babak gugur. Pada kategori SD/MI, setiap pertandingan berlangsung 2 x 10 menit, dengan peserta yang berasal dari siswa kelas 4–6 SD, MI, dan sederajat.Perjalanan SD Integral Hidayatullah akhirnya membawa tim sampai ke partai final yang digelar pada 27 September 2026. Dalam laga puncak tersebut, SD Integral Hidayatullah menghadapi SDN Lenteng Agung 03.Pertandingan berlangsung sengit hingga akhirnya SD Integral Hidayatullah harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 2–4. Hasil tersebut menempatkan SD Integral Hidayatullah sebagai Juara 2 DFL 2026 kategori SD/MI.Bukan Sekadar Mengejar GelarKepala SD Integral Hidayatullah Depok, Ust. Abdurrahman Hakim, M.Pd., mengapresiasi perjuangan para siswa yang telah memberikan kemampuan terbaik selama kompetisi.Menurutnya, keikutsertaan dalam kompetisi futsal menjadi bagian dari proses pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan olahraga, tetapi juga membentuk karakter siswa.“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas capaian anak-anak yang berhasil meraih Juara 2 di Depok Futsal League. Yang paling penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses yang mereka jalani. Mereka belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, sportivitas, dan bagaimana menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sikap yang baik,” ujarnya.Ia berharap prestasi tersebut menjadi motivasi bagi siswa untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki.“Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus berlatih dan berkembang. Kami juga berharap mereka memahami bahwa prestasi adalah buah dari proses, latihan, kekompakan, dan doa. Sekolah akan terus mendukung potensi siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik,” tambahnya.Coach: Anak-Anak Belajar Menghadapi Tekanan PertandinganSementara itu, Ust. Hamam, selaku coach sekaligus guru ekstrakurikuler futsal SD Integral Hidayatullah Depok, menilai perjalanan tim dalam DFL 2026 memberikan banyak pengalaman berharga bagi para pemain.Menurutnya, pertandingan yang kompetitif membuat siswa belajar bagaimana tetap fokus ketika menghadapi tekanan dan situasi pertandingan yang berubah dengan cepat.“Kesan saya tentu sangat bangga melihat perjuangan anak-anak. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga belajar bagaimana bekerja sebagai tim. Di pertandingan ada momen ketika kita unggul, tertekan, bahkan harus mengejar ketertinggalan. Dari situ anak-anak belajar tetap fokus, saling mendukung, dan tidak mudah menyerah,” ungkapnya.Ia juga menilai pengalaman bertanding melawan sekolah-sekolah lain menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.“DFL ini pengalaman yang sangat bagus untuk anak-anak. Mereka bisa merasakan atmosfer kompetisi yang serius, bertemu tim-tim lain, dan mengukur kemampuan mereka. Juara 2 tentu kita syukuri, tetapi yang lebih penting adalah pengalaman dan karakter yang terbentuk selama proses latihan sampai pertandingan,” jelasnya.Arkan: Tegang, Seru, dan Bangga Bisa Sampai FinalSalah satu pemain SD Integral Hidayatullah Depok, Arkan, siswa kelas 6, mengaku pertandingan DFL menjadi pengalaman yang sangat berkesan.Ia merasakan suasana pertandingan yang berbeda karena setiap tim sama-sama memberikan perlawanan dan berusaha mencetak gol.“Seru banget dan cukup tegang, apalagi waktu pertandingan sudah masuk babak akhir. Kami saling menyerang dan berusaha mencetak gol. Dukungan teman-teman juga membuat kami semakin semangat,” kata Arkan.Meski harus puas sebagai Juara 2, Arkan mengaku tetap bangga dengan perjuangan timnya.