Wisuda XIV STIE Hidayatullah Depok: Pendidikan Holistik Berbasis Tauhid Kunci Utama Hadapi Disrupsi Era AI
hidayatullahdepok.org — Gelaran Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-XIV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok menjadi momentum penting dalam mempertegas arah pendidikan tinggi Islam di tengah gempuran teknologi modern. Dalam forum ilmiah tersebut, penguatan pendidikan holistik dan peningkatan daya saing lulusan berbasis tauhid diangkat sebagai isu sentral dalam menghadapi tantangan era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Gagasan strategis itu disampaikan oleh Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muzakkir, M.Ed., Ph.D., saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Pendidikan Holistik Berbasis Tauhid: Transformasi Generasi Berintegritas dan Berdaya Saing di Era Kecerdasan Buatan” di hadapan para wisudawan, senat, dan tamu undangan di Harris Hotel Cibinong, Ahad (25/10/2026).
Mengawali orasinya, Muzakkir mengajak hadirin merefleksikan makna etimologis dari kata kesarjanaan yang berakar dari bahasa Sanskerta, sajjana, yang berarti sosok bijaksana dan berbudi luhur. Nilai filosofis ini, menurutnya, kini mengalami ujian berat di tengah dinamika zaman yang diwarnai tantangan sosial ekonomi serta krisis moral bangsa. Ia menyinggung realitas kemiskinan struktural Indonesia yang merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026 masih berada di angka 22,93 juta jiwa.
Kondisi himpitan ekonomi tersebut kian memprihatinkan ketika dihadapkan pada pergeseran moral generasi muda yang kerap menempuh cara-cara instan demi mencapai keberhasilan finansial. Berbagai persoalan kontemporer seperti penyimpangan finansial korporasi, maraknya praktik judi online, terjerat pinjaman online ilegal, hingga kejahatan berbasis kecerdasan buatan disoroti Muzakkir sebagai bentuk ancaman nyata bagi keberlangsungan peradaban.
Lebih jauh, ia mengutip laporan Forum Ekonomi Dunia yang memperkirakan disrupsi teknologi AI bakal mendisrupsi puluhan juta lapangan kerja secara global hingga tahun 2030. Perkembangan teknologi canggih ini dinilai berpotensi memperparah daya rusak sosial apabila dioperasikan tanpa kendali moral dan etika yang kuat.
Menjelaskan akar masalah tersebut, Muzakkir menilai kerentanan moral yang terjadi saat ini merupakan buah dari kegagalan epistemologis sistem pendidikan sekuler. Model pendidikan modern yang mengagungkan taksonomi kognitif secara mekanistik dinilai hanya fokus pada penguasaan Higher Order Thinking Skills (HOTS), namun abai membekali peserta didik dengan kompas spiritual. Akibatnya, lembaga pendidikan terancam bergeser fungsi hanya sebagai pabrik pencetak kecerdasan teknis analitis yang steril dari nilai integritas moral.
Sebagai solusi atas problematika tersebut, Muzakkir menawarkan rekonstruksi epistemologi pendidikan yang digali dari surah Al-Alaq ayat pertama. Konsep Iqra’ diartikan sebagai dorongan kuat untuk melakukan riset, eksplorasi nalar, dan penguasaan sains, sedangkan frasa Bismirabbik menjadi pengikat agar seluruh aktivitas keilmuan tetap berada dalam koridor nilai tauhid. Pendekatan ini memastikan bahwa sains dan teknologi yang dikuasai tidak bersifat bebas nilai, melainkan berorientasi pada pengabdian kepada Sang Creator.
Formulasi pendidikan holistik tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam lima domain utama: keimanan, pengetahuan, nilai, keterampilan, dan sosial kemasyarakatan. Kolaborasi tiga domain awal diproyeksikan membentuk karakter Abdullah yang memiliki keteguhan integritas spiritual. Sementara kombinasi domain keterampilan dan kemasyarakatan mencetak kapasitas Khalifatullah yang adaptif, solutif, serta memiliki daya saing global. Sinergi kelima domain ini bermuara pada lahirnya sosok Insan Rabbani yang menguasai keilmuan secara mendalam sekaligus peka terhadap kebutuhan masyarakat.
Secara khusus bagi para wisudawan STIE Hidayatullah Depok, Muzakkir berpesan agar mereka tampil sebagai Ekonom Rabbani yang konsisten mengamalkan lima prinsip ekonomi syariah. Prinsip itu mencakup pemaknaan harta sebagai amanah, optimalisasi ekosistem keuangan sosial digital seperti ZISWAF, penolakan tegas terhadap praktik riba dan gharar, skema bagi hasil yang adil, serta komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Ia memungkasi orasinya dengan memberikan suntikan semangat kepada para sarjana baru agar tidak sekadar menjadi penonton di era digital. Para lulusan didorong menjadi pelopor peradaban yang piawai memanfaatkan teknologi AI dan membaca dinamika pasar, tanpa sedikit pun kehilangan ketajaman nurani dalam memperjuangkan kemaslahatan umat dan bangsa.
*Markom STIE/Makhfudz