Kisah Inspiratif Ridho Annajmi: Anak Sarjana Asal Riau yang Raih Gelar Sarjana Pertama di Keluarga Lewat STIE Hidayatullah
hidayatullahdepok.org — Suasana haru dan penuh emosional mewarnai gelaran Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-XIV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok. Di tengah kebahagiaan prosesi tersebut, sorotan tertuju pada Ridho Annajmi, perwakilan wisudawan yang dipercaya menyampaikan pidato kesan dan pesan alumni di atas mimbar.
Pemuda asal pelosok Rokan Hilir, Provinsi Riau, ini membagikan kisah perjuangan hidupnya yang luar biasa. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari enam bersaudara, ia mencatatkan sejarah membanggakan sebagai orang pertama di keluarganya yang berhasil merengkuh gelar sarjana. Kehadirannya di panggung wisuda bukan sekadar merayakan kemenangan akademis, melainkan menjadi lambang keteguhan di tengah keterbatasan.
Perjalanan Ridho menuju gerbang perguruan tinggi tidaklah berjalan mulus. Terlahir dari keluarga sederhana, ia bertekad bulat merantau jauh ke Pulau Jawa demi mengejar asa mengenyam pendidikan tinggi guna membahagiakan kedua orang tuanya.
Namun, ujian berat sempat menghantam asa tersebut ketika ia menjadi korban penipuan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan modus tawaran beasiswa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan di tanah perantauan, jalan hidupnya perlahan menemukan titik terang saat ia mendapatkan informasi mengenai program beasiswa berasrama di STIE Hidayatullah Depok. Kampus Islam tersebut akhirnya menjadi tempat baginya menyambung kembali asa yang sempat runtuh, sekaligus menempa karakter kepemimpinan dan kemandirian.
Ujian terberat kemandirian itu kembali diuji menjelang detik-detik kelulusannya. Dua bulan sebelum hari wisudanya tiba, sang ayah tercinta berpulang ke rahmatullah. Kehilangan sosok sandaran hidup di saat-saat paling krusial menjadi pukulan batin yang mendalam baginya.
Dengan suara bergetar dan tetesan air mata yang tak terbendung di hadapan ratusan hadirin, Ridho menyampaikan salam baktinya yang menggetarkan hati. “Ayah, terima kasih. Anakmu sudah sampai,” ucapnya mengenang sang ayahanda tercinta.
Ia meyakini bahwa setiap tetes keringat, tetesan peluh, dan doa tulus yang dipanjatkan oleh almarhum ayahnya tidak pernah sia-sia, meski perayaan kemenangan akademis kali ini harus dilalui dalam keheningan doa tanpa kehadiran fisik sang ayah.
Mengakhiri pidatonya yang sarat makna, Ridho berpesan kepada rekan-rekan sesama wisudawan agar senantiasa merawat semangat belajar, mempererat silaturahmi, serta menjadi insan yang berpikir kritis dan solutif di tengah masyarakat. Ia juga mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua selagi mereka masih ada, seraya menegaskan bahwa gelar sarjana yang disandang membawa mandat besar untuk menebar manfaat seluas-luasnya bagi umat dan bangsa.
Markom STIE/Makhfudz