“Kami tentu ingin juara satu, tetapi kami tetap bersyukur bisa sampai final dan mendapat juara dua. Dari pertandingan ini saya belajar bahwa bermain futsal itu bukan cuma soal mencetak gol, tapi juga harus kompak, saling percaya, dan tetap sportif,” ujarnya.Prestasi yang Tumbuh dari ProsesDFL merupakan liga futsal pelajar tahunan yang mempertemukan sekolah-sekolah dari Kota Depok dan sekitarnya. Kompetisi ini diperuntukkan bagi tiga jenjang pendidikan dan diselenggarakan dengan standar semi-profesional, termasuk penggunaan wasit bersertifikat, verifikasi keabsahan pelajar, statistik pertandingan, serta siaran langsung melalui kanal resmi. Musim 2026 memperebutkan total hadiah pembinaan sebesar Rp50 juta serta Piala Bergilir King of Futsal Depok.Bagi SD Integral Hidayatullah Depok, capaian sebagai Juara 2 DFL 2026 menjadi bukti bahwa proses pembinaan olahraga di sekolah dapat berjalan beriringan dengan pendidikan karakter.Sebab, di balik pertandingan, gol, kemenangan, dan trofi, terdapat proses panjang yang mengajarkan anak-anak tentang disiplin, kerja sama, keberanian menghadapi tekanan, sportivitas, serta semangat untuk terus belajar dari setiap pertandingan.Prestasi tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan meraih prestasi melalui bidang yang mereka tekuni.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
3 minggu yang lalu -
Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Keterampilan Dasar Paralegal untuk Hadapi Persoalan Hukum Masyarakat
Depok — Mahasiswa STIE Hidayatullah Depok dibekali pengetahuan hukum dan keterampilan dasar paralegal melalui Pendidikan Paralegal yang diselenggarakan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah pada 21–24 September 2026.Kegiatan ini menjadi ruang literasi hukum yang penting dalam pembentukan kapasitas mahasiswa, khususnya bagi mereka yang kelak akan berinteraksi dan berkiprah langsung di tengah masyarakat.Pendidikan Paralegal tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pemusatan Pengaderan (TC 40) Mahasiswa Calon Da’i dan Wisudawan STIE Hidayatullah Depok Tahun 2026.Program tidak hanya diarahkan pada pemahaman konseptual mengenai hukum, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan awal untuk mengenali, mendokumentasikan, dan merespons persoalan hukum secara lebih tertib dan sistematis.Mengenal Dasar Hukum Pidana dan PerdataDirektur Utama LBH Hidayatullah, Syaefullah Hamid, S.H., M.H., menjadi salah satu pemateri utama pada hari pertama Pendidikan Paralegal.Materi yang disampaikan berangkat dari berbagai persoalan hukum yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari hukum pidana dan perdata, potensi kriminalisasi, bantuan hukum, hingga posisi lembaga bantuan hukum dalam sistem akses terhadap keadilan.Pada sesi tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan karakteristik dua ranah hukum, yakni pidana dan perdata, sekaligus bagaimana mengidentifikasi suatu persoalan berdasarkan jenis perkara yang dihadapi.Pemahaman terhadap kerangka dasar tersebut menjadi bagian penting sebelum seseorang memasuki tahapan pendampingan yang lebih teknis. Dengan mengenali jenis dan karakter persoalan sejak awal, mahasiswa diharapkan memiliki cara pandang yang lebih tertib ketika menghadapi permasalahan hukum di tengah masyarakat.Mengenali Potensi KriminalisasiPembahasan kemudian diperluas pada situasi ketika seseorang berhadapan dengan proses hukum dan menghadapi potensi kriminalisasi.Mahasiswa diarahkan untuk memahami suatu persoalan secara cermat, termasuk melihat konsekuensi hukum yang mungkin muncul dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi.Perspektif tersebut semakin relevan melalui materi “Pengusaha dan Ancaman Kriminalisasi” serta “Tindak Pidana dalam Bidang Ekonomi”.Melalui materi tersebut, peserta diperkenalkan pada irisan antara aktivitas usaha, transaksi ekonomi, dan berbagai risiko hukum yang dapat menyertainya.Bekal ini menjadi relevan bagi mahasiswa STIE Hidayatullah yang memiliki latar belakang keilmuan ekonomi dan bisnis. Pemahaman hukum diharapkan dapat membantu mahasiswa melihat persoalan ekonomi tidak hanya dari sisi aktivitas dan peluang usaha, tetapi juga dari aspek kepatuhan serta konsekuensi hukum.Dari Literasi Hukum Menuju Keterampilan PraktisPendidikan Paralegal kemudian diarahkan pada keterampilan dasar yang dapat digunakan ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat.Peserta mempelajari sejumlah teknik dasar, di antaranya wawancara klien, penyusunan kronologis kasus, pembuatan surat kuasa, hingga penyusunan somasi.Keterampilan tersebut memberikan pengalaman awal bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah persoalan hukum dikumpulkan informasinya, disusun secara kronologis, kemudian dituangkan dalam dokumen yang lebih sistematis.Dengan demikian, pendidikan ini tidak berhenti pada penguasaan istilah atau teori hukum, tetapi mulai memperkenalkan peserta pada proses kerja dasar seorang paralegal dalam memahami dan mendokumentasikan persoalan.Memperluas Kapasitas Pengabdian Calon Da’iPendidikan Paralegal menjadi bagian dari upaya memperluas kapasitas mahasiswa calon da’i dan calon lulusan STIE Hidayatullah Depok.Sebagai calon kader yang nantinya akan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, mahasiswa tidak hanya membutuhkan bekal keagamaan dan keilmuan sesuai bidang studinya, tetapi juga kemampuan membaca berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.Literasi hukum dan keterampilan dasar paralegal memberikan perspektif tambahan agar mahasiswa mampu memahami persoalan secara lebih sistematis, terutama ketika permasalahan masyarakat bersinggungan dengan aspek hukum dan ekonomi.Melalui rangkaian Pendidikan Paralegal ini, mahasiswa diharapkan memiliki bekal awal untuk mengenali persoalan, memahami posisi hukum suatu perkara, mendokumentasikan informasi secara tertib, serta mengetahui langkah dasar yang dapat dilakukan ketika masyarakat menghadapi persoalan hukum.Pada akhirnya, pendidikan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga kesiapan untuk hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.Rep: Markom STIE, Makhfudz/HD Media
1 bulan yang lalu -
Cetak Biru Manusia Sempurna: Lima Teladan Rasulullah untuk Menjawab Tantangan Kehidupan Modern
Depok — Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan hanya sosok yang dicintai umat Islam, tetapi juga teladan utama dalam menjalani kehidupan. Keteladanan beliau mencakup berbagai aspek, mulai dari menghadapi ujian, mengendalikan emosi, membangun hubungan sosial, memperlakukan keluarga, hingga memperkuat hubungan dengan Allah SWT.Pesan tersebut menjadi inti materi “Cetak Biru Manusia Sempurna: Menemukan Resiliensi, Kedamaian, dan Kekuatan Spiritual di Era Modern” dalam rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Materi ini ditujukan bagi guru, karyawan, wali murid, dan masyarakat, dengan mengajak peserta menjadikan Rasulullah SAW sebagai role model dalam kehidupan sehari-hari.Rasulullah SAW sebagai Role Model KehidupanMateri tersebut mengangkat QS. Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat suri teladan yang baik (uswah hasanah) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kehidupan akhirat serta banyak mengingat Allah.Karena itu, ketika manusia membutuhkan sosok yang dapat menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan, Rasulullah SAW merupakan teladan yang dapat dijadikan acuan. Materi tersebut menyebut Rasulullah SAW sebagai “cetak biru manusia paling sempurna”, yakni gambaran ideal yang dapat dijadikan rujukan dalam membentuk kualitas diri.Dari keteladanan tersebut, terdapat lima aspek utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu resiliensi, kendali amarah, kerukunan sosial, keluarga, dan kedekatan kepada Allah.1. Belajar Resiliensi dari Perjalanan Hidup RasulullahRasulullah SAW menghadapi berbagai ujian berat sepanjang perjalanan hidup dan dakwahnya. Beliau yatim sejak lahir, kehilangan ibunda di usia enam tahun, kemudian kehilangan kakek yang mengasuhnya. Dalam perjalanan dakwah, Rasulullah SAW juga menghadapi pemboikotan, kelaparan, pengusiran hingga perlakuan kasar.Salah satu ujian berat terjadi ketika dakwah ke Tha’if. Rasulullah SAW ditolak dan dilempari batu hingga mengalami luka.Namun, ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghimpit kaum Tha’if dengan dua gunung, Rasulullah SAW menolak. Beliau justru berharap dari keturunan mereka akan lahir generasi yang menyembah Allah SWT.Kisah tersebut menggambarkan daya tahan Rasulullah SAW dalam menghadapi tekanan. Bagi kehidupan hari ini, pesan yang dapat diambil adalah menghadapi tekanan dan ujian dengan kesabaran, bukan dengan keputusasaan.2. Kekuatan Sejati adalah Mampu Mengendalikan AmarahTeladan kedua adalah kemampuan Rasulullah SAW dalam mengendalikan diri dan menjaga lisan.Pesan sederhana Rasulullah SAW kepada seorang sahabat yang meminta wasiat adalah “Laa Taghdhab” — jangan marah. Pesan tersebut bahkan diulang beberapa kali. Dalam hadis lain dijelaskan bahwa orang kuat bukanlah semata-mata orang yang mampu mengalahkan lawannya secara fisik, melainkan orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.Materi juga mengangkat kisah seorang Badui yang menarik selendang Rasulullah SAW dengan kasar hingga meninggalkan bekas pada leher beliau. Rasulullah SAW tidak membalas dengan kemarahan, tetapi justru tersenyum dan memerintahkan sahabat untuk memberikan gandum kepadanya.Keteladanan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, maupun bermasyarakat. Kemampuan mengendalikan emosi menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan dengan sesama.3. Membangun Kerukunan SosialRasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap hubungan antarmanusia, khususnya dalam memuliakan tetangga dan sesama.Materi mengingatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umat untuk menyayangi yang muda dan menghormati yang lebih tua. Bahkan, besarnya perhatian terhadap hak tetangga digambarkan melalui pesan Malaikat Jibril yang terus-menerus disampaikan kepada Rasulullah SAW hingga beliau mengira tetangga akan mendapatkan bagian warisan.Karena itu, kehidupan sosial tidak cukup hanya dengan menjaga diri dari gangguan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan membangun hubungan yang baik dengan lingkungan.Salah satu praktik sederhana yang ditekankan adalah menjauhi hasad kepada tetangga. Ketika melihat tetangga mendapatkan nikmat, seorang Muslim dianjurkan menyambutnya dengan ucapan “Masyaallah, Tabarakallah.”4. Menjadi Pribadi Terbaik bagi KeluargaKeteladanan Rasulullah SAW juga terlihat jelas dalam kehidupan keluarga.Materi mengutip pesan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah SAW juga membantu pekerjaan rumah, menjahit pakaian yang sobek, memperbaiki sandal, serta memerah susu kambing. Ketika waktu shalat tiba, beliau kemudian keluar untuk menunaikan shalat.Hal tersebut menunjukkan bahwa keteladanan tidak hanya ditampilkan di ruang publik, tetapi justru dimulai dari rumah.Bahkan, kasih sayang Rasulullah SAW kepada keluarga juga tergambar dari cara beliau memanggil Aisyah RA dengan panggilan “Ya Humaira”, sebuah panggilan penuh kasih yang menunjukkan bahwa perhatian dan komunikasi sederhana dapat menjadi bagian dari cara merawat cinta di dalam keluarga.5. Memperkuat Kedekatan kepada AllahAspek terakhir adalah spiritualitas dan kedekatan kepada Allah SWT.Rasulullah SAW memberikan contoh luar biasa dalam ibadah. Salah satunya melalui shalat malam yang dilakukan dengan penuh kesungguhan. Aisyah RA meriwayatkan bahwa telapak kaki Rasulullah SAW sampai bengkak karena panjangnya shalat malam.Ketika Aisyah RA bertanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, padahal dosa beliau telah diampuni, Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”Pesan ini menjadi refleksi bagi manusia modern. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan dekat dengan teknologi, manusia sering memastikan perangkatnya selalu memiliki daya, tetapi lupa mengisi kembali energi spiritualnya.Materi tersebut memberikan refleksi sederhana: jika HP selalu di-charge hingga 100 persen, sudahkah hati kita di-charge melalui ibadah dan sepertiga malam?Dari Cinta kepada Rasulullah Menuju Praktik KehidupanMateri “Cetak Biru Manusia Sempurna” tidak berhenti pada kisah dan sejarah Rasulullah SAW, tetapi diarahkan pada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apa yang dapat kita praktikkan dari keteladanan Rasulullah SAW?Guru diajak menghadapi murid dengan kesabaran sebagaimana Rasulullah SAW menghadapi penolakan masyarakat Tha’if. Karyawan diajak menjaga lisan dan meredam amarah ketika tekanan pekerjaan meningkat. Orang tua diajak menjadi pribadi terbaik bagi keluarganya. Sementara masyarakat diajak memuliakan tetangga, menjauhi hasad, dan kembali merajut silaturahmi.Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbarui komitmen dalam mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau.Cinta kepada Rasulullah SAW yang telah melintasi jarak dan waktu perlu diwujudkan dalam perilaku nyata: lebih sabar ketika menghadapi ujian, lebih mampu mengendalikan amarah, lebih baik kepada sesama, lebih hangat kepada keluarga, dan semakin dekat kepada Allah SWT.Semoga kecintaan kepada Rasulullah SAW terus tumbuh dan mengantarkan umat untuk menjadi pribadi yang mampu menghadirkan kedamaian, memiliki ketahanan menghadapi kehidupan, serta kuat secara spiritual di tengah tantangan zaman.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
Maulid Nabi di Hidayatullah Depok, Jamaah Rumah Qur’an An-Najm Diajak Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan Kehidupan
Depok — Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus mempererat silaturahmi antara Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dengan masyarakat sekitar.Hal tersebut tergambar dalam kegiatan Silaturahmi sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar bersama jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad (20/9/2026).Bertempat di Aula Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok, kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Sekitar 300 peserta hadir, terdiri dari para asatidz, mitra juang YPPH Depok, serta jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm.Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan hadrah, dilanjutkan pembacaan Surah Al-Baqarah dan Surah Yasin, kemudian tausiyah dan penguatan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.Maulid sebagai Momentum Memperkuat Cinta kepada RasulullahKetua Departemen Dakwah YPPH Depok, Ust. Abdul Rohim, M.M., menyampaikan rasa syukur sekaligus ucapan selamat datang kepada seluruh jamaah yang hadir di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.“Alhamdulillah, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta di kampus kami di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Alhamdulillah hari ini kita melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meskipun bulannya sudah lewat, tetapi ini tetap kita laksanakan sebagai bukti bahwa kita mencintai Rasulullah SAW,” ungkapnya.Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar.“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang biasa diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok sebagai sarana menjalin silaturahmi dengan warga sekitar, dan jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm sebagai salah satu binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok,” tuturnya.Ust. Abdul Rohim juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan, khususnya para jamaah dan donatur yang memberikan dukungan.“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini, para ibu-ibu jamaah yang sangat semangat dan telah berjibaku, serta seluruh pihak dan para donatur yang telah memberikan support baik secara moril maupun materil,” imbuhnya.Rasulullah SAW, Cetak Biru Manusia SempurnaHadir sebagai pemateri, Ust. Dr. Mudzakkir Usman, PhD., Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, mengajak jamaah untuk tidak menjadikan Maulid Nabi sebatas kegiatan seremonial.Dalam paparannya bertajuk “Cetak Biru Manusia Sempurna: Menemukan Resiliensi, Kedamaian, dan Kekuatan Spiritual di Era Modern”, beliau mengajak peserta melihat kehidupan Rasulullah SAW sebagai teladan yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan saat ini.Materi tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan role model dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan merujuk pada QS. Al-Ahzab ayat 21, Rasulullah SAW ditempatkan sebagai uswah hasanah, sehingga keteladanan beliau dapat menjadi rujukan dalam membangun kualitas pribadi, keluarga, dan kehidupan bermasyarakat.Ust. Mudzakkir kemudian menguraikan lima teladan utama Rasulullah SAW yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu resiliensi atau daya tahan menghadapi ujian, kemampuan mengendalikan amarah, membangun kerukunan sosial, menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, serta memperkuat kedekatan kepada Allah SWT.Belajar Tangguh dari Rasulullah SAWSalah satu pesan penting yang disampaikan adalah tentang ketangguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.Rasulullah SAW mengalami berbagai ujian berat sejak masa kanak-kanak hingga perjalanan dakwahnya. Beliau pernah mengalami kehilangan orang-orang yang dicintai, tekanan, pemboikotan, bahkan penolakan dan kekerasan dalam dakwah.Namun, ketika menghadapi penolakan masyarakat Tha'if, Rasulullah SAW tidak memilih membalas dengan keburukan. Beliau justru berharap agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah SWT. Kisah tersebut menjadi gambaran tentang keteguhan, kesabaran, dan keluasan hati seorang Rasul.Pesan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat modern agar setiap tekanan kehidupan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan, dan tetap menjaga orientasi kepada Allah SWT.Kuat Bukan Berarti Tidak Pernah MarahTeladan berikutnya adalah kemampuan Rasulullah SAW dalam mengendalikan amarah dan menjaga lisan.Dalam materi disebutkan pesan Rasulullah SAW, “Laa Taghdhab” atau “Jangan marah.” Kekuatan seseorang bukan semata-mata diukur dari kemampuan fisiknya, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika berada dalam kondisi marah.Pesan ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga maupun lingkungan sosial, membutuhkan kemampuan mengelola emosi agar hubungan tetap terjaga.Menjadi Pribadi yang Menghadirkan Rasa AmanDalam kehidupan bermasyarakat, Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam memuliakan tetangga dan menjaga hubungan sosial.Materi kajian mengingatkan pentingnya menyayangi yang muda, menghormati yang lebih tua, serta memastikan orang-orang di sekitar merasa aman dari gangguan kita.Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk menjauhi hasad dan membangun kembali silaturahmi di tengah masyarakat.Keteladanan Rasulullah Dimulai dari RumahUst. Mudzakkir juga mengajak jamaah melihat bagaimana Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam kehidupan keluarga.Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang memberikan perhatian kepada keluarganya. Dalam materi kajian disebutkan bahwa beliau membantu pekerjaan rumah, memperbaiki keperluan pribadi, serta menunjukkan kasih sayang kepada keluarga.Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keteladanan Nabi tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial dan dakwah, tetapi juga dalam interaksi sederhana bersama keluarga.Mengisi Kembali Ruhiyah di Tengah KesibukanTeladan terakhir yang ditekankan adalah kedekatan kepada Allah SWT.Rasulullah SAW memberikan contoh dalam kesungguhan beribadah, termasuk shalat malam. Dalam materi kajian, Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga telapak kakinya mengalami pembengkakan. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah SAW menjawab dengan semangat syukur kepada Allah.Pesan ini kemudian dikaitkan dengan kehidupan manusia modern yang begitu dekat dengan teknologi. Sebagaimana perangkat selalu diisi ulang agar tetap memiliki daya, hati manusia juga membutuhkan penguatan melalui ibadah dan kedekatan kepada Allah SWT.Dari Maulid Menuju Perubahan NyataMelalui kajian tersebut, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kecintaan secara lisan, tetapi melahirkan perubahan dalam perilaku sehari-hari.Guru diajak meneladani kesabaran Rasulullah SAW dalam menghadapi peserta didik, karyawan menjaga lisan dan mengendalikan amarah ketika menghadapi tekanan pekerjaan, orang tua menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, serta masyarakat menjaga hubungan baik dengan tetangga dan mempererat silaturahmi.Dengan demikian, Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana keteladanan Rasulullah SAW hadir dalam kehidupan kita?Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar kecintaan kepada Rasulullah SAW semakin tumbuh, sekaligus menjadi jalan bagi seluruh jamaah untuk semakin dekat kepada Allah SWT dan istiqamah mengikuti sunnah beliau.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
Bukan Sekadar Kuliah, STIE Hidayatullah Bangun Ekosistem Pendidikan yang Berdampak
Depok — Pendidikan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan dengan ijazah dan kemampuan akademik. Lebih dari itu, pendidikan diharapkan mampu membentuk manusia yang memiliki integritas, karakter, keterampilan profesional, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Semangat inilah yang terus dikembangkan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah melalui pembangunan ekosistem pendidikan tinggi yang mengintegrasikan pendidikan akademik, pembinaan nilai, pengembangan keterampilan, kehidupan berasrama, hingga pengabdian kepada masyarakat.Hal tersebut tercermin dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 yang tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru, tetapi menjadi pintu masuk untuk mengenalkan budaya akademik dan visi pendidikan STIE Hidayatullah.Mengusung tema “Mewujudkan Kampus Berdampak Menuju Peradaban Islam yang Berkemajuan”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar kampus dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu memahami tanggung jawab keilmuan sekaligus memiliki orientasi kebermanfaatan.Kampus Bukan Sekadar Tempat Mendapatkan IjazahSTIE Hidayatullah memandang mahasiswa bukan sekadar konsumen pendidikan. Sejak awal masa perkuliahan, mahasiswa diarahkan untuk menjadi bagian dari sivitas akademika yang mampu belajar secara mandiri, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, serta menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat.Konsep tersebut dibangun melalui pemahaman terhadap Tridarma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu yang diperoleh mahasiswa diharapkan dapat diterjemahkan menjadi karya, solusi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.Boarding School, Belajar Tidak Berhenti di Ruang KelasSalah satu kekuatan yang dikembangkan STIE Hidayatullah adalah model pendidikan mahasiswa berasrama atau student housing.Program ini tidak sekadar menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa. Kehidupan asrama menjadi bagian dari proses pendidikan yang memadukan pembinaan nilai, kedisiplinan, spiritualitas, keterampilan profesional, hingga kesiapan memasuki dunia kerja.Mahasiswa menjalani proses pembinaan dalam kehidupan sehari-hari sehingga nilai-nilai yang dipelajari tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam keseharian.Model pendidikan seperti ini membuat ruang belajar menjadi lebih luas. Kampus menjadi tempat menimba ilmu, sementara asrama menjadi ruang untuk melatih karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kemampuan berinteraksi.Bahkan, bagi mahasiswa program boarding, pembinaan dirancang secara intensif selama enam bulan, mulai 3 Agustus 2026 hingga 30 Januari 2027.Membuka Akses Pendidikan bagi Generasi PotensialEkosistem pendidikan yang dibangun STIE Hidayatullah juga diarahkan untuk membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa potensial yang menghadapi keterbatasan ekonomi.Pada April 2026, STIE Hidayatullah bersama DPW Hidayatullah Jawa Barat menyepakati program beasiswa pendidikan tinggi dengan skema 20 mahasiswa melalui program asrama.Program tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjadikan pendidikan tinggi sebagai instrumen mobilitas sosial. Pendidikan tidak hanya menjadi sarana peningkatan kompetensi, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan memutus keterbatasan ekonomi antargenerasi. (STIE Hidayatullah)Dari Kampus untuk MasyarakatOrientasi pendidikan STIE Hidayatullah pada akhirnya diarahkan pada satu tujuan penting: kebermanfaatan.Pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik. Ia juga harus melahirkan pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, serta siap mengembalikan manfaat ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat.Karena itu, pendidikan, kehidupan asrama, dan Tridarma Perguruan Tinggi dipandang sebagai satu kesatuan dalam membangun ekosistem pendidikan yang berdampak.Semangat tersebut sejalan dengan visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan, dengan menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan dan profesional, tetapi juga memiliki nilai, karakter, dan orientasi pengabdian.Dengan ekosistem tersebut, STIE Hidayatullah terus berikhtiar menjadikan kampus bukan sekadar tempat kuliah, asrama bukan sekadar tempat tinggal, dan ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi semuanya menjadi bagian dari proses melahirkan generasi yang mampu berilmu, berkarakter, mandiri, dan memberikan manfaat bagi umat serta masyarakat luas.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
DPRD Mengabdi, Hj. Elly Farida Bekali Santri YPPH Depok dengan Pendidikan Demokrasi
DEPOK, Hidayatullah Depok — Pendidikan demokrasi tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang pemerintahan. Nilai-nilai demokrasi justru dapat ditanamkan sejak dini melalui lingkungan pendidikan, kehidupan berasrama, hingga aktivitas sehari-hari.Semangat itulah yang hadir dalam kegiatan “DPRD Mengabdi dalam Pendidikan Demokrasi Tahun Anggaran 2026” bersama Hj. Elly Farida, S.Pd., Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Bidang Kesejahteraan Rakyat, yang digelar di Aula Abdullah Said, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jumat (21/8/2026).Kegiatan tersebut diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri dari murid MA Hidayatullah Putra dan Putri serta mahasiswi STIE Hidayatullah Depok.Berbeda dengan pembelajaran demokrasi yang hanya berbicara mengenai sistem pemerintahan dan politik, kegiatan ini mengajak peserta melihat demokrasi dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Mulai dari bagaimana menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, bermusyawarah, mengambil keputusan bersama, hingga menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari sebuah kelompok.Suasana kegiatan berlangsung penuh antusias. Peserta tidak hanya menyimak materi yang disampaikan, tetapi juga aktif menjawab pertanyaan pemateri dan mengajukan berbagai pertanyaan. Interaksi dua arah membuat pembahasan demokrasi terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta sebagai pelajar dan mahasiswa.Hj. Elly Farida, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin bersama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berkolaborasi dengan pihak Hidayatullah dalam rangka kegiatan DPRD Mengabdi dalam Pendidikan Demokrasi.”Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme para peserta. Menurutnya, pendidikan demokrasi penting diberikan kepada generasi muda karena mereka merupakan calon pemimpin yang akan menentukan arah masa depan bangsa.“Alhamdulillah, antusias dari anak-anak sangat luar biasa sekali. Kami menginginkan anak-anak tumbuh sesuai harapan kita karena mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan.”Demokrasi Dimulai dari Lingkungan TerdekatBagi peserta, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru bahwa demokrasi ternyata tidak hanya berbicara tentang pemilu, pemerintahan, atau lembaga negara.Hal itu dirasakan Fuad, salah satu peserta dari MA Hidayatullah. Ia mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai bagaimana demokrasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.“Alhamdulillah, kegiatan ini sangat bagus sekali. Saya jadi lebih tahu ternyata demokrasi itu bukan hanya ada di pemerintahan saja, tapi juga ada di sekitar kita seperti di sekolah dalam pemilihan OSIS, dalam kerja kelompok, dan lain-lain.”Ia juga mengapresiasi cara penyampaian materi yang interaktif sehingga lebih mudah dipahami oleh peserta.“Pemateri dan materi yang disampaikan juga alhamdulillah bagus, penyampaiannya mudah dipahami sehingga mudah dimengerti.”Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara lembaga legislatif dan dunia pendidikan dalam memberikan wawasan kebangsaan kepada generasi muda.Di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan hidup bersama. Karena itu, pengenalan nilai-nilai demokrasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu berkontribusi di tengah masyarakat.Dari ruang kelas, organisasi pelajar, kerja kelompok hingga kehidupan pesantren, peserta belajar bahwa demokrasi bukan sekadar teori. Ia adalah sikap untuk mau mendengar, berani menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, bermusyawarah, dan siap bertanggung jawab atas keputusan yang diambil bersama.Sebab, calon pemimpin masa depan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk memimpin, tetapi juga membutuhkan karakter untuk mendengar dan menghargai orang lain.Rep: Makhfudz/HD Media Editor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu